Hari ini, kembali kujalani hari-hari seperti hari sebelumnya, dengan langkah enggan yang menapak secara paksa pada pijakan
Langit di atas kepala menggantung abu-abu, seolah tahu isi hatiku. Jalan menuju sekolah kini terasa lamban dan berat. Orang-orang berlalu-lalang, kendaraan saling berlalu, namun pikiranku hanya diisi satu suara: ingin lenyap
Tidak ada yang berubah dari diriku. Yang berubah hanyalah rasa-rasa yang tak mampu dijelaskan. Hampa, kosong, semua bercampur menjadi satu kesatuan. Rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan menggerogoti diriku dari dalam
Aku duduk di kelas, menopang wajahku dengan kedua tangan, mendengar suara guru mengajar tanpa mengerti apa yang dikatakannya. Bahkan suara detak jantungku terdengar lebih jelas daripada suara manusia
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi satu hal yang kuyakini, hatiku: tidak bisa merasakan apapun
Aku mencoba menjalaninya seperti biasa. Menyapa teman, tersenyum, aku menanggapi gurauan, tapi di dalam hati... kosong. Benar-benar kosong. Seakan ada sesuatu yang hilang, tapi aku tidak tahu apa. Seolah hatiku menutup rapat, membangun tembok tinggi karena terlalu sering roboh. Dan kini, tembok itu enggan tuk terbuka kembali
Sudah banyak cara aku coba. Olahraga, katanya bisa membantu—melepas endorfin. Tapi yang kurasa hanya detak jantung yang cepat dan tubuh pegal. Berkomunikasi? Aku berbicara, tapi bukan dari hati. Aktif belajar? Aku kesulitan fokus. Mengalihkan pikiran-pikiran negatif? Pikiran tersebut malah kembali menari-nari dalam pikiran. Berdoa? Sudah, bahkan sambil terisak. Tapi tetap saja... hatiku tak berubah
Mungkin... seperti ini lebih baik. Tak merasakan apa-apa berarti tak perlu terluka. Tapi rasa tidak sakit pun ternyata menyiksa. Seperti mati rasa, namun tahu bahwa seharusnya ada sesuatu yang bisa terasa. Aku hanya ingin hidup normal. Apa salahnya?
Malam terasa menegangkan, seolah waktu berjalan dengan lambat. Esok sudah sekolah lagi, dan pikiranku semakin kacau dalam gelap
_"Bagaimana jika aku bertemu orang lain?"_
_"Bagaimana aku harus bersikap?"_
Pertanyaan itu berulang-ulang mengisi kepalaku. Dadaku mulai sesak. Air mata menetes tanpa aba-aba. Aku meringkuk memeluk selimut, berharap waktu berhenti. Tapi waktu tak pernah peduli. Esok akan datang, meskipun aku tidak menginginkannya
Lalu... ada satu kata yang terus tergiang-giang dalam pikiranku
*Keluarga*
Sebuah kata yang begitu umum, begitu sering terdengar. Orang-orang bilang, keluarga adalah tempat paling aman. Tempat berpulang. Tapi, benarkah demikian?
Bagaimana jika justru keluarga adalah alasan mengapa seorang anak menjadi hancur?
Mereka bilang, “Orang tua selalu mengerti anaknya." Tapi bagaimana dengan mereka yang tak pernah mau mendengarkan? Yang hanya tahu memerintah, menuntut, dan menciptakan luka? Anak-anak yang terkurung dalam harapan palsu orang tuanya. Anak-anak yang tidak diberi ruang menjadi diri sendiri, anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya
Bagaimana dengan mereka yang tidak pernah dipeluk saat takut? Yang tangisannya dianggap manja, ketakutannya dianggap lemah, dan suaranya tak pernah didengar?
Aku lelah berpura-pura kuat. Lelah mencoba menjadi anak yang baik, sempurna, penurut. Padahal, jauh di dalam lubuk hatiku... aku hanya ingin dimengerti
Aku pernah sebegitunya ingin keluargaku seperti keluarga orang lain. Tapi tidak lagi. Keluarga, bagi sebagian orang, mungkin tempat yang hangat. Tapi bagiku... itu bagaikan penjara dengan jeruji yang tak terlihat. Lucu ya? Padahal keluarga adalah tempat yang paling nyaman, namun nyatanya aku terus menghindari hal tersebut
Dan saat aku tertidur, dengan tubuh yang letih dan hati yang remuk, pikiranku kembali diseret oleh mimpi. Tapi bukan mimpi yang menenangkan. Justru sebaliknya, mimpi yang seperti potongan kenangan, dipaksa diputar ulang dan dilanjutkan
Sejujurnya, aku tidur semata-mata untuk menghindari realita yang pahit. Namun, rupanya alam bawah sadarku kembali mengingatkanku dengan cara yang paling menyakitkan, yaitu melalui mimpi
Aku mulai tak bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Semuanya terasa nyata. Perasaan takut, sedih, marah, semuanya kembali muncul dalam tidurku. Namun, saat terbangun... aku kembali mati rasa
Tubuhku terus-menerus ingin terlelap, karena dunia mimpi terasa lebih masuk akal daripada kenyataan. Yang nyatanya membosankan, bahkan menyakitkan tuk dijalani. Namun, apa yang kudapat? Hanya mimpi buruk yang mengacaukan ingatanku
Aku hidup, tapi rasanya seperti tidak benar-benar hidup...
Namun, di antara pergumulan pikiran, aku diam-diam masih berharap. Mungkin bukan untuk sembuh total, bukan untuk kembali seperti dulu. Tapi untuk... bisa bernapas tanpa beban. Untuk bisa melihat langit tanpa merasa sesak. Untuk bisa berkata “Aku baik-baik saja” dan benar-benar merasa demikian, bukan hanya bualan semata
Mungkin suatu hari, aku akan menemui Sang Pencipta. Kuharap di sana, aku akan menemukan damai yang tak bisa kudapat di sini
Tapi hari itu belum datang. Hari ini aku masih di sini. Masih tetap bernapas, masih menulis, dan menanti hari esok, meski dengan hati yang penuh luka. Dan entah bagaimana... itu saja cukup untuk sekarang
Langit abu-abu masih sama. Tapi setidaknya, aku masih melihatnya