Namanya Rendy. Di kelas 10 Kuliner 2, dia adalah definisi dari "bayangan". Jika ada daftar absen yang terlewat dipanggil guru, mungkin Rendy adalah orangnya. Di usia 16 tahun, dia merasa dirinya hanyalah figuran dalam film kehidupan orang lain. Rambutnya dipotong standar—asal rapi—wajahnya tipikal remaja yang kelelahan karena begadang main game, dan seragamnya seringkali terlihat sedikit kebesaran.
Dia tidak punya motor keren untuk tebar pesona di parkiran, tidak punya gaya bicara yang asyik, dan jujur saja, dia merasa "kalah start" dibanding cowok-cowok lain yang sudah jago menata rambut dengan pomade.
Lalu ada Shena.
Shena adalah alasan Rendy betah menatap papan tulis meski pelajaran Dasar-Dasar Kuliner (DDK) sedang membahas teori sanitasi yang membosankan. Shena tidak sombong, tapi ada jarak tak kasat mata yang membuat Rendy merasa gadis itu berada di galaksi yang berbeda.
[Jarak Dua Baris Bangku]
Interaksi mereka? Nol besar.
Rendy bahkan tidak punya keberanian untuk sekadar meminjam penghapus. Pernah suatu kali, saat pelajaran IPAS, pena Shena jatuh tepat di samping sepatu Rendy yang sudah agak usang. Jantung Rendy berdegup kencang, rasanya seperti sedang menghadapi ujian nasional. Dia ingin mengambilkan pena itu, tersenyum, lalu memulai percakapan kecil.
Namun, kenyataannya? Rendy malah membeku. Dia hanya menatap pena itu sampai Shena membungkuk sendiri untuk mengambilnya. "Eh, sori," gumam Shena pelan. Rendy hanya mengangguk kaku tanpa suara, persis seperti NPC (Non-Player Character) di dalam game yang sedang lag.
[Sore di Kelas Teori]
Di kelas 10, mereka belum menyentuh kompor atau pisau profesional. Hari-harinya masih diisi dengan mencatat di buku tulis tentang suhu penyimpanan daging atau menghitung logika sederhana di pelajaran Coding.
Rendy sering memperhatikan cara Shena mencatat. Jemarinya lincah, sesekali menyibakkan rambut yang jatuh menutupi mata. Rendy sering membayangkan, nanti, saat kelas 11 atau 12 ketika mereka mulai praktik memasak, mungkin dia bisa menawarkan bantuan saat Shena kesulitan memotong bawang. Tapi itu masih lama, dan Rendy tidak yakin keberaniannya akan tumbuh saat itu.
"Ren, bengong aja! Tulis tuh di papan, bentar lagi bel!" tegur temannya, membuyarkan lamunan.
Rendy tersentak, segera menyalin tulisan tentang "Keamanan Pangan". Dia melirik ke arah Shena yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Tawa yang renyah, yang membuat Rendy sadar bahwa baginya, mencintai dalam diam adalah cara paling aman agar tidak patah hati.
[Menjadi Penonton Setia]
Saat bel pulang berbunyi, Rendy akan berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Dia akan melihat Shena naik ke motor temannya atau dijemput, lalu menghilang di keramaian jalan raya.
Rendy pulang dengan perasaan yang sama setiap harinya: perasaan menjadi orang biasa yang menyukai seseorang yang luar biasa. Baginya, menyukai Shena dalam diam sudah cukup. Melihat punggung Shena dari baris kedua bangku belakang adalah "pemandangan terbaik" yang bisa didapatkan seorang anak kelas 10 jurusan Kuliner yang merasa dirinya bukan siapa-siapa.
Dia adalah Rendy, sang NPC sekolah, yang cintanya hanya tertuang dalam barisan kode pelajaran Coding dan catatan teori kuliner yang tidak akan pernah dibaca oleh siapa pun.