🤍
---
Boneka Biru dan Foto yang Tak Pernah Diminta
Caelia tidak pernah menyangka bahwa sebuah boneka bisa menjadi saksi paling setia dari masa remajanya.
Boneka itu hadiah dari orang tuanya—hadiah sederhana, dibungkus kertas tipis dengan pita yang sudah agak kusut. Tidak mahal, tidak istimewa bagi orang lain. Tapi bagi Caelia, boneka itu seperti rumah kecil yang bisa ia peluk kapan saja. Biru lembut, bulunya halus, dan selalu berbau kamar tidurnya.
Ia sering duduk memeluk boneka itu saat sore merambat pelan. Saat dunia terasa terlalu ramai, atau terlalu sepi. Saat ia belum cukup berani menceritakan isi kepalanya kepada siapa pun.
Dan pada salah satu sore itulah, tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya dari jauh.
Namanya Abigail.
Abigail tidak pernah benar-benar masuk ke hidup Caelia. Mereka tidak duduk sebangku. Tidak saling menyapa lebih dari sekadar anggukan kecil. Abigail hanya mengenal Caelia dari jarak—dari cara Caelia tertawa kecil pada bonekanya, dari cara ia menunduk saat berbicara, dari caranya terlihat kuat meski jelas rapuh.
Hari itu, Caelia sedang duduk memeluk boneka birunya. Tatapannya kosong, tapi bukan kosong yang menyedihkan—lebih seperti seseorang yang sedang berdamai dengan pikirannya sendiri.
Abigail, dengan tangan yang sedikit gemetar, mengangkat ponselnya.
Klik.
Satu foto. Tanpa izin. Tanpa suara. Tanpa niat untuk disimpan sebagai bukti apa pun, selain rasa kagum yang tak berani diucapkan.
Abigail tidak tahu mengapa ia mengambil foto itu. Mungkin karena ia ingin mengingat bahwa ada seseorang di dunia ini yang diam-diam ia kagumi karena ketenangannya. Atau mungkin karena ia merasa momen itu terlalu lembut untuk dibiarkan hilang.
Tahun-tahun berjalan.
Caelia tumbuh. Wajahnya masih sama, tapi tubuhnya semakin sering lelah. Ia jarang bercerita tentang dirinya, hanya tersenyum dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Boneka biru itu masih bersamanya, meski kini lebih sering berada di sudut ranjang.
Abigail menyimpan foto itu seperti rahasia kecil yang tak pernah ia buka. Hingga suatu hari, kabar itu datang.
Caelia sakit.
Tidak ada detail. Tidak ada drama. Hanya kalimat pelan yang menyentak: kondisinya melemah.
Abigail datang menjenguk dengan tangan kosong, kecuali satu hal—foto itu. Ia ragu. Ia takut. Takut Caelia akan merasa aneh, atau bahkan terganggu. Tapi ada sesuatu di dadanya yang berkata bahwa Caelia berhak tahu.
Hari itu, Caelia terbaring dengan wajah yang lebih pucat, tapi senyumnya masih sama.
“Aku… punya sesuatu,” ucap Abigail pelan.
Ia menyerahkan foto itu.
Caelia menatapnya lama. Sangat lama. Lalu matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena terkejut.
“Aku nggak inget pernah difoto,” katanya lirih.
“Aku ambilnya diem-diem,” jawab Abigail jujur. “Maaf… aku cuma… waktu itu kamu keliatan damai.”
Caelia tersenyum kecil. Senyum yang lelah, tapi tulus.
“Lucu ya,” katanya. “Aku nggak tau ada yang ngeliat aku sehangat itu.”
Hari itu, mereka tidak banyak bicara. Tapi ada rasa tenang yang tinggal di antara mereka—seperti dua orang yang akhirnya saling memahami tanpa perlu penjelasan panjang.
Keesokan harinya, sebelum matahari sempat benar-benar naik, hembusan napas terakhir Caelia pergi dengan sangat pelan. Tanpa suara. Tanpa keluhan.
Abigail menggenggam foto itu erat-erat.
Kini, foto itu tidak lagi hanya tentang seorang gadis dan boneka biru.
Ia tentang kenangan yang diam-diam disimpan,
tentang rasa kagum yang tak pernah meminta balasan,
dan tentang bagaimana seseorang bisa berarti besar, meski tak pernah benar-benar masuk ke hidup kita.
Dan setiap kali Abigail melihat foto itu, ia tahu—
Caelia pernah ada.
Pernah hangat.
Dan tidak pernah benar-benar hilang.
---
Endd🤍
🤍