Baru baru ini banyak sekali skandal perselingkuhan di antara selebritis, entah kenapa aku kini sedang dilanda krisis kepercayaan kepada suamiku, entah karena berita perselingkuhan yang selalu menghantui atau karena sesuatu perubahan yang patut aku curigai.
Lihatlah dia yang tingginya hanya beda 5 cm diatas ku, wajahnya standar pada umumnya tapi bisa membuatku terpesona. Namanya Syakir Alfadill, kami bertemu dibangku sekolah hingga sekarang membangun rumah tangga bersama.
"Yang, aku berangkat kerja dulu ya!" Aku mencium tangannya, namun mataku memincing tajam melihat penampilannya yang sangat rapi.
"Kenapa?" Tanyanya saat melihat mataku tidak lepas melihat penampilannya.
Aku spontan berkata ketus, "mau ganjen sama siapa?"
"Astaghfirullah, aku mau kerja yang! Bukan mau godain cewe." Aku tidak mengindahkan ucapannya aku langsung melengos pergi ke kamar.
Dari kamar aku mendengar dia mengucap salam lalu berangkat bekerja, dengan modal emailnya aku melacak setiap pergerakan tempat yang ia kunjungi, awalnya aku iseng namun aneh waktu itu aku melihat posisinya berada jauh di belakang gedung perusahaan, aku ingin denial bahwa mungkin maps nya sedang eror tetapi beberapa kali mencoba selalu benar, apa dia sedang berbohong kepadaku?
Kali ini aku melihat maps handphone nya benar benar sedang ada di perusahaan, tetapi hatiku masih panas dengan pikiran liar kemana-mana, aku mencoba meluapkannya dengan mencercanya di pesan whatsapp.
"Beda ya yang lagi jatuh cinta, mau ganjen sama siapa sih pake pakaian kaya gitu buat kerja?" Masalahnya dia pakai kemeja di musim hujan yang dingin ini, dia terlihat menawan dengan kemeja dan potongan rambut rapi namun ini tidak seperti biasanya, buat apa bela-belain pakai kemeja di malam hari pakai motor saat berangkat kerja kalau bukan buat ganjen ke cewe lain?
Aku mengetik pesan lagi, "Besok isi saldo belanja ku 5 juta! Aku mau ngabisin uang dari pada uangnya dipake buat orang gak penting."
Sebenarnya kami sedang menabung untuk membeli tanah, tetapi perasaanku kacau balau, aku takut jika dugaanku benar, lebih baik aku pentingkan kebahagiaan aku lebih dulu dari pada uang yang kita tabung habis untuk gandengannya yang baru. Memang belum terbukti dia ada main namun lebih baik jaga jaga supaya tidak makan hati.
Pesanku terbalas, "siapa yang mau ganjen? Kan sudah bilang aku kerja."
"Aku juga kerja untuk kamu,"
"Aku transfer besok, uang hasil kerja aku emang untuk kamu bukan untuk yang lain. "
Melihat balasannya aku masih belum puas, pikiran ku masih ruwet dengan keanehan suamiku yang tumben tumbenan pakai pakaian kaya gitu ke perusahaan saat shif malam.
Hari semakin larut namun mataku belum juga terpejam, sial sepertinya aku belum puas dengan jawaban suamiku.
Sebenarnya kasihan lihat dia kerja 12 jam panjang, namun lebih kasihan aku jika dia beneran punya gandengan lain diperusahaan.
"Assalamu'alaikum" Aku mencoba mengacuhkannya memperjelas bahwa aku sedang marah, memalingkan wajah saat dia bertanya kepadaku.
"Kamu ini kenapa? Aku kerja untuk kamu Kia bukan untuk yang lain." Kesalnya, hatiku goyah takut ia marah, kasian kepadanya yang baru pulang kerja, tapi pikiran ku masih ragu masih menduga-duga.
"Terus kenapa semalam pake baju ini? Cuaca sekarang lagi dingin tapi kamu engga pakai jaket." Dibalik amarahku ada kekhawatiran aku takut dia sakit, kalau sakit siapa yang kerja.
"Di sana engga dingin malah aku keringetan." Jawaban yang kurang memuaskan, terus bagaimana dengan perjalanan ke perusahaan apa dia tidak kedinginan kecuali jika ada yang memeluknya.
"Alesan! Kamu itu dari kemarin aneh, Tiba-tiba nyempetin waktu buat rapihin rambut yang biasanya selalu aku paksa, terus pakai pakaian kaya gitu, pokoknya engga seperti kamu biasanya."
Syakir menghela nafas lelah, "yang, aku kan susah untuk libur makannya kemarin langsung pangkas rambut biar rapi, untuk baju kan baru satu kali aku pakai jadi aku pakai lagi biar kamu engga terlalu banyak cucian." Penjelasannya memang masuk akal tetapi untuk baju aku masih ragu, cuaca lagi dingin begini bukannya pakai jaket malah pakai kemeja.
"Kamu itu dari dulu selalu nuduh aku ngapa-ngapain, nuduh selingkuh terus. Emangnya kamu mau aku selingkuh beneran?" Kesalnya kepadaku.
"Ya engga gitu juga yang, aku kan cuman curiga aja kamu tiba-tiba kayak gitu."
"Kamu selalu aja curiga, lebih baik aku resign aja terus diam dirumah."
Mendengar ucapannya membuat aku panik, "jangan dong! Kalau kamu resign kita dapat uang dari mana?"
Uang memang bukan segalanya tapi kalau ada uang aku semakin sayang Syakir.
Syakir memegang kedua tanganku, "Kiara kamu sama aku itu nikah sudah 5 tahun! Aku juga sudah jadi ayah. Engga mungkin aku selingkuh! Jadi stop buat curigain aku lagi!."
"Ya siapa tau kamu bosan." Entah kenapa aku memang suka cari keributan dengannya, aku juga suka mencurigai Syakir, pertama aku suka membahas masalalunya namun aku juga yang cemburu dan kesal kepadanya.
Pernikahan kami memang sudah 5 tahun dan di karuniai satu anak laki-laki yang baru berusia satu tahun.
Syakir yang kesal memeluk tubuhku erat lalu menggelitikku hingga aku memohon ampun, dilanjut dengan permainan lidahnya yang hampir menghabiskan nafasku.
"Udah stop yang!" Aku angkat tangan dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"I love you forever Kiara Ajuzten, you are my wife forever." Tegasnya ditelingaku.