Namaku Rara, baru genap 19 tahun tiga bulan lalu. Kuliah semester dua jurusan desain komunikasi visual di salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta Selatan. Tinggal di rumah dua lantai bergaya minimalis modern di kawasan elit Depok Timur bareng Mama dan Ayah tiri, Pak Budi. Mama menikah lagi sama Pak Budi sekitar dua setengah tahun lalu setelah Papa kandung meninggal karena kecelakaan mobil di tol Cipali. Pak Budi, 45 tahun tepat, mantan mayor TNI AD yang pensiun dini lalu langsung membangun perusahaan kontraktor proyek infrastruktur jalan dan bendungan. Badannya masih seperti tentara aktif: tinggi 185 cm, berat 92 kg hampir semuanya otot padat, dada bidang berbulu tipis hitam, lengan kekar berurat tebal, bahu lebar, perut rata dengan garis six-pack samar yang terlihat kalau dia angkat kaos, kulit sawo matang karena sering terpapar matahari lapangan, brewok tipis rapi selalu terpotong pendek, dan suara dalam berat yang selalu bikin bulu kudukku merinding setiap dia manggil nama aku dengan nada rendah: “Rara…”Dari hari pertama dia pindah ke rumah ini, aku sadar matanya beda. Bukan tatapan ayah ke anak tiri perempuan, tapi tatapan pria dewasa yang lagi berusaha keras nahan nafsu. Dia suka duduk di sofa ruang tamu sambil pura-pura baca koran atau scroll hp, tapi matanya sering nyelonong ke arahku pas aku lewat pakai tanktop ketat tanpa bra atau celana pendek hotpants yang nempel di bokong bulat kencangku. Kadang “tak sengaja” nyenggol badanku di dapur sempit, tangannya nyentuh pinggang atau bokongku sekilas, lalu minta maaf dengan senyum tipis yang bikin perutku mules dan memek basah pelan. Aku pura-pura cuek, tapi dalam hati deg-degan parah. Malam-malam aku sering bangun tengah malam karena mimpi basah: mimpi dia angkat aku ke meja dapur, buka celana dalamku pakai gigi, lalu genjot kasar sampai aku jerit nama dia berulang-ulang.Mama kerja sebagai direktur marketing di perusahaan multinasional Jepang, jadwalnya padat banget. Minimal seminggu dinas ke luar kota atau luar negeri, kadang dua minggu kalau ada expo atau negosiasi besar. Rumah jadi sepi berdua aja sama Pak Budi. Awalnya kami biasa aja: masak bareng di dapur, nonton film Netflix di ruang keluarga, ngobrol ringan tentang kuliahku atau proyeknya. Tapi lama-lama ketegangan itu muncul. Dia suka bilang hal-hal ambigu sambil matanya turun ke dada atau paha aku: “Rara makin dewasa ya… badannya bagus banget sekarang, pasti banyak cowok yang ngejar.” Aku cuma ketawa kecil sambil pura-pura sibuk main hp, tapi memekku langsung basah dan berdenyut setiap dia ngomong gitu. Aku mulai sengaja pakai baju minim di rumah: tanktop tipis tanpa bra pas sarapan, hotpants pas nonton TV, atau tidur pakai lingerie pendek kalau tahu dia masih bangun.Malam itu Jumat, tanggal 10 Oktober 2025. Mama baru saja berangkat ke Singapura jam 6 sore untuk konferensi dua minggu penuh. Aku pulang dari kampus jam 8 malam, capek habis presentasi kelompok yang molor karena dosen cerewet. Mandi cepet, pakai tanktop putih tipis tanpa bra—puting coklat muda aku kelihatan samar kalau cahaya lampu kamar nyala—sama hotpants denim pendek banget yang nempel ketat di bokong bulat kencangku. Rambut panjang hitam terurai basah, selimut