Hidup Elias tidak pernah mudah. Anak kedua dari tiga bersaudara, ia belajar tanggung jawab sejak kecil. Kakaknya, Eldric, selalu menjadi pelindungnya, sementara adik perempuannya, Isabelle, adalah alasan ia bertahan. Mereka tinggal di rumah kumuh, berjuang untuk setiap suap nasi. Tapi Elias selalu memikirkan bagaimana membahagiakan keluarganya. Sejak ia mulai bekerja, hidup mereka sedikit lebih baik. Ia mengurus Eldric dan Isabelle, memastikan mereka tidak lapar dan tetap hangat.
Negara utara, dengan ambisinya, menuntut lebih dari sekadar keluarga kecil itu. Mereka menyerang, menuntut Alkemis misterius yang konon tersembunyi dalam keluarga mereka. Pertarungan sengit pun terjadi, ledakan sihir dan debu beterbangan. Di tengah chaos itu, Elias menghadapi musuh terkuatnya, mengorbankan diri untuk menyelamatkan keluarga. Tubuhnya hancur, dan ia dikubur. Ordo gereja datang, memberikan ucapan belasungkawa dan beberapa koin emas—cukup untuk menghidupi Eldric dan Isabelle sebentar. Isabelle menangis tanpa henti, sementara Eldric melepaskan bunga ke udara, menatapnya hilang di langit sambil berbisik, “Kau pantas lebih dari ini, Elias.”
Tetapi takdir memiliki cara yang aneh. Saat malam menelan desa, sesuatu yang supranatural terjadi. Elias terbangun di dalam kuburnya, tubuhnya terasa berat tapi hidup kembali. Ia menyadari, dunia ini memberinya kesempatan kedua, tapi ia tidak bisa memberi tahu siapa pun. Ia harus merahasiakan kebangkitan itu.
Ia muncul kembali di desa, tapi bukan sebagai dirinya. Ia menyamar dengan kostum konyol: wajah dicat, hidung merah bulat, pakaian berwarna cerah, seperti badut yang menghibur anak-anak. Tidak ada yang menyadari siapa ia sebenarnya. Isabelle yang menangis dulu kini menatap badut itu dengan mata berbinar, tersenyum, tanpa mengetahui bahwa yang membuatnya tersenyum adalah saudara yang sama yang pernah ia kehilangan.
Leon, teman dari jauh yang setia, melihat “badut” itu dan merasakan sesuatu yang aneh, tapi ia tidak bisa menempatkannya. Ia meneteskan air mata, mengingat masa lalu yang kelam dan keluarga yang selamat berkat pengorbanan Elias.
Di balik kostum dan senyum konyolnya, Elias menyimpan semua rasa sakit, semua pengorbanan, dan semua cinta yang pernah ia rasakan. Ia menyadari satu hal: senyum konyolnya, meski tampak lucu dan absurd, adalah cara ia melindungi keluarganya, cara ia tetap dekat dengan mereka, tanpa mengungkapkan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Di malam yang sunyi, saat Eldric dan Isabelle tertidur, Elias menatap bintang dan berbisik, “Your silly smile is not wrong.” Ia tahu, satu-satunya cara ia bisa menjaga keluarganya adalah dengan tetap bermain peran ini—badut ceria di dunia yang penuh rahasia, namun hatinya tetap sama: saudara yang selalu ingin mereka aman, selalu ingin mereka bahagia.
Dan begitu, kisah Elias, sang badut dengan hati seorang pahlawan, terus berlanjut—menyembunyikan kebenaran di balik senyum konyolnya, melindungi yang ia cintai, sampai hari ketika rahasia itu siap untuk diungkapkan.