Cerita Naira
Jurnal Naira: Di Balik Tirai Putih (Bagian I)
Namaku Naira, dan aku telah belajar bahwa tempat paling sulit untuk dikunjungi di dunia ini bukanlah tempat yang hancur oleh perang. Aku pernah berdiri di tanah yang dipenuhi kawat berduri, di mana setiap embusan napas adalah perjuangan melawan debu dan mesiu.
Namun di sini, di depan sebuah pintu yang tertutup rapat oleh lapisan marmer, aku menemukan kekalahanku yang paling aneh. Aku ingin masuk ke sebuah negeri yang paling tenang di bumi, namun menolak kehadiranku seolah-olah aku adalah badai yang akan meruntuhkan kesunyian.
Semua berawal dari rasa ingin tahu yang hampir membakar kewarasanku. Aku, yang selalu haus akan tantangan, menolak untuk sekadar diam. Aku mulai meriset tentang "Negeri Putih" sebuah tempat yang menurut data memiliki cadangan gas alam terbesar keempat di dunia, namun memilih mengunci diri dari tatapan luar.
Aku mencoba menaklukkannya, dan benar saja, semua tak semudah yang kubayangkan. Izin ditolak mentah-mentah. Awalnya kukira itu hanya ketidaksengajaan.
Aku bertanya pada temanku di imigrasi, seorang veteran yang terbiasa mengurus jalur-jalur sulit, namun dia hanya menggeleng pasrah. "Sistem mereka adalah kotak hitam, Naira. Tak ada koneksi internasional yang bisa menembusnya," ucapnya saat itu.
Namun aku adalah Naira. Aku tak menyerah. Setiap pagi selama setahun, ritualku adalah memeriksa kotak masuk email, berharap ada setitik harapan di antara tumpukan spam.
Hingga suatu hari, ketika aku mulai terbiasa dengan penolakan... satu notifikasi masuk. Sebuah dokumen PDF dengan stempel resmi yang kaku, tanpa penjelasan, tanpa basa-basi. Izin dikabulkan.
Babak Baru Keheningan yang Memekakkan
Saat kakiku akhirnya menginjakkan kaki di bumi paling sunyi ini, aku tertegun.
Bandara itu berbentuk seperti elang raksasa yang sedang mengepakkan sayap, sangat megah, sangat futuristik, namun nyaris tak ada manusia.
Seperti sebuah teater megah yang panggungnya sudah siap, tapi penontonnya dilarang datang. Aku berjalan melewati lorong-lorong marmer yang dingin, suara langkah kakiku satu-satunya suara yang memecah keheningan.
Aku mencoba membuka ponselku, refleks seorang pengelana modern. Internet mati. Bukan karena ketiadaan sinyal, batang sinyal di pojok layar penuh tapi karena aksesnya memang diputus dari pusat.
Di tahun itu, mereka tetap memegang kendali penuh atas arus informasi. Tak ada Instagram, tak ada peta digital. Ponselku seketika menjadi potongan kaca dan besi yang tak berguna. Aku terputus dari dunia tepat saat aku berdiri di pusat kemegahan.
Aku baru menyadari, cerita tentang kota yang seluruhnya terbuat dari marmer putih ini bukan sekadar dongeng di internet atau riset di atas kertas. Ini nyata. Sejauh mata memandang dari lobi kedatangan, hanya ada jalanan hitam legam yang mulus dan deretan gedung marmer yang berkilau menyilaukan di bawah matahari gurun.
Dan yang paling aneh, hanya ada mobil berwarna putih atau perak yang melintas sesekali. Tidak ada warna lain, seolah warna adalah sebuah kesalahan. Negeri ini bersih, tak tersentuh.
Seorang pria tegap dengan setelan rapi menghampiriku. Senyumnya ramah, namun matanya dingin dan tajam mengawasi setiap pergerakanku. "Selamat datang di rumah, Naira," sapanya dengan aksen kaku. Dialah Merdan, pemandu resmiku, atau lebih tepatnya, bayanganku selama di sini.
