Setiap jam istirahat, aku selalu duduk di bangku kayu ujung koridor lantai dua. Bangku itu menghadap jendela panjang yang kacanya retak di satu sudut—retak yang bentuknya mirip petir kecil. Di sanalah aku biasa menunggu Raka.
Raka selalu datang terlambat lima menit.
“Maaf,” katanya setiap kali, sambil tersenyum seolah kata itu punya makna khusus.
Aku tak pernah menanyakan alasannya. Persahabatan kami memang dibangun dari hal-hal yang tak perlu ditanya.
Kami bersahabat sejak kelas sepuluh. Tanpa perkenalan resmi, tanpa perjanjian. Suatu hari aku duduk sendirian, ia datang, lalu sejak itu kami selalu duduk bersama.
Kami jarang bicara hal besar. Lebih sering membahas hal remeh—tentang guru matematika yang terlalu serius, tentang hujan yang selalu datang sore hari, atau tentang cita-cita yang katanya “nanti saja dipikirkan”.
Namun ada satu kebiasaan aneh Raka.
Setiap kali bel berbunyi tanda masuk kelas, ia selalu berdiri lebih dulu, menepuk pundakku pelan, lalu berkata,
“Kalau suatu hari aku nggak datang lagi ke bangku ini, kamu tetap duduk di sini, ya.”
Aku selalu tertawa.
“Ngapain ngomong gitu? Kamu mau pindah planet?”
Ia ikut tertawa, tapi matanya tidak.
Suatu hari, Raka tidak datang.
Lima menit lewat. Sepuluh menit. Bel masuk hampir berbunyi.
Aku menunggu sampai koridor sepi. Bangku di sebelahku tetap kosong.
Hari itu aku masuk kelas sendirian.
Keesokan harinya, aku kembali duduk di bangku itu. Dan hari berikutnya. Dan hari berikutnya lagi.
Raka tak pernah datang.
Aku mulai bertanya ke teman-teman.
Tak ada yang merasa dekat dengannya.
Tak ada yang tahu rumahnya di mana.
Bahkan wali kelas kami hanya berkata,
“Raka? Oh… iya, dulu memang ada murid bernama Raka. Tapi dia pindah sekolah sejak awal semester ini.”
Awal semester.
Padahal aku baru kemarin duduk bersamanya.
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Seminggu kemudian, saat hampir menyerah menunggu, aku melihat sesuatu di bawah bangku.
Selembar kertas, terlipat rapi.
Tulisan tangan Raka.
“Kalau kamu membaca ini, berarti aku benar-benar sudah tidak datang lagi.”
Tanganku gemetar.
“Terima kasih sudah mau duduk bersamaku setiap hari, meski kamu mungkin tidak sadar sejak kapan kita mulai. Aku tidak pernah punya banyak teman. Di bangku itu, aku merasa ada yang benar-benar melihatku.”
Aku menelan ludah.
“Aku selalu takut dilupakan. Maka aku memilih satu orang yang mau duduk diam bersamaku. Kamu.”
Di bagian bawah, ada satu kalimat terakhir.
“Pertanyaannya cuma satu: sejak hari pertama kita bertemu… apakah kamu ingat, aku datang dari mana?”
Aku menatap lorong panjang di depan koridor.
Berusaha mengingat.
Dan saat itu aku sadar sesuatu yang membuat dadaku dingin.
Aku…
tak pernah ingat melihat Raka berjalan dari arah mana pun.
Ia selalu…
sudah ada di sana.
Duduk.
Menungguku.
Sejak hari itu, aku tetap duduk di bangku ujung koridor.
Menunggu.
Entah siapa yang sebenarnya dulu menunggu siapa.
Dan kadang, saat koridor sangat sepi,
aku merasa ada seseorang duduk di sebelahku—
tersenyum,
lima menit terlambat seperti biasa.