Selene duduk di ujung tebing, menatap hutan yang terbentang luas di bawahnya. Angin malam menyisir rambutnya, tapi ia tak merasa apa-apa. Semua orang bilang hati elf penuh cinta, tapi hatinya? Hampa. Sepi. Seperti ada ruang kosong yang tak pernah bisa diisi.
“Kau selalu sendiri, Selene,” suara lembut seorang teman terdengar dari belakang. Selene menoleh, itu Kael, elf yang sering mencoba mengajaknya bermain, tertawa, bahkan berbicara tentang hati dan rasa.
“Aku… aku biasa saja,” jawab Selene, tapi kata-katanya terasa tipis, hampir seperti uap yang hilang di udara.
Kael duduk di sampingnya. “Aku tak mengerti. Bagaimana mungkin seorang elf… tak pernah merasakan cinta?”
Selene menatap jauh, matanya kosong. “Mungkin aku… berbeda,” katanya pelan. “Mereka bilang cinta itu indah, tapi aku tidak pernah merasakannya. Tidak pernah.”
Kael diam sejenak, lalu tersenyum getir. “Aku pikir, bahkan yang berbeda pun punya rasa… tapi kau benar-benar… tidak.”
Malam itu Selene berjalan pulang sendirian. Ia melewati desa, di mana para elf muda tertawa, saling menggenggam tangan, berbagi kata manis. Ia hanya bisa menonton, rasanya seperti menatap dunia dari balik jendela tebal—dekat tapi tak bisa disentuh.
Di kamarnya, Selene menulis di buku catatannya. Kata-kata itu tidak tentang cinta. Kata-katanya tentang langit malam, tentang daun yang jatuh, tentang sunyi yang menyelimuti hatinya. Ia tidak bisa mencintai, tapi ia bisa mengamati, merasakan detail-detail kecil yang orang lain abaikan.
Kadang ia merasa iri. Kadang ia merasa putus asa. Tapi di saat yang sama, ada kebebasan. Kebebasan dari rasa sakit yang cinta bisa bawa. Selene mungkin tidak akan pernah tahu hangatnya genggaman tangan atau detak jantung yang mempercepat karena seseorang. Tapi ia tahu sesuatu yang lain: ia bebas dari rasa yang menghancurkan.
Ia menatap cermin, wajahnya yang cantik, matanya yang tajam, dan tersenyum tipis. “Aku mungkin tidak punya cinta,” pikirnya. “Tapi aku punya diriku sendiri. Dan itu sudah cukup.”