# ALGORITMA RUMAH KACA
**Bagian 1: Kalkulasi Lapar di Terminal Induk**
Dira membenci bau matahari pagi di Terminal Induk. Baginya, cahaya matahari pukul lima pagi tidak membawa harapan; itu hanya membawa bau sampah basah yang menguap, asap knalpot bus yang mencekik, dan kenyataan pahit bahwa perutnya masih kosong sejak kemarin sore.
Ia berdiri di balik pilar beton yang penuh coretan, menarik ujung kaos oblongnya yang kebesaran. Matanya yang tajam—mata yang terlalu tua untuk wajah empat belas tahunnya—memindai kerumunan penumpang yang baru turun dari bus ekonomi. Di kepalanya, dunia bukanlah tempat bermain, melainkan sebuah pasar transaksi raksasa.
*Target. Dompet. Kelengahan. Peluang.*
“Gas, fokus,” desis Dira tanpa menoleh.
Di sampingnya, Bagas berjongkok, sibuk dengan radio rongsokan yang baru ia pungut. “Sabar, Dir. Kabel *receiver*-nya putus. Kalau ini bener, kita bisa jual lima ribu ke Pak Jenggot.”
“Lima ribu nggak cukup buat beli harga diri kita yang laper, Bagas,” Dira mendengus.
Saat itulah matanya menangkap sosok itu. Seorang anak laki-laki turun dari bus *Laju Prima*. Kemejanya agak kusut, tapi bahannya terlalu bagus untuk penumpang ekonomi. Tas ranselnya dipeluk erat di depan dada, bukan di punggung.
*Anak rumahan,* batin Dira. *Anak hilang. Dompet berjalan.*
Dira bisa mencium aroma ketakutan dan kebingungan dari jarak sepuluh meter. Anak itu memegang secarik kertas, matanya bergerak gelisah mencari alamat. Ini adalah mangsa paling empuk: orang asing yang butuh arah.
“Target jam dua. Siap-siap pasang muka manis,” perintah Dira. Ia mengubah postur tubuhnya dalam sekejap. Bahu yang tadi tegang kini rileks, wajah sinisnya berubah menjadi topeng keramahan anak kecil yang polos.
Dira melangkah keluar dari bayangan, mencegat anak itu tepat di sudut gang yang sepi.
“Hei, Kakak! Tersesat, ya?” sapa Dira. Suaranya ia buat seceria mungkin, namun matanya diam-diam menaksir harga sepatu anak itu. *Mahal. Pasti ada uang saku.*
Anak itu—Taqi—berhenti. Reaksinya tidak seperti anak hilang biasa yang akan langsung lega. Taqi justru mundur selangkah, matanya menyipit penuh kewaspadaan. Tatapan itu membuat Dira sedikit terkejut; itu bukan tatapan korban, itu tatapan predator lain.
“Aku Dira, Kak. Ini temanku, Bagas,” lanjut Dira cepat, mencoba menguasai situasi. “Kami tahu semua jalan tikus di sini. Kakak mencari alamat? Aku bisa bantu, tapi harus ada ongkos bensin untuk otak, ya?”
Taqi tidak tersenyum. Ia memegang kertas alamat itu erat-erat, seolah Dira adalah virus yang bisa menular lewat sentuhan. “Aku mencari alamat ini. Jika kau benar-benar tahu, tunjukkan jalannya saja.”
Dira melirik kertas itu sekilas. *Distrik 14. Rumah Tua di Ujung Gang.*
Otak Dira berputar cepat. Ia tahu rumah itu. Kosong, seram, dan tidak berpenghuni. Tapi bagi Dira, informasi adalah komoditas.
“Oh, ini! Rumah itu… rumah hantu!” seru Dira dengan nada dramatis yang sudah ia latih. “Semua orang takut ke sana. Tapi kalau Kakak berani, aku bisa antarkan. Lima puluh ribu!”
Lima puluh ribu. Itu harga dua piring nasi padang dengan ayam gulai, ditambah minum es teh manis, dan sisa uangnya bisa buat beli pulsa.
