Arga Wijaya tidak pernah takut kehilangan.
Sejak kecil ia belajar satu hal:
semua yang ia miliki bisa pergi kapan saja,maka lebih baik tidak melekat pada apa pun.
Uang,kekuasaan,dunia — semua hanya alat.
Hatinya…lama kosong.
Sampai suatu sore,ia melihat seorang wanita duduk di bangku halte,memeluk tas lusuhnya,menunggu hujan reda sendirian.
Wanita itu tidak cantik dengan cara dunia mengagungkan kecantikan.
Namun sorot matanya…terlalu lembut untuk dunia sekeras ini.
Namanya Ayla.
Pertemuan mereka sederhana.Terlalu sederhana untuk mengubah hidup seorang CEO.
Namun sejak hari itu,Arga mulai melakukan hal-hal aneh.
Ia meminta sopir melambat saat melewati halte itu.
Ia memastikan satpam gedung dekat tempat Ayla bekerja lebih waspada.
Ia menghafal jam pulang wanita itu…tanpa pernah berani mengaku.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena rasa takut.
Ia takut…dunia akan melukai Ayla seperti dunia melukai dirinya dulu.
Suatu malam,ia menemukan Ayla menangis di lorong apartemen,lututnya terlipat, tubuhnya gemetar.
“Ada yang menyakitimu?”tanya Arga datar,tapi suaranya bergetar halus.
Ayla menggeleng.
“Hanya…lelah hidup sendirian.”
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari pisau mana pun.
Arga duduk di lantai bersamanya,jas mahalnya terabaikan.
“Aku tidak tahu caranya mencintai orang dengan benar,”katanya pelan.
“Hidupku terlalu lama belajar menguasai, bukan menjaga.”
Ayla menatapnya.
“Lalu kenapa kamu terus ada di dekatku?”
Arga terdiam lama.
“Aku juga tidak tahu,”bisiknya jujur.
“Tapi setiap membayangkan kamu terluka...dadaku seperti tidak bisa bernapas.”
Sejak malam itu,Arga berubah semakin jelas.
Ia melarang siapa pun mendekati Ayla dengan niat buruk.
Mengatur hidupnya diam-diam.
Menjaga jarak,tapi selalu ada.
Bukan posesif yang mengikat.
Melainkan posesif yang takut kehilangan.
Suatu hari, Ayla berkata lirih,
“Kau terlalu baik padaku,Arga…aku takut suatu saat kau bosan.”
Kalimat itu membuat dunia Arga runtuh seketika.
Ia menggenggam tangan Ayla erat, suaranya nyaris gemetar.
“Aku tidak takut kehilangan uang.
Tidak takut kehilangan jabatan.
Tidak takut kehilangan dunia.”
Ia menatap Ayla seperti menatap hidupnya sendiri.
“Tapi sejak mengenalmu…aku takut kehilangan satu hal.”
Ayla terdiam.
“Dirimu.”
Sunyi menggantung lama.
Lalu Ayla berbisik,hampir tak terdengar
“Kalau suatu hari aku pergi…”
Arga memotongnya cepat,nyaris panik.
“Jangan pernah bilang begitu.”
“Kalau kau pergi…aku tidak tahu siapa diriku tanpa alasan untuk pulang.”
Air mata Ayla jatuh.
Untuk pertama kalinya,pria terkaya di dunia memeluk seseorang…bukan untuk memiliki,melainkan untuk memastikan ia tidak hilang.Dan malam itu,Arga akhirnya mengerti.Bukan kekuasaan yang membuatnya hidup.Melainkan satu ketakutan sederhana:
kehilangan seseorang yang diam-diam sudah menjadi seluruh dunianya.