Merdan membawaku ke sebuah sedan putih bersih. Di dalam mobil, udaranya dingin dan steril. Aku menatap keluar jendela, merekam setiap keanehan ini dalam memori dan buku jurnal fisikku yang kusimpan di balik jaket.
Di sini, di balik tirai marmer putih, aku baru saja masuk ke dalam sebuah rahasia besar yang tak ingin diceritakan. Dan petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Jurnal Naira: Di Balik Tirai Putih (Bagian II)
Merdan membukakan pintu sedan putih itu untukku. Begitu pintu tertutup, suara dunia luar yang sebenarnya sudah sunyi hilang. Kabin mobil ini kedap suara, steril, dan berbau seperti antiseptik yang dicampur dengan parfum pinus yang tajam.
"Kita akan menuju pusat kota, Naira. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kain putih memegang kemudi dengan kaku.
Aku hanya mengangguk, tanganku meraba buku jurnal di balik jaket. Ponselku masih bisu. Ketika dunia luar sedang merayakan konektivitas tanpa batas, di sini aku merasa seperti terlempar ke tahun 1970-an yang dipoles dengan teknologi masa depan.
Aku mencoba mencari jaringan Wi-Fi saat mobil melaju, namun yang muncul hanyalah portal lokal yang meminta kredensial pemerintah. Aku terisolasi dalam kemewahan.
Saat kami memasuki jantung kota, mataku nyaris perih. Matahari gurun memantul pada ribuan gedung marmer putih, menciptakan ilusi optik bahwa kota ini bercahaya. Tidak ada tiang listrik yang semrawut, tidak ada papan iklan yang berteriak. Hanya ada monumen-monumen raksasa dari emas yang berkilau.
Aku menyalakan ponselku, namun baru saja aku akan menekan tombol Shot…
"Jangan yang itu, Naira," bisiknya datar.
"Kenapa? Ini hanya sebuah gedung indah," tanyaku.
"Di sini, keindahan tidak untuk dibawa pulang. Ia hanya untuk dikagumi di tempatnya," jawabnya sambil menatap lurus ke jalanan yang kosong.
"Kenapa tidak ada orang di jalan?" tanyaku, memecah keheningan setelah diam karena ia melarang ku mengambil gambar tadi.
Merdan tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipaksakan. "Orang-orang sedang bekerja, Naira. Di sini, kami mencintai ketertiban. Tidak ada alasan untuk berkeliaran tanpa tujuan."
Mobil berhenti di depan sebuah hotel yang tampak seperti istana sultan. Di lobi, seorang petugas memintaku untuk mendaftarkan perangkat elektronikku. Mereka memeriksa paspor dan berkas berkasku. "Untuk keamananmu," kata mereka.
Aku hanya mengangguk. Malam harinya, di dalam kamar yang terlalu luas, aku duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah Monumen.
Patung emas di puncaknya berputar perlahan, selalu menghadap matahari, meski sekarang matahari sudah tenggelam. Aku mengeluarkan pena dan menulis dengan cepat di jurnalku:
Day 1:
Aku berada di dalam perut raksasa putih.
Di Negeri Syam, aku takut pada suara ledakan.
Di Swiss aku takut membeku oleh es abadi Alpen .
Di Norwegia, aku takut tak sempat melihat Aurora.
Di sini, aku takut pada kesunyian.
Tiba-tiba, lampu di kamarku berkedip dua kali. Sebuah peringatan? Atau sekadar gangguan teknis? Aku segera menutup jurnalku saat ketukan pelan terdengar di pintu.
"Naira? Ini Merdan. Besok pagi kita berangkat ke gurun. Kita akan mengunjungi 'api yang tidak pernah padam'. Pastikan kau siap pukul lima."
Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Besok, aku akan dibawa ke jantung Guru, menuju lubang api yang mereka sebut Gerbang Neraka.