cuma nutupin dari pinggang ke bawah. Aku rebahan di kasur king size kamarku, kaki sedikit terbuka, posisi telentang santai. Lampu kamar redup, cuma lampu tidur kuning kecil di meja samping nyala. AC diatur 18 derajat, dingin banget, bikin putingku mengeras meski belum disentuh siapa-siapa.Jam sekitar 2:15 pagi, aku setengah sadar. Ada hembusan napas hangat di leherku. Bau parfum kayu maskulin Pak Budi campur keringat pria dewasa langsung nyebar ke hidungku, bikin badan langsung panas. Aku pura-pura tidur pulas, mata tertutup rapat, napas dibuat pelan dan teratur seperti orang lelap.Tangan kasar, besar, pelan-pelan nyentuh paha kananku dari bawah selimut. Jari-jarinya kasar karena sering pegang alat berat di proyek, tapi gerakannya hati-hati sekali dulu. Naik pelan ke paha dalam, jempolnya nyentuh garis celana dalam tipis hitam aku. Aku ngerasa getaran listrik langsung nyebar ke seluruh badan, memek mulai basah pelan. Celana dalamku udah lembab dari mimpi basah tadi sore pas aku istirahat sebentar di kamar.“Rara… cantik banget tidurnya… badanmu mulus sekali… Papa nggak tahan lagi tiap malam liat kamu begini…” bisiknya pelan, suaranya serak penuh nafsu, napasnya berat dan panas di telingaku.Dia angkat selimut pelan banget supaya aku nggak bangun. Tanktop aku digeser ke atas sampe dada terbuka lebar. Payudaraku naik turun pelan, puting coklat muda udah tegang karena dingin AC dan antisipasi. Pak Budi mendesah panjang, hampir seperti growl kecil di tenggorokan. Jari telunjuknya muter pelan di puting kiri, lalu cubit ringan. Aku nahan desah, tapi badan bereaksi—puting makin keras, memek berdenyut dan basah lebih banyak.Tangan kirinya turun lagi, masuk ke dalam hotpants. Jari tengahnya nyentuh bibir memek dari luar celana dalam. Udah basah banget, kainnya lengket menempel di bibir memek yang tebal dan sensitif. Dia geser celana dalam ke samping, langsung nyentuh klitoris aku yang udah bengkak. Muter pelan, tekan ringan, lalu gesek naik turun lambat. Aku gigit bibir bawah dalam-dalam biar nggak mendesah keras.“Basah sekali, Nak… kamu mimpi apa sampe begini? Atau… kamu pura-pura tidur dan nikmatin sentuhan Papa?” bisiknya lagi, suaranya gemetar karena nafsu yang udah memuncak.Aku masih tahan pura-pura tidur. Jari tengahnya masuk pelan ke dalam memekku—sempit, panas, licin banget. Dia ngocok pelan dulu, keluar masuk, lalu tambah jari telunjuk. Bunyi crek-crek kecil terdengar di kamar sepi malam itu. Aku nggak tahan lagi, pinggul naik sedikit ikut irama jarinya tanpa sadar. Napasku mulai nggak teratur, dada naik turun lebih cepat.Akhirnya aku buka mata pelan, pura-pura baru bangun dari tidur lelap. “Pa… Papa ngapain…?” suaraku lemes, setengah takut setengah pengen, mata masih sayu dan berair.Pak Budi kaget sesaat, matanya melebar. Tapi tangan kanannya masih di dalam memekku, jarinya tetep gerak pelan mengocok. “Rara… Papa… Papa nggak tahan lagi liat kamu tidur begini setiap malam. Maafin Papa ya, Nak… Papa pengen kamu banget dari dulu. Dari pertama Mama bawa Papa ke rumah ini.”Dia nggak narik tangan. Malah jarinya ngocok lebih cepat, lebih dalam, nambah tekanan di titik G. Aku mendesah keras, tangan aku pegang lengannya yang kekar dan berurat.