Awal kita bertemu di gedung sekolah saat itu.
Waktu itu, tak pernah terpikirkan olehku akan seperti apa jalan hidupku.
Kau datang sebagai tanya, namun cepat menjelma menjadi rumah,
Tempat aku merasa cukup, meski dunia tak selalu ramah.
Kita menyusun cerita dari detik-detik sederhana,
Dari sapa yang malu-malu hingga tawa yang tak pernah ku lupa.
Kau ajarkan aku percaya pada cinta yang datang tiba-tiba,
Meski aku tahu, kau pun sedang belajar tentang rasa.
Kau dan aku sempat jadi "kita", meski singkat seperti senja yang malu-malu pergi.
Namun rasanya seolah semesta ikut mencatat janji-janji.
Sayangnya waktu tak memberi kita ruang untuk tumbuh,
Dan aku hanya bisa merelakan, meski hati terasa masih penuh.
Pesan terakhirmu masih terekam jelas di kepala,
“kita sampai sini aja ya,” begitu katanya.
Dan sejak itu, aku belajar bahwa cinta...
Tak selalu tentang bersama, kadang hanya tentang menerima.
Kita memang dipertemukan oleh semesta,
Namun kita berakhir tak bahagia.
Kita bukan tak saling cinta,
Hanya saja, takdir tak mengizinkan kita bersama.