Shelsea lahir dari rumah yang penuh suara, tetapi bukan suara tawa. Sejak kecil, telinganya terbiasa menangkap teriakan orang tua yang bersahutan, piring pecah, pintu dibanting. Rumah itu tidak pernah sunyi, namun hampa dari kehangatan.
Usianya baru tujuh tahun ketika ia mulai mengerti apa itu ketakutan. Anak kelas dua sekolah dasar seharusnya sibuk menggambar pelangi atau menulis karangan tentang cita-cita. Shelsea hanya menunduk. Pensilnya menari pelan di atas kertas
“Aku ingin rumahku tenang. Aku ingin ayah dan ibu berhenti berteriak.”
Ia tak pernah menunjukkannya pada siapa pun. Kertas itu ia lipat, ia selipkan ke dalam buku, lalu disimpan rapat di laci kecil di kamarnya. Sejak itu, ia belajar bahwa segala sesuatu lebih aman jika dipendam sendiri.
Shelsea bukan gadis yang menonjol di sekolah. Tubuhnya kecil, wajahnya pucat, dan ia jarang bicara. Justru karena itulah ia jadi sasaran. Teman-temannya mengejek cara ia berjalan, sepatunya yang sudah robek, segalanya yang ada pada dirinya selalu di ejek.
“Dasar aneh!”
"Hii, setan!"
"Hus-hus pergi, najis."
"Awas ada setan! Hus, munggir!!"
Shelsea diam. Ia ingin melawan, tapi lidahnya kelu. Matanya panas, namun air mata ia tahan sampai di rumah. Ia belajar bahwa menangis di hadapan mereka hanya akan membuat ejekan semakin menjadi-jadi. Maka, saat sampai di rumah, di balik selimut tipis, barulah ia menangis sendirian. Tidak ada yang tahu betapa hancurnya ia.
Usianya terus bertambah, tapi luka dalam dirinya tidak pernah sembuh. Di usia remaja, ketika anak-anak lain sibuk merencanakan masa depan atau berbagi rahasia kecil dengan sahabat, Shelsea sibuk menyembunyikan keinginannya yang paling gelap 'bukankah lebih baik kalau aku tidak ada?' keinginan itu selalu muncul dalam pikirannya.
Malam-malam ia menatap jendela kamarnya yang terbuka. Langit hitam pekat, dan ia membayangkan dirinya melompat, terbang ke bawah, lalu semua rasa sakit berhenti. Pernah juga ia menatap pisau di dapur, merasakan dinginnya logam di ujung jari, lalu buru-buru meletakkannya kembali. “Jangan,” bisiknya pada diri sendiri, meski dalam hati ia nyaris berharap punya keberanian.
Sampai suatu malam, dalam hening yang panjang, ia menelan beberapa butir obat. Tangannya gemetar, napasnya tercekat. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas. Ia terbaring di lantai, matanya memandang kosong ke langit-langit kamar. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang menyadari.
Keesokan paginya, ia bangun dengan kepala berat dan tubuh pegal. Dunia tetap sama, orang tuanya tetap bertengkar, sekolah tetap melelahkan. Hanya satu yang berbeda, rahasia baru tertambah di hatinya. Rahasia tentang luka yang tidak boleh diketahui siapa pun.
***
Shelsea menyimpan semuanya sendiri. Bahkan ketika orang tuanya akhirnya benar-benar berpisah, ia tidak menitikkan air mata. Ia sudah terlalu letih. Hanya ada sepi, dan sepi itu seperti teman yang setia menemaninya.
Namun, suatu keputusan mengubah jalannya hidup. Ibunya memasukkan Shelsea ke sebuah pondok tahfidz.
Awalnya ia menolak keras. Baginya, dunia luar sama menakutkannya dengan rumah sendiri. Tapi ibunya bersikeras. “Mungkin di sana kamu akan menemukan ketenangan,” begitu kata ibunya.
Hari pertama, Shelsea melangkah masuk dengan hati gemetar. Pondok itu sederhana, dengan kamar berjejer, halaman sempit, dan mushola kecil di tengah. Suara lantunan Qur’an bergema, berbeda sekali dengan suara bentakan di rumahnya dulu.
Ada rasa asing. Ada juga rasa hangat.
Hidup di pondok tahfidz punya ritmenya sendiri, bangun sebelum subuh, berwudhu, shalat berjamaah, lalu menghafal ayat demi ayat. Siang belajar, sore muraja’ah, malam kembali bersama Qur’an.
Shelsea mulai menemukan sesuatu yang belum pernah ia rasakan ketenangan dalam lantunan ayat-ayat itu.
Namun, luka tidak hilang secepat itu. Ada malam-malam ketika pikirannya kembali dipenuhi bayangan lama suara pertengkaran orang tua, ejekan teman-teman, rasa sakit setelah menelan obat. Ia kembali menggigil sendirian, menatap obat kecil yang disimpannya diam-diam.
Tangannya sempat gemetar, hampir mengulang kesalahan lama. Tapi kali ini, ada bisikan lain dari dalam dirinya.
“Jika aku menyerah sekarang, siapa yang akan tahu bahwa aku pernah berjuang sejauh ini?”
Pertanyaan itu menghentikan tangannya.
Air matanya jatuh, bukan lagi karena putus asa, tapi karena doa yang akhirnya pecah dari bibirnya.
Hari-hari di pondok mengajarinya arti sabar. Ia tidak langsung terbuka pada siapa pun, bahkan teman-temannya. Tapi sedikit demi sedikit, ia belajar tersenyum.
Ada teman yang menemaninya makan, ada yang menepuk bahunya saat setoran hafalan berhasil. Ada yang sekadar duduk di sampingnya ketika ia diam terlalu lama. Mereka tidak tahu luka-lukanya, tapi kehadiran mereka seperti obat yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Shelsea masih sering merasa sendirian. Masih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tapi kini ia punya sesuatu yang bisa menggenggamnya ketika rasa itu datang, Al-Qur’an.
Shelsea tumbuh menjadi gadis dewasa dengan hati penuh rahasia. Tidak ada yang tahu tentang malam-malam gelapnya, tentang percobaan bunuh dirinya, tentang obat-obat yang pernah ditelannya, tentang tangis sunyi di balik selimut. Semua tetap terkunci rapat.
Namun, ia kini berbeda.
Ia bukan lagi anak kecil yang terjebak dalam rumah penuh pertengkaran. Ia bukan lagi remaja yang hanya tahu rasa putus asa. Ia kini seorang perempuan yang memilih bertahan, yang menjadikan hafalan Qur’an sebagai penopang setiap langkahnya.
hingga pada suatu siang, usianya genap delapan belas tahun, ia duduk di serambi pondok. Udara panas, burung yang berkejaran di antara awan. Buku catatannya terbuka, dan ia menulis dengan tangan bergetar tapi dengan hati yang lebih tenang.
“Aku adalah gadis dengan penuh luka dan rahasia. Tidak ada yang tahu berapa kali aku ingin menghilang. Tidak ada yang tahu berapa kali aku hampir menyerah. Tapi aku masih di sini. Aku masih bernafas. Aku masih menghafal ayat demi ayat. Dan mungkin, itu sudah cukup.”
Shelsea menutup buku itu, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasa rahasia yang disimpannya bukan hanya beban, melainkan juga tanda bahwa ia pernah bertahan.