“Pa… ahh… enak… tapi ini salah… Mama…”“Mama nggak ada dua minggu penuh. Dan memek kamu bilang enak banget, Nak. Lihat, melilit jari Papa erat, basahnya netes ke kasur. Kamu pengen Papa kan? Bilang jujur sama Papa.”Aku mengangguk pelan, air mata keluar karena campur aduk rasa bersalah, malu, dan nikmat luar biasa. “Pengen, Pa… pengen banget… masukin ya… aku mau kontol Papa…”Dia cabut jari, lalu berdiri sebentar di samping kasur. Buka kaos oblong hitamnya—dada bidang berbulu tipis, otot dada tegas, perut rata dengan garis otot samar. Lalu celana pendek olahraga abu-abunya diturunin. Kontolnya loncat keluar bebas—gede banget. Panjang sekitar 19 cm, tebal kayak pergelangan tangan aku, urat-uratnya menonjol tebal dan berdenyut, kepalanya merah besar udah basah precum banyak menetes ke lantai. Bulu kemaluannya hitam pekat rapi dipotong pendek.Aku telan ludah keras, mata nggak bisa lepas. “Pa… gede banget… aku takut koyak…”Dia naik ke kasur lagi, posisi di atas aku. Kontolnya ditempelkan di bibir memekku, gesek-gesek pelan biar licin dari cairan aku sendiri. “Tenang, Nak… Papa pelan dulu. Kalau sakit bilang ya. Papa nggak mau nyakitin kamu… Papa cuma mau puasin kamu.”Dia dorong pelan. Kepala kontolnya masuk, memekku langsung melar lebar, terasa koyak tapi enak luar biasa. Aku jerit kecil, tangan pegang bahunya yang lebar dan keras.“Aduhhh! Sakit Pa… gede banget… ahh… pelan…”“Tenang… tarik napas dalam… Papa masuk pelan…” Dia dorong lagi, setengah masuk. Memekku penuh, dinding dalam terasa membentang maksimal. Dia tarik keluar pelan, masuk lagi lebih dalam. Lama-lama aku terbiasa, pinggul aku mulai goyang ikut iramanya, memek melilit kontolnya erat.“Pa… lebih cepet… ahh… enak sekali… dalem banget… ahhh!”Dia langsung nafsu membara. Dorongannya jadi kasar, dalam, cepat. Kasur king size bergoyang keras, bunyi plek-plek basah menggema di kamar. Payudaraku goyang-goyang liar, dia remas kasar dengan dua tangan, cubit putingku kuat sampe aku jerit nikmat.“Ngentot anak tiri sendiri… enak banget, Rara! Memek kamu ketat, panas, melilit kontol Papa kayak pengen ditelan selamanya! Kamu suka ya diginiin Papa?”“Aaahh! Pa… sodok dalem terus… robek memek aku… ahhh! Lebih keras lagi! Aku suka… aku suka kontol Papa!”Dia balik badanku kasar, posisi doggy. Bokongku diangkat tinggi, dia tampar keras berulang-ulang sampe bokong merah membara, bekas telapak tangan jelas terlihat di kulit putihku.“Plak! Plak! Plak! Bokong kamu empuk banget, Nak! Suka ditampar ya? Suka diginiin sama Papa? Bilang!”“Suka Pa… tampar lagi… ahh… tarik rambut aku… sodok memek aku kasar dari belakang! Aku pelacur Papa sekarang!”Dia pegang rambut panjangku, tarik ke belakang sampe leher terangkat, dada aku maju. Kontolnya ngebor memekku brutal dari belakang. Setiap sodokan nempel ke dinding rahim, bunyi basah keras, memekku kedutan-kedutan tak terkendali. Aku jerit-jerit nggak karuan, air mata nikmat mengalir ke pipi.