Namun, anak itu justru tertawa kecil. Tawa yang dingin, menusuk harga diri Dira.
“Rumah hantu? Aku yakin rumah itu kosong, Dira. Dan lima puluh ribu untuk selembar kertas yang sudah aku pegang alamatnya? Itu namanya penipuan grosir, bukan ongkos bensin.”
Dira tertegun. Wajahnya memanas. Bukan karena malu, tapi karena kesal. Topengnya retak. Anak ini bukan sekadar anak rumahan; dia cerdas, dan dia baru saja menelanjangi niat Dira dalam satu kalimat.
Kekesalan Dira bertambah saat Bagas tiba-tiba merusak momen intimidasi itu dengan keluhannya soal radio. Dan yang lebih parah, Taqi—si target—justru berjongkok dan memberi kuliah singkat soal *capacitor* dan *impedance* kepada Bagas.
Dira melihat interaksi itu dengan rasa iri yang aneh. Bagas menatap Taqi seperti melihat pahlawan. Dira merasa tersingkir. Ia kehilangan kendali atas situasi ini.
“Baiklah, Kakak pintar!” Dira akhirnya meledak, membuang topeng manisnya. Ia melipat tangan di dada, dagunya terangkat menantang. “Aku akui, aku coba tipu. Tapi di sini, itu namanya bertahan hidup, bukan penipuan. Lo siapa sih? Anak pejabat yang lagi *cosplay* jadi gembel?”
Taqi berdiri, menatap Dira lurus. “Aku hanya mencari tempat tinggalku.”
Setelah Dira dengan ketus menunjukkan arahnya, ia bersiap pergi. Hari ini gagal. Perutnya harus kompromi lagi dengan air keran masjid.
“Kalian sudah makan?”
Pertanyaan itu menghentikan langkah Dira. Ia berbalik perlahan. Harapan, benda berbahaya itu, tiba-tiba menyala di dadanya.
“Sudah,” bohong Dira refleks. “Tapi kalau Kakak mau belikan kami…”
“Aku tidak akan belikan. Tapi kalian bisa makan dan tinggal malam ini di rumah itu, jika kalian mau,” potong Taqi. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut anak itu mengubah orbit hidup Dira selamanya. “Aku butuh dua orang yang tahu jalanan dan bisa menjaga punggungku... Karena aku tidak suka sendirian. Dan di dunia ini, hanya orang bodoh yang sendirian.”
Dira menatap mata Taqi. Di sana, di balik ketenangannya yang angkuh, Dira melihat pantulan dirinya sendiri: Lubang hitam kesepian yang menganga.
Anak ini tidak menawarkan sedekah. Dia menawarkan aliansi.
“Kenapa Kakak mau bantu kami?” tanya Dira, suaranya kali ini tidak lagi bersandiwara. Itu suara Dira yang asli, yang rapuh.
“Kalian bisa jadi keluargaku yang baru,” jawab Taqi.
Kata *keluarga* terdengar asing di telinga Dira. Namun, perutnya yang perih dan kakinya yang lelah memaksanya mengambil perjudian terbesar dalam hidupnya.
“Baiklah,” Dira mendengus, berusaha tetap terlihat tangguh. “Tapi jika Kakak mencoba menjual kami ke pabrik, aku akan *hack* semua bankmu.”
Itu ancaman kosong dari seorang anak yang bahkan tidak punya komputer. Tapi hari itu, Dira tidak tahu bahwa ancaman itu akan menjadi ramalan masa depannya.
---
**Bagian 2: Debu dan Pengakuan**
Rumah itu lebih mirip kuburan daripada tempat tinggal. Debu setebal satu sentimeter menyelimuti lantai, sarang laba-laba menggantung di setiap sudut, dan udara di dalamnya terasa berat oleh kenangan masa lalu yang ditinggalkan.
Namun, bagi Dira, fakta bahwa ada atap di atas kepalanya dan pintu yang bisa dikunci dari dalam adalah kemewahan yang tak terlukiskan.
