Pagi itu, aku ikut berpartisipasi.
Dengan card sederhana—bukan yang paling rapi, bukan yang paling bernilai... tapi jujur.
Aku menaruh namaku di sana, berharap ada ruang kecil untukku di antara hiruk dunia virtual yang katanya “keluarga”.
Aturannya jelas:
up trending, tag NN tim.
Aku lakukan.
Satu per satu, dengan tangan yang bahkan sedikit gemetar... karena aku tahu, aku datang bukan sebagai siapa-siapa.
Aku menunggu.
Jam bergeser pelan, dari pagi ke siang.
Notifikasi sunyi.
Tak ada follback.
Tak ada sapaan.
Tak ada tanda bahwa kehadiranku benar-benar dilihat.
Aku lalu ingat…
akulah salah satu dari segelintir orang yang berani mengetuk rumah GC itu dengan jujur.
Aku bilang apa adanya:
“Maaf, aku belum punya poin.”
Kalimat pendek.
Tapi mungkin terlalu jujur untuk dunia yang gemar angka.
Sejak itu, aku bertanya-tanya sendiri.
Apakah kejujuran memang membuat jarak?
Apakah nilainya kalah dari poin?
Atau akukah yang keliru—terlalu berharap bisa berbaur di dunia virtual yang warnanya abu-abu,
tak jelas mana tulus, mana sekadar formalitas?
Aku tidak marah.
Hanya… kecewa yang tak tahu harus diletakkan di mana.
Rasanya seperti berdiri di depan rumah orang,
sudah mengetuk dengan sopan,
tapi lampu di dalam sengaja dimatikan.
Yang lebih menyakitkan bukan ditolak.
Melainkan diabaikan seolah aku tak pernah datang.
Mungkin aku memang terlalu berharap.
Atau mungkin dunia virtual ini hanya ramah pada mereka yang sudah “punya”.
Sedang aku… hanya membawa niat baik dan kejujuran yang tak laku ditukar perhatian.
Aku pulang dengan hati lebih sunyi dari pagi.
Menyimpan satu pelajaran pahit:
di dunia yang serba terlihat ramai,
yang paling menyedihkan adalah
merasa sendirian saat mencoba menjadi bagian.
Akan aku ingat rasa kecewa dunia abu-abu
🙏