Pak Bambang duduk di bangku taman rumah sakit dengan wajah ditekuk. Di sampingnya, sebuah kereta bayi berwarna biru berdiri tenang. Masalahnya cuma satu: bayi di dalamnya terlalu tampan untuk ukuran genetik keluarga Bambang yang pas-pasan.
Pak Bambang sangat yakin bahwa bayinya tertukar, tidak mungkin ia menuduh istrinya ada main main dengan pria lain. Karena setiap tidur saja istrinya hanya ingin mencium aroma berbulu miliknya.
"Jelas tertukar, Bu," bisik Bambang pada istrinya, Sari, yang masih lemas pasca melahirkan.
"Hus! Ngomong apa sih, Pa?"
"Lihat hidungnya, Bu. Itu hidung mancung kayak aktor Turki. Hidung Papa kan kayak tombol doorbell," keluh Bambang.
"Belum lagi matanya biru. Seingat Papa, kakek buyut kita nggak ada yang dari Skandinavia. Paling jauh juga dari Purwokerto."
Kesedihan mulai melanda. Bambang membayangkan anak kandungnya yang asli mungkin sedang berada di tangan keluarga lain, mungkin sedang diajari bahasa Prancis, sementara ia di sini memegang bayi yang terlihat seperti model iklan susu mahal.
Ia menangis sesenggukan. "Kasihan anak kita, Bu. Pasti dia sekarang lagi bingung kenapa orang tuanya nggak mirip dia. Pasti dia rindu aroma minyak kayu putih Papa!"
Bu sari istri nya pak Bambang hanya bisa melongo mendengar celotehan burung pak Bambang yang mulai menyusut.
Tiba-tiba, seorang suster berlari kencang ke arah mereka. Wajahnya pucat pasi bak mayat hidup tidak menghisap susu selama satu bulan.
"Pak! Bu! Mohon maaf sebesar-besarnya! Terjadi kekeliruan saat pemindahan dari ruang observasi!" Kata suster itu dengan maaf yang tersengal sengal.
Hati Bambang mencelos. Benar kan! Ini dia momen perpisahan yang menyayat hati. Ia harus mengembalikan bayi tampan ini dan mengambil "tombol doorbell"-nya kembali.
Plot Twist yang Tak Diinginkan
Suster itu mengambil bayi bermata biru tersebut dan menyerahkan bayi lain yang sedang menangis kencang. Begitu melihat bayi baru itu, Bambang terdiam.
Bayi ini tidak hanya punya hidung yang persis tombol doorbell, tapi juga sudah punya kerutan di dahi yang mirip sekali dengan cara Bambang saat sedang menghitung cicilan motor.
"Ini... ini anak saya?" tanya Bambang lemas sambil menunjuk bayi tersebut.
"Iya, Pak. Yang tadi itu anaknya Mr. Smith dari kedutaan," jawab suster sambil ngacir ketakutan.
Bambang menatap bayi di pelukannya. Bayi itu berhenti menangis, menatap Bambang balik, lalu tiba-tiba... buuuutt! Si bayi buang angin dengan sangat nyaring.
Bambang menghela napas panjang, air matanya menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena bau gas bayinya yang sangat autentik.
"Ya sudahlah," gumam Bambang pasrah.
"Mancung itu selera, tapi bau kentut yang mirip begini... ini baru namanya ikatan batin."
Dan bayi tersebut pun kini berada dalam pelukan pak Bambang.