“Gas, sapunya kurang bersih. Fokus!” tegur Dira. Ia menyapu dengan gerakan kasar, menyalurkan kebingungannya pada debu-debu lantai.
“Aku fokus, Dir! Tapi aku juga mikir!” Bagas berbisik tajam, mendekat ke arah Dira. “Kenapa kita percaya dia, Dir? Dia aneh. Terlalu bersih. Dia kayak boneka yang baru dilepas dari kotak mahal tapi rusak di dalemnya.”
Dira berhenti menyapu. Ia menatap pintu kamar mandi di mana Taqi sedang membersihkan diri.
“Gue tau dia aneh, Gas,” bisik Dira. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding yang lembap. Kelelahan fisik dan mental menghantamnya sekaligus. “Tapi gue capek, Gas. Empat tahun kita lari. Gue capek tidur dengan satu mata terbuka. Gue capek nipu orang cuma buat beli roti.”
Dira menatap Bagas, satu-satunya manusia yang selama ini ia percayai. “Gue percaya sama mata dia, Gas. Dia nggak liat kita kayak sampah terminal. Dia liat kita kayak... solusi.”
Saat Taqi keluar dari kamar mandi, suasana berubah. Anak itu duduk di lantai, dan untuk pertama kalinya, Dira melihat kerapuhan yang sesungguhnya.
Taqi bertanya tentang orang tua mereka.
Dira duduk bersila, memeluk lututnya. Biasanya, ia akan mengarang cerita sedih untuk memancing belas kasihan orang. Tapi di hadapan Taqi, di rumah berdebu ini, Dira merasa tidak perlu berbohong.
“Ayah tiriku... brengsek,” suara Dira pecah, membuka luka lama yang tak pernah kering. “Dia mencoba macem-macem. Aku kabur lewat jendela. Ibuku? Dia lebih milih laki-laki itu daripada aku. Sejak malam itu, aku tau: Cuma aku yang bisa jaga diriku sendiri.”
Bagas pun menceritakan kisah pesawat jatuh dan paman yang serakah.
Ruangan itu hening, hanya diisi oleh napas berat tiga anak yang dibuang oleh takdir. Dira menunggu Taqi merespons dengan kata-kata manis atau janji palsu.
Tapi Taqi tidak melakukan itu. Ia justru membuka tasnya, mengeluarkan sebuah laptop hitam yang terlihat sangat mahal, dan meledakkan bom kebenarannya sendiri.
“Orang tuaku dibunuh. Bukan kecelakaan. Pembunuhan terencana oleh rekan bisnis Ayahku, Mahardika.”
Dira terbelalak. Nama Mahardika adalah legenda di Sentral Raya, simbol kekuasaan dan uang. Dan anak di depannya ini adalah buronan dari monster itu?
“Kita sama-sama sendirian, Dira, Bagas,” kata Taqi, suaranya tenang namun mengandung badai. “Tapi laptop ini... ini senjata kita.”
Taqi menyalakan layar. Cahaya biru menerangi wajah mereka bertiga di kegelapan. Dira menatap barisan angka dan huruf yang bergerak di layar itu. Ia tidak paham artinya, tapi ia merasakan getarannya. Itu bukan sekadar cahaya; itu adalah *kuasa*.
“Kita tidak akan mengemis,” tegas Taqi. “Kita akan berbisnis. Dira, kau punya kecerdikan untuk negosiasi. Kau adalah mulut dan telinga operasi ini. Bagas, kau tangannya. Dan aku... aku otaknya.”
Detik itu, Dira merasakan sesuatu bergeser di dalam jiwanya. Rasa lapar di perutnya berganti dengan rasa lapar jenis lain: Ambisi.
Ia menatap Taqi, bukan lagi sebagai target penipuan, tapi sebagai pemimpin. Dan ia menatap laptop itu sebagai masa depannya.
“Jadi, kita punya musuh raksasa,” gumam Dira, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang khas. “Oke. Aku suka tantangan. Asal lo janji satu hal, Taqi.”
“Apa?”
“Jangan pernah tinggalin kita. Kalau kita perang, kita perang bareng.”
