Ibu Ratna selalu berdoa dengan suara pelan.
Bukan karena takut didengar orang lain, tapi karena ia percaya doa yang terlalu keras terdengar seperti tuntutan. Dan Tuhan, menurutnya, tidak suka dituntut.
Setiap malam, setelah Damar tertidur, Ratna akan duduk di tepi ranjang, merapikan selimut anak laki-lakinya, lalu menautkan jari-jari tangannya.
“Lindungi anakku,” bisiknya.
“Lindungi dia dari dunia yang kejam.”
Damar adalah anak yang mudah menangis. Terlalu pendiam. Terlalu lembut untuk dunia yang gemar menguji yang lemah. Di sekolah, ia sering pulang dengan seragam kusut dan mata sembab. Ratna tidak pernah bertanya banyak. Ia tahu jawabannya. Dunia selalu punya alasan untuk kejam.
Kematian pertama terjadi pada hari Selasa.
Guru olahraga Damar ditemukan meninggal di rumah kontrakannya. Media bilang serangan jantung. Ratna membaca berita itu sambil berdiri di dapur, tangannya gemetar memegang ponsel. Ia ingat jelas bagaimana guru itu pernah menyeret Damar ke depan kelas dan menyebutnya “anak gagal”.
Malam itu, Ratna berdoa lebih lama.
Kematian kedua terjadi seminggu kemudian. Tetangga yang sering memaki Damar karena dianggap “aneh” terpeleset di kamar mandi dan lehernya patah. Ratna menghadiri pemakamannya dengan wajah tertunduk. Ia merasa mual, tapi tidak tahu kenapa.
Setelah kematian ketiga, Ratna berhenti menghitung.
Ia mulai memperhatikan pola. Semua orang yang pergi adalah mereka yang pernah menyakiti Damar. Secara langsung. Secara sengaja. Secara kejam.
Ratna mencoba berhenti berdoa.
Malam itu, ia hanya duduk di kamar, menatap Damar yang tertidur. Tapi kata-kata itu tetap keluar dari bibirnya, seperti kebiasaan yang lebih tua dari logika.
“Lindungi anakku.”
Keesokan harinya, sepupu Ratna—yang pernah menampar Damar karena dianggap memalukan—tewas dalam kecelakaan kerja.
Ratna muntah di kamar mandi.
Ia mulai takut pada doanya sendiri. Tapi ketakutannya kalah oleh ketakutan lain yang lebih besar: bagaimana jika ia berhenti, dan dunia kembali menyentuh Damar dengan tangan kotornya?
Damar tumbuh berbeda.
Ia tidak lagi menangis saat anak-anak lain menjauh. Ia tidak mengeluh saat guru memandangnya dengan jijik. Ia hanya diam. Mengamati. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya.
Suatu malam, Ratna bertanya pelan, “Kamu takut tidak, Nak?”
Damar menoleh. Senyumnya tipis. “Takut kenapa, Bu? Mereka selalu pergi, kan?”
Ratna merasa ada sesuatu yang runtuh di dadanya.
Ia sadar terlambat. Doanya tidak menciptakan perlindungan. Doanya menciptakan ruang kosong. Dunia disingkirkan satu per satu, dan yang tersisa hanyalah anaknya—sendirian, tanpa batas, tanpa empati.
Malam itu, Ratna berlutut lebih rendah dari biasanya. Air matanya jatuh ke lantai.
“Tuhan,” katanya dengan suara pecah,
“hentikan ini. Tolong. Jika harus ada yang pergi… ambil aku.”
Ia tertidur di lantai kamar dengan kepala masih tertunduk.
Pagi harinya, Damar menemukan ibunya terbaring kaku. Wajah Ratna tenang, seperti seseorang yang akhirnya selesai dengan doa panjangnya.
Orang-orang bilang Ratna meninggal karena serangan jantung. Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada kejanggalan.
Damar berdiri di samping jenazah ibunya sepanjang prosesi. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap.
Saat semua orang pergi, Damar duduk di samping ranjang kosong itu dan berbisik pelan—meniru suara ibunya.
“Terima kasih.”
Di luar rumah, dunia terasa lebih aman dari sebelumnya.
Karena kini, tidak ada lagi yang berdoa untuk menghentikannya.