Kami sudah bersahabat terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Aku dan Arga bertemu sejak kuliah semester awal. Duduk bersebelahan di bangku belakang, berbagi catatan, lalu berbagi rahasia, lalu… tanpa sadar, berbagi kesepian.
Kami tahu hampir segalanya tentang satu sama lain.
Tentang mantan-mantanku yang selalu pergi diam-diam.
Tentang ibunya yang sakit bertahun-tahun.
Tentang malam-malam panjang ketika dunia terasa terlalu sunyi.
Tapi kami sepakat satu hal:
Kami hanya sahabat.
Setidaknya, begitu yang selalu kami ucapkan.
Malam itu hujan turun deras.
Aku datang ke apartemennya hanya untuk meminjam charger.
Alasan yang buruk.
Tapi aku tetap datang.
Kami duduk berhadapan di sofa kecil, hanya lampu temaram yang menyala. Bau kopi hangat bercampur aroma hujan yang masuk lewat jendela terbuka.
“Capek?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
Ia mendekat, tanpa sadar atau pura-pura tak sadar.
Jarak di antara kami menipis… sampai aku bisa merasakan hangat napasnya di leherku.
“Sejak kapan kita sedekat ini?” bisikku, lebih pada diri sendiri.
Ia tak menjawab.
Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu menyentuh rambutku—perlahan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.
Sentuhan itu sederhana.
Tapi tubuhku bereaksi lebih cepat dari pikiranku.
Aku menoleh. Mata kami bertemu.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, kami tidak berpura-pura.
Bibirnya menyentuh bibirku—pelan, ragu, seolah bertanya izin.
Aku menjawab dengan diam, tapi mendekat.
Ciuman itu tidak liar.
Tidak tergesa.
Hanya hangat… dan penuh perasaan yang terlalu lama kami kubur.
Tangannya melingkar di pinggangku, menarikku lebih dekat.
Jantungku berdetak keras, seakan takut terdengar.
“Aku takut merusak persahabatan kita,” katanya di sela napas.
Aku tersenyum pahit.
“Mungkin… kita sudah merusaknya sejak lama. Kita hanya pura-pura tidak sadar.”
Kami berbaring di sofa sempit itu, tubuh saling mencari kehangatan.
Tidak ada yang terburu-buru.
Hanya belaian, ciuman, napas yang saling bercampur.
Malam itu, kami tidak hanya berbagi tubuh.
Kami berbagi perasaan yang selama ini kami simpan rapi.
Paginya, aku bangun sendirian.
Selimut terlipat rapi.
Cangkir kopi masih hangat di meja.
Dan selembar kertas kecil.
Tulisan tangan Arga.
“Terima kasih sudah percaya padaku semalam.
Aku pergi bukan karena menyesal.
Aku pergi karena takut… setelah ini, kita tak bisa kembali menjadi ‘kita’ yang dulu.”
Aku duduk lama, menatap pintu.
Menyadari satu hal yang terlambat:
Kadang, hubungan paling berbahaya bukan cinta…
melainkan persahabatan yang terlalu lama menahan rasa.
Dan pertanyaannya kini hanya satu:
Apakah kehilangan sahabat…
lebih menyakitkan daripada kehilangan kesempatan mencintainya?