Taqi mengangguk. “Janji.”
Di rumah tua berdebu itu, Dira tidak lagi merasa menjadi anak buangan. Ia telah menemukan kawanannya.
---
**Bagian 3: Metamorfosis Digital**
Waktu bergerak aneh sejak malam itu. Bulan berganti tahun, dan rumah tua itu berubah menjadi bengkel operasi bawah tanah.
Dira ingat betul malam di mana ia menemukan bakat aslinya. Saat itu, Taqi sedang demam tinggi, terbaring menggigil di kasur lipat. Sementara itu, tenggat waktu untuk menyerahkan data ke klien anonim—sumber uang makan mereka—tinggal satu jam lagi.
“Bagas, kompres dia!” perintah Dira panik. Ia menatap laptop Taqi yang menyala.
Dira belum pernah menyentuh laptop itu untuk pekerjaan inti. Ia hanya melihat Taqi bekerja. Ia hanya mengamati pola jari Taqi, mengingat *shortcut* yang sering ditekan, dan memahami logika di balik kode-kode itu.
*Dunia ini tersusun dari pola. Sama seperti jadwal bus di terminal. Sama seperti ekspresi wajah orang yang mau ditipu.*
Dengan tangan gemetar, Dira duduk di depan laptop. Ia meniru apa yang Taqi lakukan. Awalnya kaku, tapi perlahan, Dira menyadari bahwa kode-kode ini memiliki bahasa. Mereka berbicara tentang *input* dan *output*, tentang sebab dan akibat.
Dira tenggelam. Jemarinya mulai menari. Ia tidak sekadar mengetik; ia sedang merajut jaring. Ia meretas masuk ke *server* target, mengambil data yang dibutuhkan, dan membersihkan jejaknya—persis seperti cara dia mencuri roti di pasar tanpa ketahuan.
Saat Taqi bangun keesokan paginya, keringat dingin membasahi dahinya, ia panik mengecek laptop.
“Sudah terkirim,” kata Dira santai sambil mengunyah biskuit. “Dan aku tambahin bonus enkripsi biar mereka nggak bisa lacak balik IP kita. Ongkos jasanya aku naikin 20%.”
Taqi menatap Dira, lalu menatap layar. Ada kekaguman yang tidak bisa disembunyikan di mata elangnya.
“Kau belajar dari mana?”
“Dari ngeliatin lo,” jawab Dira. “Lo pikir gue cuma bisa nipu orang di jalanan? Gue ini *fast learner*, Bos.”
Hari itu, peran Dira berevolusi. Ia bukan lagi sekadar negosiator. Ia adalah *Mata*. Jika Taqi adalah pedang yang menyerang dalam gelap, Dira adalah radar yang memastikan pedang itu tidak menabrak tembok.
Motivasi Dira pun berubah. Ia tidak lagi belajar *coding* untuk bertahan hidup semata. Ia belajar karena ia ingin menjadi satu-satunya orang yang tidak tergantikan bagi Taqi. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun orang jahat—termasuk Mahardika—yang bisa menyentuh keluarga kecilnya tanpa melewati *firewall* buatannya.
---
**Bagian 4: Ratu di Singgasana Data**
**[Masa Kini: Markas Besar The Vault]**
Suara *heels* Dira beradu dengan lantai marmer koridor The Vault. Penampilannya kini jauh berbeda. Tidak ada lagi kaos oblong kusam. Ia mengenakan *blazer* hitam potongan asimetris, rambutnya dipotong *bob* rapi, dan kacamata pintarnya memantulkan aliran data *real-time*.
Namun, di balik penampilannya yang elegan sebagai Kepala Analis Data, jiwa anak jalanan itu masih hidup.
“Dira! Sektor 4 bobol! Mereka mengirim *drone* pemburu!” suara Bagas terdengar panik melalui *intercom*. Bagas kini adalah Kepala Divisi Teknis, pria besar dengan tangan bionik yang canggih.