Di sana, di tempat yang tidak bisa dipoles oleh marmer atau disembunyikan oleh aturan putih, aku berharap bisa menemukan sedikit kebenaran tentang negeri yang mati ini.
Jurnal Naira: Akhir dari Keheningan.
Tiga hari di bawah langit marmer ini sudah cukup untuk menghancurkan kewarasanku.
Malam terakhir aku berdiri di tepi lubang api raksasa itu.
Angin gurun menderu, membawa hawa panas yang membakar kulit, sementara Merdan berdiri sepuluh meter di belakangku, mengawasi, seperti patung yang tak bernapas.
Di depan kobaran api yang tak pernah padam itu, aku menyadari satu hal, api ini adalah satu-satunya hal yang jujur di negeri ini. Ia liar, ia merusak, dan ia tidak bisa dipoles ia tetap merah.
Aku mengeluarkan ponselku, mencoba mencari satu celah sinyal untuk sekadar mengirim pesan "Aku baik-baik saja" ke rumah.
Namun, layar itu tetap bisu. Aku menatap Merdan, lalu menatap gedung-gedung putih yang terlihat samar di kejauhan sana.
Kemewahan ini adalah penjara paling indah yang pernah ku temui. Di sini, tidak ada suara tembakan, tidak ada tangis anak-anak di bawah reruntuhan, tidak ada debu mesiu yang menyesakkan dada.
Semuanya damai. Semuanya tenang.
Tapi ketenangan ini adalah kebohongan bagiku. Hanya bagiku yang terbiasa dengan kebebasan berekspresi.
Aku merindukan kebisingan. Aku merindukan kekacauan. Pikiranku terbang kembali ke tanah yang penuh kawat berduri itu.
Di sana, setiap detik memang terasa seperti satu kematian, tapi setiap tarikan napas adalah milikku sendiri.
Di sana, aku bebas untuk takut, bebas untuk marah, dan bebas untuk bersuara.
"Merdan," panggilku tanpa menoleh. "Aku ingin pulang. Besok."
Merdan hanya mengangguk pelan. "Pesawatmu pukul sepuluh pagi, Naira. Semua sudah diatur."
Keesokan harinya, saat roda pesawat meninggalkan landasan pacu bandara elang yang sunyi itu, aku tidak merasa lega karena telah menaklukkan rasa penasaranku.
Aku merasa kalah. Aku telah melihat "masa depan" yang mereka tawarkan sebuah dunia tanpa noda, tanpa konflik, namun hatiku kosong.
Aku menutup jurnal fisikku, menyandarkan kepala pada kursi pesawat, dan memejamkan mata. Biarlah aku kembali ke tanahku yang bising.
Biarlah aku hidup di tengah bahaya, selama aku bisa merasakan detak jantung yang bebase.
Karena bagiku, lebih baik mati sebagai manusia yang bebas di tengah reruntuhan, daripada hidup sebagai hantu di dalam istana marmer yang bisu.
Negeri putih itu menghilang di balik awan, tetap bersih, tetap tak tersentuh, dan tetap mati.
Akhir dari semua rasa penasaranku.
"Aku telah mencicipi keheningan es abadi di pegunungan Alpen Swiss, mengejar cahaya hijau Aurora yang menari di langit Norwegia, hingga membasuh kaki di beningnya air Maladewa. Aku bahkan pernah membungkuk di hadapan patung raksasa di negeri Kim Jong Un dan mencium aroma mesiu serta debu gedung yang runtuh di depan mataku di Palestina.
Dunia telah memberiku kunci untuk hampir semua pintunya yang paling berbahaya sekalipun.
Namun, “Negeri Putih”... kau adalah mimpi yang paling keras kepala.
“Madani, Terima kasih sudah membawaku ke tempat yang indah. Aku tak tahu apakah aku akan kembali atau tidak, tapi setidaknya aku pernah berdiri di antara bayang-bayang keindahan yang megah.”
Terima kasih. Ini hanya negri dongeng.