Gabriel, atau yang biasa dipanggil El, mendapat julukan “Si Kebo.” Bukan tanpa alasan ia dijuluki seperti itu. Ia sangat sulit dibangunkan saat tidur, seolah tubuhnya membatu, seperti orang mati suri
Sering kali ia mendapat nasihat dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari ibunya. Tentang pentingnya bangun pagi, tentang hidup yang lebih tertata, dan tentang kedisiplinan sebagai bentuk tanggung jawab. Tapi semua itu, baginya, hanya ucapan yang lewat. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ia menolak mencerna apa pun yang tidak sejalan dengan keinginannya
Padahal, Gabriel sudah menjadi mahasiswa semester lima. Namun, kebiasaan buruk itu tetap melekat, menempel seperti noda yang enggan hilang. Tidak sekali dua kali ia kesiangan, melewatkan kelas, tugas, dan bahkan janji dengan temannya sendiri
“Bangun, El. Matahari sudah meninggi,” ucap ibunya suatu pagi
“Hidup itu singkat. Jangan dihabiskan dengan tidur saja, Nak.”
Namun Gabriel hanya menggeliat, menenggelamkan wajah ke bantal, dan menarik selimutnya lebih rapat. Ibunya hanya bisa menghela napas panjang. Setiap pagi terasa seperti pengulangan tanpa ujung. Tapi ia tidak menyerah. Ia tetap memasakkan sarapan, tetap menyiapkan pakaian bersih, tetap menunggu anaknya bangun, walau sering kali hanya melihat punggung anaknya yang membatu.
Hingga suatu ketika, pacarnya, Lidya, memutuskan hubungan. Tanpa alasan yang jelas. Hanya satu kalimat pendek
“Kita sudahi saja.”
Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan terakhir. Hanya sebuah ucapan singkat yang terus menggema dalam pikiran Gabries
Sejak saat itu, hidup Gabriel terombang-ambing. Ia menjadi rapuh. Tidak terarah. Ia tidur lebih lama, bukan sekadar malas, tapi seperti ingin kabur dari kenyataan. Dua belas jam dalam sehari dihabiskannya di ranjang, menyatu dengan bantal dan selimut. Tugas kuliah berantakan. Emosi tidak stabil. Sedikit saja bicara dengan orang lain, bisa langsung meledak.
Tubuhnya mulai lemah, seperti kehilangan daya. Ia sering sakit kepala, mual, dan malas makan. Tapi semua itu ia abaikan. Ibunya cemas bukan main. Berkali-kali mencoba bicara, tapi Gabriel selalu menutup diri.
“Gabriel, kamu kenapa, nak? Ceritakan ke Ibu...”
Namun tak ada jawaban. Ibunya hanya bisa menatap punggung anaknya dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, menggigit bibir, menahan air mata. Ia merasa anaknya yang dulu ceria, kini hilang entah ke mana
Hingga suatu malam, kabar yang tak pernah Gabriel bayangkan datang. Lidya hamil. Di luar nikah. Dengan pacar barunya
Gabriel merasa seperti disambar petir di siang bolong. Dunia yang sudah retak, kini benar-benar runtuh. Ia tidak sanggup menahan luka itu sendiri. Ia datang ke rumah sahabatnya, Jay. Dengan tubuh lemas dan mata sembab, ia duduk di lantai sambil menggenggam kaleng minuman keras
“Hidupku hancur sejak dia pergi, Jay…” ucapnya sambil terisak. “Seolah aku kehilangan separuh jiwaku. Aku mengecewakan banyak orang, terutama ibuku. Rasanya hidupku... tidak berguna.”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Rasa perih menjalar, tapi setelah itu, pikirannya mendadak jernih
“Tapi... kenapa, Jay?” Tanyanya lirih, masih memegangi pipinya
Jay menatapnya, matanya tajam dan penuh emosi. “Sampai kapan kamu kayak gini? Meratapi hidup tanpa usaha buat berubah? Kamu bukan cuma menghancurkan dirimu sendiri, tapi juga orang-orang yang peduli sama kamu. Harusnya kamu evaluasi diri, bukan menyalahkan diri terus-menerus.”
Gabriel terdiam. Ucapan Jay bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi menampar hati dan logikanya
“Beritahu aku, Jay... gimana caranya berubah?”
