Malam itu, di kampung Sukamundur sedang mati lampu.
Bukan mati lampu romantis yang bikin orang nyanyi di teras. Ini mati lampu yang bikin anjing melolong, bayi nangis, dan warga langsung inget dosa masing-masing.
Di pos ronda, tinggal tiga orang, yaitu Ujang, Beni, dan Pak RT.
“Tenang aja,” kata Pak RT sok berani, padahal senter di tangannya gemetar. “Kita ini ronda, penjaga keamanan kampung.”
Tiba-tiba…
BRUK!
Sesuatu jatuh dari pohon nangka dekat pos.
Seonggok sosok berbalut kain putih bersih.
Ujang langsung naik ke kursi saking terkejutnya.
“ITU DIAAA!”
Beni berbisik, “Apa?”
Dengan cahaya bulan yang pas-pasan, mereka melihat sosok putih berdiri kaku di bawah pohon. Terbungkus kain. Loncat-loncat kecil.
POC O N G.
Pak RT hampir pingsan, tapi ia tahan karena,,, gengsi. “Eh… siapa itu?” tanyanya dengan suara yang nadanya naik turun kayak harga cabai.
Pocong itu mendekat… lompat… lompat… lompat…
“Pak…” suara dari dalam kain terdengar teredam. “Tolong… pak…”
Tiga orang itu saling pandang.
“Pocong bisa ngomong?” bisik Beni.
“Teknologi sekarang maju,” jawab Ujang panik.
“Pak, saya… bukan hantu…” suara itu lagi.
Pak RT nekat menyenter muka pocong itu.
“LAH?! ITU SI DUDUNG!”
Benar saja. Di dalam kain kafan darurat itu ada Dudung, pemuda kampung yang terkenal… kurang pintar tapi percaya diri.
“Dudung?! Kamu ngapain jadi pocong?!” teriak Ujang.
“Ini gara-gara kalian!” kata Dudung kesal. “Katanya kalau mau uji nyali biar keren di depan anak-anak tongkrongan, suruh bungkus pakai kain putih! Tapi mereka kabur semua! Saya nggak bisa buka talinya!”
Hening.
Pak RT meletakkan senter.
“Jadi… kamu dari tadi lompat-lompat karena…?”
“YA IYALAH! Tangan sama kaki diiket! Masa jalan santai?!”
Beni langsung ketawa sampai jatuh dari bangku.
Ujang masih syok. “Jadi bukan pocong beneran?”
Dudung menatap tajam.
“Kalau pocong beneran, saya minta dibukain tali juga, Pak?”
Pak RT akhirnya buka simpul kain di kepala dan kaki Dudung. Dudung langsung duduk selonjoran, keringetan.
“Pelajaran,” kata Pak RT bijak. “Kalau mau uji nyali, pakai otak juga.”
Tiba-tiba dari semak-semak muncul suara “Hihihihi…”
Empat orang itu membeku.
Dudung pelan-pelan berdiri lagi.
“Pak… itu bukan saya ya…”
Dari semak, seekor kambing tetangga keluar sambil makan plastik.
Mereka semua terdiam.
Lalu serentak teriak:
“KAMBINGNYA PAK JONO LAGI!”
Sejak malam itu, ronda di Sukamundur punya aturan baru:
Dilarang jadi pocong tanpa izin RT
Kalau lihat hantu, pastikan dulu itu Dudung atau bukan
Kambing Pak Jono lebih seram dari makhluk halus
Dan Dudung?
Seminggu penuh dipanggil warga dengan julukan baru:
“Pocong Gagal Debut.”