Tak akan pernah ku lupakan kebohongan itu, pengkhianatan itu meskipun kalian tidak menyadari apa yang kalian lakukan padaku. Akan ku ungkit selalu, meminta pertanggungjawaban darimu. Kau yang membawakan cinta, namun juga yang meninggalkan luka. Luka yang dalam hingga luka itu menelanku. Menelan jiwaku, hatiku, dan ragaku. Kau tak pernah tahu, bagaimana duniaku begitu kalut karena mu. Setiap hari aku menunggu kata "maaf" darimu. Apakah mengucap satu kata itu terlalu sulit untukmu?
Kau bersikap tenang seolah-olah kau lupa akan pisau yang masih tertancap di jantungku. Cinta sucimu itu adalah amarahku, dirimu adalah inang yang tidak pernah bisa lepas dari otakku, serta racun yang kau berikan masih menjalar dalam nadiku. Sampai saat ini. Dengan mudahnya kau melupakan semua yang kau perbuat. Bahkan orang gila lebih baik darimu. Mereka menyampaikan "maaf" dengan benar walau suara tak terdengar jelas, walau pikiran tak lagi waras.
Sedangkan dirimu, adalah orang waras yang tidak memiliki akal sehat.
Aku duduk sambil menatap jendela, menekan dadaku yang semakin hari semakin terasa sakit. Aku tidak mengerti haruskah aku kritik permainan mu atau ku kagumi permainan mu? Begitu mulus sehingga aku terjebak di dalam sangkar ciptaanmu. Seperti rusa polos yang terperangkap karena pemburu. Sementara aku duduk diam sendiri, kau malah terlihat lebih baik dengan pembohong itu. Itu tidak adil, sungguh!
Jika bisa aku membalas semua perbuatan mu dengan tanganku sendiri tanpa menunggu karma, mungkin akan kulakukan sejak kau membawa racun. Ironisnya, sekarang aku menjadi racun. Yang mungkin sebentar lagi akan meracuni mu hingga mencekik tenggorokan mu. Jujur saja, aku akan senang hati saat mencekik mu dengan tanganku sendiri.
Hari terus berganti, rasa ini semakin menyesakkan. Aku rapuh seperti ranting pohon yang mungkin sebentar lagi akan patah. Mana kata "maaf" itu? Cepat katakan sebelum aku menghantui mu. Rasa ini terus menggerogoti ku persis seperti mu yang menggerogoti hatiku. Hanya kata "maaf" hanya kata itu yang ku inginkan.
Lalu, diam-diam kau melihatku dari kejauhan. Saat aku membalas menatap, kau membuang muka menghadap langit dengan wajah datar. Lalu sudut bibirmu terangkat. Seketika itu aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Katakan padaku, bagaimana cara menghapus tinta dengan penghapus?
Sialnya otakku berputar memaksakan diriku untuk bernostalgia. Benci, marah, cinta... menjijikan. Aku teringat pada sebatang pohon beringin yang selalu menjadi tempat teduh mu. Setiap kali aku lihat dirimu berbaring di sana, aku tersenyum dan merasakan kedamaian mu. Dan sekarang, aku ingin melihatmu mati dibawah pohon beringin itu.
Suatu ketika aku bermimpi. Kau berjalan ke arahku dari pohon beringin itu. Berjalan menghampiri ku, ya... menghampiri ku. Aku pikir begitu. Tetapi, ternyata kau menghampiri seorang perempuan dibelakang ku. Aku berbalik, bagaimana bisa kau merasakan manisnya cinta sedangkan aku merasakan pahitnya saja? Itu tidak adil! Kembalikan jiwaku bajingan!
Baiklah aku akan memohon, memohon mu untuk mengatakan maaf padaku. Sungguh hanya satu kata itu saja yang ku pinta darimu. Berani menghancurkan juga harus berani memperbaiki. Baik... sekarang aku akan berlutut dan memohon padamu. Tolong katakan maaf...
Sial! Sudah berapa lama semenjak aku melihatmu? Aku masih duduk sendirian sambil menanti kata itu. Kenapa? Apakah lidahmu kelu? Apa perlu ku tarik sampai kau mengeluarkan kata itu? Lihatlah sosok yang kau ciptakan ini yang tumbuh di dalam diriku. Apakah kau senang? Sepertinya benar begitu, karena kau terus tersenyum. Bagaimana caraku untuk melenyapkan senyuman itu? Ya, satu-satunya cara untuk melenyapkan senyuman itu adalah aku harus melenyapkan cinta sucimu lebih dulu.
Ini benar-benar tidak adil, tahu? Kau bisa memperlakukan kelinci mu itu dengan baik seakan kau lupa pada kelinci yang pertama kali kau jumpai. Jika hanya dia yang ingin kau dapatkan, mengapa kau menghampiri ku dasar brengsek! Mungkin dimatamu aku hanyalah boneka tanpa jiwa. Yang bisa kau mainkan sesuka hati.
Sekarang, mana "maaf" ku darimu? Aku ingin mendengarnya sekali saja... sekali saja hingga rasa sakit ini sirna. Aku sudah memohon dan kau tetap bungkam? Mengapa kau melangkah pergi dariku sambil membawanya? Lihatlah diriku disini yang menunggumu. Ah, aku ingat. Mana mungkin lelaki tidak berperasaan seperti mu bisa memahami ku? Tapi kau bisa memahaminya? Ketidakadilan ini membuatku mati perlahan-lahan.
Pohon beringin sudah mati dan juga sudah tumbang. Dan aku masih disini menunggu dengan tenang tanpa menunjukkan amarahku. Senyum tetap ku ukir di bibirku yang kering. Mata kubuka meskipun telah rabun. Menolehlah padaku sebentar, sebentar saja. Dan katakan "maaf" sambil menatapku. Katakan... katakan sebelum mataku tertutup untuk selamanya.
Tidak, sudah terlambat. Kini aku yang berada di dalam tanah pun masih menunggu kata "maaf" darimu.