Kami berpisah di depan kafe itu dengan langkah yang ragu. Tidak ada yang benar-benar ingin menjadi orang pertama yang pergi. Seolah jika satu dari kami melangkah lebih dulu, kenangan yang baru saja hidup kembali akan ikut memudar.
Aku berjalan beberapa meter, lalu berhenti. Menoleh. Ternyata temanku juga melakukan hal yang sama. Temanmu tertawa kecil, tawa yang dulu sering ia keluarkan saat suasana menjadi terlalu serius.
“Kita masih seperti dulu,” katanya, “selalu sulit mengucapkan selamat tinggal.”
Kami akhirnya sepakat berjalan bersama, tanpa tujuan jelas. Kota ini terasa asing, tapi kehadiran mereka membuatnya seperti halaman lama yang dibuka kembali. Di sepanjang trotoar, kami berbagi cerita yang lebih jujur—tentang kesepian yang tak pernah kami unggah ke media sosial, tentang malam-malam panjang ketika kami berharap bisa kembali ke masa di mana semuanya terasa lebih sederhana.
Temanku mengaku pernah kecewa padaku. Aku pun mengangguk, mengakui hal yang sama. Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan panjang. Hanya pengakuan yang terlambat, tapi terasa perlu.
“Aku pikir, diamku dulu adalah cara terbaik,” kataku pelan.
“Padahal itu yang paling menyakitkan,” jawabnya, tanpa nada marah.
Temanmu menepuk bahu kami bergantian. “Kita semua salah dengan cara masing-masing. Tapi lihat, kita masih di sini.”
Kalimat itu menggantung di udara, sederhana namun berat. Kami berhenti di persimpangan jalan. Di sinilah arah kami kembali berbeda, seperti tahun-tahun lalu saat hidup memisahkan kami satu per satu.
Kali ini, perpisahan terasa berbeda. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada kata “jangan berubah”. Kami hanya saling menatap, menyimpan versi baru dari satu sama lain—bukan sebagai kenangan masa lalu, tapi sebagai manusia yang sedang belajar berdamai dengan hidupnya.
Saat aku melangkah pergi, dadaku terasa hangat. Aku tahu, mungkin kami tidak akan sering bertemu. Mungkin jarak dan waktu akan kembali mengambil perannya. Namun kini aku mengerti: pertemuan ini bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menutupnya dengan lebih baik.
Dan di dalam langkahku yang menjauh, aku tersenyum kecil. Karena ternyata, bertemu kembali bukan tentang menjadi seperti dulu—melainkan tentang menerima bahwa kami telah berubah, dan tetap memilih untuk saling mengenal lagi.