Warna kemerahan terlihat merembes dari pakaian gadis yang terduduk di lantai. Pecahan botol berserakan di lantai. Gadis itu mengangkat sebelah bibirnya sambil memejamkan matanya. Badannya terasa ngilu, bahkan bibirnya kelu untuk sekadar mengucapkan sepatah kata. Matanya memanas. Kepalanya tetap tertunduk dalam.
“Bagaimana bisa kamu terlambat hingga melewatkan jam pelajaran hah!?” Suara barington itu menggema ke seluruh sudut ruang. Tatapannya tajam, wajahnya kemerahan. Urat-uratnya nampak menonjol jelas.
Gadis itu masih tertunduk dan diam seribu bahasa. Apapun alasannya untuk membela, hal itu tak akan membuat lelaki paruh baya di depannya menghentikan aksinya. Lelaki di depannya semakin menggenggam erat ikat pinggangnya, bersiap melayangkan cambukan. “AMAYA! BERANI KAMU MENGABAIKAN SAYA!”
Ctar! Ctar! Ctar!
Gadis itu memejamkan matanya. Setiap kali ikat pinggang itu mengenainya, ia menahan nafas. Punggungnya panas. Perih. Setelah puas, pria itu melempar asal ikat pinggangnya, “Al! Kemari!” Teriaknya sambil memalingkan tubuh. Amaya langsung luruh, tubuhnya seakan tak bertenaga. Napasnya memburu, seakan oksigen hanya sedikit.
“Iya, yah. Ada apa?” Ujar seorang laki-laki dengan tubuh tinggi, wajahnya terlihat lelah, dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Namanya Alvero. Ia adalah kakak Amaya. “Kurung dia di gudang belakang. Jangan keluar tanpa persetujuan ayah,” ujarnya lalu segera pergi, menyisakan kakak beradik yang tak pernah akur sejak 10 tahun lalu. “Berdiri. Nggak usah manja.” ujar Al ketus. Amaya berdiri dengan susah payah, apalagi punggungnya terluka, ia hanya meringis menahan nyeri. “Ck, Lelet.” Laki-laki itu menarik paksa lengan Amaya dan menyeretnya hingga tepat di pintu gudang. “Dengar ayah bilang apa kan? Awas aja berani kabur." Setelah menyelesaikan kalimatnya, ia segera mendorong tubuh Amaya masuk ke dalam. Gadis itu terbentur meja dan terbatuk. Al segera mengunci gudang dan pergi.
Hawa dingin semakin menjalar ke seluruh tubuh. Rasa dinginnya menusuk hingga ke tulang-tulang. Habis kehujanan, terkena pecahan kaca ditambah lagi cambukkan, ahh, rasanya remuk sebadan. Namun, itu semua sudah biasa baginya. Apa itu kebahagiaan? Apa itu keluarga cemara? Bagaimana rasanya dicintai? Bagaimana rasanya kehangatan keluarga. Amaya mendekap erat lututnya, setidaknya ia bisa sedikit menghangatkan tubuhnya sendiri. Kepalanya mendongak, menatap celah kecil di tembok lusuh. Terlihat sebuah bintang terang di kegelapan malam.
“Bunda, Kenapa bunda ninggalin Aya sendirian? Kata bunda, Kak Al sama ayah sayang Aya, Aya udah jadi anak penurut Bunda. Tapi tetap aja sakit Bunda. Aya sakit Bunda. Aya mau disayang... Mau dipeluk, Aya... Aya...” Kelopak matanya sudah tidak kuat membendung air matanya, tangisnya pecah. Ia membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia tidak boleh menangis. Tidak lama kemudian ia terlelap dengan air mata yang masih menetes.