Dira masuk ke ruang komando utama—The Core. Puluhan layar raksasa mengelilinginya seperti dinding benteng. Ia duduk di kursi kerjanya, meletakkan kopi *latte*-nya dengan tenang.
“Tarik napas, Gas. Jangan panik kayak waktu loilangin obeng dulu,” ucap Dira tenang.
Jemarinya menyentuh panel holografik. Di layar utama, ia melihat posisi Taqi—sang *The Closer*—sedang terpojok di sebuah gudang pelabuhan di Hamburg, dikepung oleh pasukan elit Rhausfeld.
Dira melihat detak jantung Taqi di monitor medis: 140 bpm. Taqi kelelahan.
“Taqi, denger gue,” suara Dira mengalun di telinga Taqi, jernih dan stabil. “Jangan lawan mereka pake otot. Lo bakal mati konyol. Liat ke arah jam tiga. Ada derek peti kemas otomatis.”
*“Dira, itu dikunci manual!”* suara Taqi terdengar terengah, diselingi bunyi tembakan.
“Nggak ada yang manual di dunia gue, Taqi,” Dira tersenyum miring.
Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa, Dira meretas sistem pelabuhan Hamburg. Ia membelokkan protokol keamanan, mematikan kamera CCTV di sektor tersebut, dan mengambil alih kendali mesin derek raksasa itu.
*Klik. Enter.*
Di layar, Dira melihat derek itu bergerak sendiri, mengayunkan peti kemas baja seberat lima ton dan menjatuhkannya tepat di tengah formasi musuh, menciptakan barikade instan bagi Taqi.
“Jalan terbuka, Bos. Lari sekarang, atau gue potong gaji lo buat beli tas baru,” perintah Dira.
Taqi berhasil lolos. Dira melihat titik hijau di peta bergerak menjauh dari zona bahaya.
Sorak sorai terdengar dari para staf junior di ruang kontrol. Tapi Dira hanya bersandar di kursinya, menghela napas panjang. Tangannya sedikit gemetar—sisa adrenalin yang selalu muncul setiap kali nyawa Taqi ada di ujung jarinya.
Malam itu, setelah situasi aman, Taqi masuk ke ruang kontrol. Ia masih mengenakan setelan tempurnya yang sobek di beberapa bagian.
Taqi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sebungkus martabak manis di meja Dira—kebiasaan lama yang tak pernah berubah.
“Lo nyaris mati lagi hari ini,” kata Dira tanpa menoleh dari layar.
“Tapi gue nggak mati. Karena ada lo,” jawab Taqi.
Dira memutar kursinya, menatap pria yang dulu ia temui di terminal bus itu. Dulu mereka hanyalah sampah kota yang saling curiga. Sekarang, mereka adalah dua pilar yang menopang keamanan dunia.
“Taqi,” panggil Dira pelan.
“Hm?”
“Inget waktu di terminal? Waktu lo bilang cuma orang bodoh yang sendirian?”
Taqi tersenyum tipis. “Inget.”
“Gue seneng gue cukup pinter buat ikut lo hari itu,” kata Dira, matanya berkaca-kaca. “Gue nggak butuh istana, Taqi. Gue nggak butuh pengakuan dunia. Gue cuma butuh ini. Kursi ini, layar ini, dan suara lo di *earpiece* gue yang bilang kalau lo selamet.”
Taqi menepuk puncak kepala Dira, gestur kasih sayang seorang kakak yang tak sedarah.
“Ini rumah kita, Dir. The Vault ini... dibangun dari debu rumah tua itu. Dan lo adalah fondasinya.”
Dira tersenyum. Ia mengambil sepotong martabak, lalu kembali menghadap layarnya. Di luar sana, dunia penuh dengan ancaman. Mahardika, Rhausfeld, Zhar’goloth... biarkan mereka datang.
Selama Dira Anastasya duduk di kursi ini, tidak ada satu pun yang bisa menyentuh keluarganya.
Ia bukan lagi anak jalanan yang kelaparan. Ia adalah Penjaga Gerbang. Ia adalah Mata Tuhan di dalam mesin. Dan dia sudah berada di rumah.
**[SELESAI]**