Jay menghela napas, tersenyum samar. “Perubahan tidak harus dari hal besar. Mulai dari bangun jam empat pagi tiap hari. Lihat sendiri efeknya. Bangun pagi itu bukan cuma soal waktu, tapi tentang komitmen dan konsistensi. Pada awalnya akan terasa sulit, tapi tidak apa. Yang penting niat.”
Sejak hari itu, Gabriel mencoba. Hari pertama, berat. Alarm dibanting. Hari kedua, nyaris gagal. Tapi hari ketiga, ia mulai terbiasa. Ia bangun, duduk diam, merenung. Lalu mulai berolahraga ringan. Ia menyeduh kopi, membaca buku. Ia membuka tugas kuliah yang terbengkalai, mencicil sedikit demi sedikit.
Ibunya sempat kaget, lalu tersenyum diam-diam. Ia mulai menyambut pagi bersama Gabriel, menyajikan sarapan hangat, menanyakan kabarnya setiap hari, dan kadang menyelipkan doa kecil di sela-sela kegiatannya, berharap hal ini akan berlangsung seterusnya
Gabriel tidak langsung membalas dengan pelukan atau kalimat manis. Tapi ia mulai membawakan segelas air untuk ibunya. Membantu mengangkat jemuran. Menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dengan lebih sabar. Hal-hal kecil, tapi bagi sang ibu, itu adalah keajaiban
Suatu sore, Lidya mengirim pesan. Setelah lama tak ada kabar, akhirnya ia minta bertemu. Gabriel sempat ragu, tapi akhirnya setuju setelah membicarakan hal itu dengan ibunya
Lidya datang dengan wajah lelah dan mata sendu. “Aku... minta maaf, El. Atas semua yang terjadi. Aku salah... aku pikir dia lebih baik darimu. Jadi aku meninggalkanmu begitu saja tanpa tahu mana yang tulus dan mana yang bukan. Aku sedang tidak mencari pembenaran, aku murni hanya ingin meminta maaf.”
Gabriel menatapnya tenang. Tidak ada amarah seperti dulu. Yang tersisa hanya sisa luka yang sudah dijahit oleh waktu
“Aku sudah memaafkanmu, Lidya. Dan aku... turut prihatin atas kejadian yang menimpamu,” ucap Gabriel pelan. “Kalau bukan karena semua ini, mungkin aku tidak akan pernah berubah. Jadi terima kasih. Kamu membuatku sadar bahwa aku harus jadi lebih baik, untuk diriku sendiri, bukan orang lain.”
Lidya terisak, tapi Gabriel hanya tersenyum. Tidak ada dendam, tidak ada cinta yang tertinggal. Hanya kenangan yang perlahan dilepas.
Beberapa minggu kemudian, Gabriel ingin menemui Jay. Mengucapkan terima kasih, membagikan cerita tentang progresnya. Tapi yang ia temui hanyalah rumah kosong. Kata tetangga, Jay sudah pindah ke luar kota karena urusan keluarga.
Beberapa hari berselang, kabar duka datang. Jay meninggal dunia karena kecelakaan di jalan raya. Gabriel terdiam cukup lama saat mendengarnya. Ia tidak menangis. Tapi hatinya mencelos, seakan ada sesuatu yang hilang dari situ
Jay pergi. Tapi jejaknya masih tertinggal, dalam tiap pagi yang dijalani Gabriel, dalam tiap langkah kecil yang kini berarti besar
Ia sempat terpuruk akan kabar tersebut. Tapi kali ini, ia memilih bangkit. Ia tahu, Jay tidak akan mau melihatnya kembali menjadi si Kebo yang tidur terlalu lama dan hidup tanpa arah
Malam itu, ibunya memeluknya erat. Tidak berkata apa-apa selama beberapa saat
“Ibu bangga padamu, El,” katanya akhirnya, lembut tapi penuh makna
Gabriel hanya membalas dengan pelukan yang lebih erat. Pelukan yang terasa hangat, seperti pagi yang baru ia temukan kembali
Kini, setiap pukul empat pagi, Gabriel bangun. Ia berdiri di depan cermin dan tersenyum. Bukan karena segalanya sudah sempurna. Tapi karena ia tahu, ia sedang berjalan ke arah yang lebih baik
Dan itu saja sudah cukup untuk sekarang