Amaya merasakan sesuatu yang dingin membasahi sebagian tubuhnya. Matanya langsung terbuka saat mendengar suara sesuatu membentur tembok. "Bangun. Sekolah." Amaya menatap punggung Alvero yang menjauh. ia menghela napas panjang, biarlah. Toh, ini semua sudah biasa baginya. Amaya segera bersiap ke sekolah. ia memakai cardigan panjang berwarna milo. Rambutnya dibiarkan terurai karena lehernya terlihat sedikit merah bekas cambukan ayahnya semalam.
Bagaimana caranya ia pergi ke sekolah? Dia selalu berangkat menggunakan angkot. Berdesakan dengan ibu-ibu yang pulang dari pasar sudah menjadi hal lumrah baginya. "Ih, Mang, kok berhentinya lama sih? Anak saya keburu telat, nih!" Ujar seorang ibu dengan anak lelaki berbaju merah putih khas anak SD. "Maaf, Bu. Di depan macet total." Ujar sopir dengan wajah pias. "Nggak bisa menyalip ya, Mang?" Ujar ibu yang lain. Sopir itu hanya menggelengkan kepalanya.
Amaya menggigit ujung kukunya. Matanya menatap kesana kemari, memikirkan banyak hal. "Mang, saya turun di sini saja," Ucap Amaya kemudian, "Eh, Neng, masih jauh dari sekolahnya, Neng," Balas sopir tak percaya. "Gapapa, Mang. Saya di sini saja." ucapnya, diakhiri dengan senyum seadanya. Amaya berjalan cepat di trotoar. Sekarang ia harus mencari ojek motor agar segera hingga ke sekolahnya.
Motor sport hitam tiba-tiba berhenti di dekatnya. Pengemudinya menatap Amaya dari atas sampai bawah. "Kamu anak Cendrawasih?" ujarnya tanpa melepas helm. Amaya mengangguk, dan menatap pengemudi itu. Siapa dia? Pikirnya. "Ayo naik." Amaya menatap lelaki itu dengan bingung. "Aku juga sekolah di sana," lelaki itu berusaha meyakinkan. Amaya terdiam. Ia menengok ke kanan dan kiri karena jam segini ojek biasanya sudah penuh! "Cepatlah! Nanti terlambat." Lelaki itu menatap Amaya. Karena tak punya pilihan lain, dia pun ikut lelaki yang tak dikenalnya itu untuk berangkat ke sekolah.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan apa pun. Mereka seakan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di sekolah, Amaya segera turun dan berucap, "Terima kasih." Laki-laki itu menatap Amaya tidak percaya. Padahal, ia berniat menanyakan letak kantor guru.
Setelah pelajaran berakhir, Amaya tetap duduk diam. Jari-jarinya terus mengetuk-ngetuk meja. Keringat dingin membasahi sebagian wajahnya. Siapa sangka, nilai ulangannya hanya 8/10. Karena di kelas hanya tersisa beberapa orang, Amaya beranjak dengan langkah berat. Dia duduk di bangku dekat taman. Dia menggigiti ujung kukunya lagi, rasa cemasnya belum menghilang. Saat rintik hujan turun, Amaya mendongak dengan mata terpejam. Dia merasakan setiap tetes air menerpa wajahnya. Lima belas menit berlalu, dan selama itu pula seseorang menatapnya dari kejauhan. Setelah merasa cukup tenang, Amaya beranjak. Ia harus segera kembali ke... Rumah? Apa itu bisa disebut rumah?
Hari demi hari berlalu dengan luka yang sama. Tidak ada hari tanpa rasa sakit. Entah sudah berapa lama ia menanggung rasa itu sendirian. Rasa yang tak pernah bisa diobati. Seberapa keras pun ia berusaha, mata tak pernah berbohong, bukan?
Dalam hening malam, Amaya selalu terisak, ditemani oleh seekor kucing hitam yang bernama Kuro. Kucing hitam itu ia temukan sebatang kara saat masih bayi. Ia merawatnya sejak itu, dan kini Kuro adalah satu-satunya teman yang dimilikinya.