“Pa… aku mau keluar… ahhh… keluar bareng ya… isi memek aku… creampie aku Pa! Isi penuh!”Dia percepat lagi, dorongan terakhir brutal banget. Kontolnya berdenyut keras di dalem, sperma muncrat banyak—panas, kental, penuh. Luber keluar dari sela-sela memek yang merah bengkak, netes ke kasur.Kami ambruk bareng, napas ngos-ngosan. Dia peluk aku dari belakang, kontolnya masih setengah keras di dalam memekku yang kedutan. “Rara… ini rahasia kita selamanya ya. Mama nggak boleh tau.”Aku balik badan pelan, cium bibirnya dalam. “Rahasia kita, Pa. Tapi… besok malam lagi ya? Aku suka kontol Papa… pengen lagi.”Dia nyengir nakal, tangannya remas bokongku pelan. “Tiap Mama dinas, Papa bakal puasin kamu sampe puas. Memek kamu udah kecanduan kontol Papa sekarang.”Malam itu kami nggak langsung tidur. Setelah istirahat 15 menit, dia angkat aku ke kamar mandi dalam kamar. Di bawah shower air hangat, dia ngentot aku lagi dari belakang sambil aku nyender ke dinding ubin. Air deras membasahi badan kami, tangannya remas payudaraku, cubit puting, sementara kontolnya masuk keluar pelan dulu lalu kasar lagi. Aku orgasme kedua di kamar mandi, kaki lemas sampe dia harus angkat pinggulku biar tetep berdiri. Creampie kedua malam itu, sperma campur air mandi netes ke lantai keramik.Pagi harinya, Sabtu, kami bangun telanjang di kasur. Dia masak sarapan, tapi sebelum makan, dia tarik aku ke meja dapur. Duduk aku di atas meja, kaki dibuka lebar, lalu dia jongkok dan jilat memekku yang masih bengkak dari malam tadi. Lidahnya muter di klitoris, nyedot kuat, masukin ke dalam. Aku jerit lagi, tangan narik rambutnya. Dia berdiri, kontolnya udah keras lagi, langsung sodok masuk. Ngentot di meja dapur, piring-piring bergoyang, aku creampie lagi pagi itu.Siang harinya, pas aku kuliah online dari kamar, dia masuk diam-diam. Tarik aku dari kursi, baringin di lantai karpet, buka celana dalamku, lalu ngentot doggy sambil aku masih pakai headset. Aku nahan suara biar temen kelas nggak denger, tapi dia tampar bokong pelan dan bisik kotor: “Memek anak tiri Papa enak banget… Papa pengen isi terus…” Creampie ketiga siang itu, sperma netes ke karpet.Malam Minggu, dia bawa aku ke ruang tamu. Ikat tanganku pakai dasi kerjanya di belakang, blindfold mata aku pakai kain tidur, lalu mainin badanku berjam-jam: jilat seluruh tubuh dari leher sampai paha, tampar bokong, cubit puting, finger sampai squirt dua kali, baru akhirnya ngentot kasar di sofa. Creampie keempat malam itu, sperma luber ke paha dan sofa.Hari Senin sampai Kamis, ritualnya hampir sama setiap hari: pagi di kamar mandi, siang di dapur atau ruang kerja, malam di kamar utama Mama. Dia suka variasi: posisi 69 di kasur, aku ngulum kontolnya dalam-dalam sampe tersedak, dia jilat memekku sampe squirt ke mukanya. Kadang dia cekik leherku pelan pas missionary, bikin aku orgasme lebih kuat. Kadang dia bisik romantis: “Papa cinta kamu, Rara… bukan sebagai anak tiri, tapi sebagai perempuan Papa.”Dua minggu itu terasa singkat. Tiap malam aku tidur dengan memek penuh sperma Pak Budi, badan penuh bekas gigitan, tamparan, dan cubitan. Dia suka peluk aku erat setelah selesai, cium kening, bisik “Papa sayang kamu” sambil tangannya mengelus rambutku. Aku suka ngerasa aman dan dimiliki sepenuhnya sama dia.Sampai sekarang, tiap Mama pergi dinas, ritualnya sama: aku tidur pakai baju minim, pura-pura tidur, tunggu tangan kasar Pak Budi menyentuh. Dan setiap kali, aku “bangun” dengan kontol gede dia di dalam memekku.Rahasia kami. Panas. Terlarang. Dan tak terlupakan selamanya.