Selama hidupnya yang pertama, Aiden kecil merasakan hangatnya pelukan seorang ibu yang begitu cantik dan lembut. Wajahnya selalu tersenyum, matanya bercahaya seakan menyimpan rahasia dunia. Ia ingat aroma bunga lilac yang selalu mengelilingi ibunya, suara tawa yang membuat hatinya tenang.
Namun pada suatu pagi, Aiden bangun dan ibunya telah tiada. Tidak ada sepucuk surat, tidak ada kata pamit. Hanya sebuah cincin berlian yang terselip di bawah bantalnya. Cincin itu begitu indah, berkilau seperti matahari di pagi hari, dan di situlah janji hidupnya dimulai: aku akan menemukanmu, ibuku, meski harus menempuh ribuan tahun.
Sejak itu, Aiden mulai mengarungi dunia. Namun kehidupan manusia fana terlalu singkat. Setiap kali ajal menjemput, tubuhnya hanyalah sekadar wadah—namanya tetap sama, namun wajah dan keluarga selalu berubah. Ia menjadi Aiden sang pedagang di kota pelabuhan, Aiden sang prajurit di kerajaan utara, Aiden sang penyair di lembah selatan, dan banyak lagi. Selama 3000 tahun, ia hidup, mati, dan hidup lagi. Hatinya tetap terikat pada cincin berlian dan kenangan ibunya yang tak tergantikan.
Di perjalanannya, ia bertemu berbagai tokoh. Ada Lyra, penyihir yang tampak manis tapi menyimpan ambisi gelap; Zerek, pedagang licik yang selalu mencoba menipunya; dan Kael, teman setia yang selalu membantunya keluar dari bahaya. Ada juga Navi, sosok kecil berambut perak, mata biru cerah, selalu tersenyum imut, dan menjadi pemandu Aiden di dunia-dunia yang membingungkan, terutama saat ia menemukan sebuah game misterius bernama Hidup Mati Rahasia.
Di game itu, dunia dan kehidupan terhubung. Aiden bisa masuk ke dunia digital, menjelajahi level demi level, melawan monster, menyelesaikan misi, dan menemukan petunjuk tentang ibunya. Game itu tidak sembarangan; setiap NPC memiliki rahasia, setiap quest menyimpan teka-teki. Antagonis utama game, seorang penguasa bernama Vorthan, ternyata menyimpan rahasia paling gelap: ia telah memenjarakan ibunya, yang ternyata adalah seorang peri, ke dalam batu khusus agar menjadi "cahaya pengabul permintaan".
Setiap kali Aiden hampir menyerah, Navi selalu menemaninya dengan tawa imutnya, menunjukkan jalan dan menyemangatinya. "Kau pasti bisa, Aiden! Aku yakin ibumu menunggumu!" katanya sambil mengibaskan rambut peraknya yang berkilau seperti salju.
Pertarungan terakhir di game itu begitu brutal. Vorthan menggunakan kekuatan gelap untuk menahan Aiden, mencoba menghancurkan hatinya yang selama ribuan tahun tetap setia. Namun Aiden, dengan semua kehidupan dan pengalaman yang ia jalani, berhasil memecahkan teka-teki terakhir, menggunakan cincin berlian sebagai kunci untuk membebaskan ibunya.
Dan saat cahaya membelah langit digital dan dunia nyata, Aiden melihat sosok yang ia kenal sejak bayi: wajah cantik yang selalu ia ingat. Ibunya tersenyum, air mata menetes di pipinya. "Aiden… akhirnya kau menemukanku," katanya. Nama yang selama ribuan tahun ia tunggu, yang membuatnya terus hidup, kini terdengar dengan jelas, nyata, dan hangat.
Selama 3000 tahun, Aiden hidup, mati, dan bangkit kembali, menghadapi dunia, musuh, teman, dan misteri, semua demi satu tujuan: menemukan ibunya, Nairenya.
Dan kini, akhirnya, pencarian itu selesai