"Kuro, Apa aku menyerah saja ya?" Amaya menatap kucingnya lekat, seakan kucingnya bisa memahami apa yang ia bicarakan. Kucingnya terdiam, balas menatap Amaya dalam, seakan memberi jawaban, 'Apa maksudmu?’
"Aku kangen Bunda... Hanya Bunda yang sayang aku, Kuro. Aku sudah lelah dengan semuanya..." Kaki kucing itu menyentuh mulut Amaya seakan menyurunya untuk berhenti berbicara, "meong..." Kucing itu mengusapkan kepalanya ke tangan Amaya. Amaya tersenyum, senyum yang mungkin belum pernah dilihat orang-orang. "Kuro, jangan tinggalkan Aya, ya..." Amaya memeluk kucingnya dengan penuh kasih sayang. Nyatanya, ia memiliki perasaan, tetapi kenapa ayah dan kakaknya tidak?
“Kamu terlihat seperti orang yang ingin menghilang. Tapi aku ingin tahu kenapa kamu belum melakukannya.” Sebuah surat tanpa nama muncul di laci Amaya. Dia membacanya lagi dan lagi. Matanya menatap sekeliling. Selama ini tak ada yang memperhatikannya di kelas ini. Lalu, siapa yang memberinya surat?
Setelah pembelajaran, Amaya kembali ke bangku dekat taman sekolah. Surat itu masih ia simpan. Ia membuka kembali surat itu, tulisan tangannya lumayan rapi, rasanya pengirim itu bisa memahami rasa sakitnya. Namun ia tak ingin berharap, ia tak mau dikecewakan lagi.
“Ekhmmm.” Amaya segera menoleh. Alisnya mengerut, siapa lelaki itu? Dia tak pernah melihatnya. “Jangan bilang lo enggak ingat gue!?” Ujar lelaki itu sambil mendekatkan wajahnya. Amaya semakin mengerutkan keningnya pertanda ia memang tak mengenali lelaki yang berdiri disebelahnya ini.
“Gue yang waktu itu memboncengi Lo sampai sekolah kalau lo lupa.” Lelaki itu berkata lalu duduk di sebelah Amaya. Amaya segera merapat ke ujung bangku. Hening. “Gue Arvien, lo?” Amaya menoleh, lelaki itu menatapnya dengan penuh harap. “Amaya,” Jawabnya singkat. Lelaki itu terdengar menghela napas panjang. “Lo irit banget ngomong, ya. Rasanya kayak gue sendiri yang asik dari tadi.” Ungkap lelaki bernama Arvien itu. “Sorry.” Amaya berdiri. Ia memilih untuk menghindar, toh selama ini ia juga sendiri.
“Kenapa lo milih buat bertahan?” Ungkapan Arvien membuat Amaya langsung terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Perlahan ia membalikkan badannya, “Surat itu...” “Ya, gue yang naruh surat di laci lo,” sarkas Arvien. Mata Amaya membulat sempurna. “Bagaimana...” Amaya menatap Arvien intens, mengamati detail yang tampak pada diri lelaki yang baru saja ia temui. “Mata enggak bisa bohong kan?” Potong Arvien, ia mendekat.
“Amaya, bagaimana caranya supaya gue bisa bikin hidup lo lebih baik lagi? Dunia ini tidak semengerikan itu. Gue mau nunjukin ke lo kalau pilihan lo untuk bertahan itu tidak salah.” Arvien menatap mata sendu Amaya, melihat bagaimana rasa sakitnya menjadi seorang Amaya. Amaya membalas tatapan mata Arvien, sorot matanya dalam, rasanya seperti membuat siapa pun bisa tersesat setiap kali menatapnya.
