Awal Maret Tahun 1994.
Poppy mulai gelisah sejak pagi. Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena firasat buruk. Tapi perasaannya terasa kosong dan terus berputar di dadanya, seperti kaset pita yang macet di satu nada. Angin yang masuk dari jendela tak membawa kesejukan, hanya mengaduk rindu yang sudah lama dia pendam.
Sudah hampir setahun Sulthan tinggal di negeri jiran. Jarak itu, awalnya, terasa seperti janji. Katanya, menunggu hanya soal waktu. Katanya, cinta akan baik-baik saja meski dipisahkan laut.
Namun hari-hari berlalu tanpa suara.
Siang itu, Poppy duduk di depan meja kayu yang catnya mulai terkelupas. Dia mengeluarkan selembar kertas surat—yang selama ini selalu dia simpan, takut jika rindu yang dituliskan tak akan kembali. Tangannya sempat ragu. Lama. Hingga akhirnya dia menunduk dan menulis, seperti orang yang menyerah pada perasaannya sendiri.
Pertengahan Maret 1994
Sulthan,
Hari-hariku kini dipenuhi hal-hal kecil yang mengingatkanku padamu. Bangku di terminal, lagu di radio tua, dan sore yang jatuh terlalu cepat. Aku menunggumu bukan karena tak punya pilihan lain, tapi karena hatiku hanya tahu satu arah: ke arahmu.
Jika surat ini sampai dan kau membacanya, balaslah. Tak perlu kata manis. Tak perlu janji. Aku hanya ingin tahu apakah aku masih ada di ingatanmu.
Di sini, aku masih menunggumu. Entah sampai kapan.
—Poppy—
Sore itu, dia berjalan kaki ke kantor pos. Langkahnya pelan, seolah dia ingin menunda saat surat itu benar-benar pergi darinya. Setelah amplop itu berpindah tangan, Poppy pulang dengan hati yang separuh kosong.
Sejak hari itu, hidupnya menjadi jadwal menunggu.
Setiap pagi dia bangun lebih awal. Setiap siang dia duduk dekat jendela. Dan setiap sore, dia berada di teras—menatap jalan tanah yang sama, berharap pada suara sepeda yang tak kunjung datang.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Hingga suatu pagi, di pertengahan Desember 1994, suara itu terdengar.
Sepeda ontel berhenti tepat di depan rumah. Pak Pos turun sambil membuka tasnya. Poppy berdiri terlalu cepat hingga lututnya nyaris lemas.
"Ada surat.” Kata Pak Pos.
Senyum Poppy merekah. Senyum yang lahir dari penantian panjang. Tangannya menerima amplop itu dengan gemetar—warnanya gading, tebal, asing.
Dia tak langsung membukanya. Dia ingin menikmati harapan itu sedikit lebih lama.
Namun saat kertas itu terbuka, dunia seolah berhenti bergerak.
Namanya tertulis sebagai undangan.
Bukan sebagai yang dipilih.
Surat rindunya dibalas dengan undangan pernikahan.
Tak ada penjelasan. Tak ada permintaan maaf. Tak ada kata perpisahan. Hanya kepastian yang datang terlalu telat untuk ditanyakan alasannya.
Poppy duduk perlahan. Undangan itu digenggamnya erat, seolah jika dilepaskan, dadanya akan runtuh. Air matanya jatuh diam-diam, membasahi kertas yang seharusnya bersih dan bahagia.
Kalau memang tak mau, pikirnya, seharusnya kau katakan sejak awal.
Dia rela—kalau memang begini akhirnya. Dia hanya lelah menunggu sesuatu yang diam-diam telah selesai.
Malam itu, Poppy berdoa. Doanya sederhana dan pahit. Dia mendoakan kebahagiaan Sulthan, meski hatinya sendiri tinggal puing-puing.
Hari-hari setelahnya, Poppy kembali sendiri. Seperti dulu. Tapi tak sepenuhnya sama. Ada bagian dirinya yang tertinggal di teras rumah itu—bersama harapan yang tak pernah benar-benar dijemput.
Undangan pernikahan itu disimpannya, bukan sebagai kenangan indah, melainkan sebagai bukti bahwa cinta bisa berakhir tanpa pernah berpamitan.
Dan sejak saat itu, Poppy belajar:
menunggu adalah bentuk cinta yang paling melelahkan—terutama jika yang ditunggu ternyata sudah memilih pergi.