“A-aku...” Amaya tidak tahu harus menjawab apa, karena ini pertama kali baginya seseorang berkata seperti itu kepadanya. Rasanya antara bahagia tapi juga takut. Takut bahwa ternyata semuanya hanyalah khayalannya semata. Takut bahwa semuanya hanyalah kebohongan. “Gue tau, lo nggak bisa menerima hadirnya gue yang tiba-tiba. Gue tau lo butuh waktu buat mencerna semua kejadian sekarang. Intinya, gue mau jadi tempat lo berkeluh-kesah, tempat lo bersandar, dan gue mau bawa lo ke tempat dimana lo bisa menghilangkan rasa sakit dalam diri lo, Amaya.” Tanpa Amaya sadari, bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
Waktu berlalu. Amaya tak lagi sendiri. Arvien selalu ada untuk dirinya, ia seakan menjadi tempat untuknya kembali pulang. Setiap sakit yang dideritanya, Arvien selalu mengobati setiap luka yang ada. Amaya mulai merasakan sesuatu yang membuncah di dadanya. Sebuah perasaan yang seharusnya tak boleh ada di antara mereka. Cinta. Amaya terlanjur mencintai Arvien. Lelaki yang bisa membuatnya merasakan indahnya dunia. Tetapi lelaki itu pula yang bisa menghancurkannya berkali-kali lipat.
“Amaya, aku hanya ingin membantumu merasakan apa yang seharusnya kamu rasakan. Jangan mencintaiku, Amaya. Kau akan terluka.” Hujan turun begitu deras, Amaya menatap Arvien tak percaya. “Kau bilang kau bisa membantuku untuk sembuh… tapi kenapa aku malah semakin berdarah Arvien?” Isak tangisnya tak terbendung. Air matanya luruh bersamaan dengan rintik air hujan yang begitu deras.
“Karena mungkin aku hadir bukan untuk menyembuhkan, Tapi untuk mengingatkan bahwa kita sama-sama masih hidup, Amaya. Kau tahu, aku juga tak ingin menyangkalnya. Aku pun mencintaimu Amaya, Namun semakin kita bersama, kita akan semakin terluka.” Arvien memegangi pundak Amaya, menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Jika cinta adalah luka, mungkin kita adalah takdir yang berdarah. Karena kita sudah terlanjur terluka, biarkan kita berdarah bersama Arvien, Aku menerimanya." Amaya membelai rahang Arvien, sambil tersenyum berharap Arvien menerimanya. Arvien menggeleng. “Maaf, Amaya. Aku terlalu mencintaimu sehingga tak ingin kau ikut terjebak dalam kesakitan abadi. Selamat tinggal.” Arvien mengecup pucuk kepala Amaya. Setelah itu ia berbalik badan dan tak pernah lagi menengok ke belakang. Arvien pergi. Kecupan terakhirnya di pucuk kepala terasa seperti cap selamat tinggal yang abadi.
Amaya tidak mengejar. Ia hanya berdiri menatap punggung yang terus menjauh. Ia teringat kata-katanya sendiri beberapa saat lalu, "Jika cinta adalah luka, mungkin kita adalah takdir yang berdarah. Karena kita sudah terlanjur terluka, biarkan kita berdarah bersama, Arvien. Aku menerimanya."
Ia telah menerima. Ia telah memilih luka abadi. Tapi tidak dengan Arvien. Lelaki itu terlalu mencintainya, sehingga tak ingin ia ikut terjebak.
Malam itu, Amaya langsung ke kamarnya, ke tempat tidur yang dingin. Kuro melompat, meringkuk di dadanya. Amaya membelai Kuro. Ia tahu, sekarang, ia benar-benar sendirian lagi. Tidak ada seseorang yang menyemangatinya lagi. Tidak ada yang mendengar keluh kesahnya lagi. Tidak ada lagi harapan yang membuatnya harus berjuang.
Ia mendongak, matanya yang sendu kini dipenuhi tatapan hampa, menerima realita yang Arvien coba selamatkan darinya.
"Aku akan bertahan," bisiknya, bukan pada Kuro, tapi pada dirinya sendiri, sambil tersenyum pahit.
"Namun, bukan karena aku ingin melihat dunia yang lebih baik, Arvien. Aku bertahan, karena aku sudah terbiasa dengan darah yang menetes. Karna aku adalah luka itu sendiri."