.Senja itu terasa berbeda bagi Nitha. Angin membawa aroma hujan yang belum turun, dan cahaya lampu jalan menembus celah pepohonan, membentuk bayangan panjang yang menari di trotoar. Di tengah keramaian kota yang mulai lengang, Nitha selalu menyempatkan diri untuk menatap satu sosok yang selalu membuatnya merasa dunia berhenti sejenak: Farel.
Farel. Nama itu selalu membuat jantung Nitha berdetak lebih cepat. Ia tampan, dengan senyum yang tak pernah bisa ia abaikan, tapi juga misterius. Setiap kali Nitha melihatnya dari kejauhan, ada rasa hangat bercampur cemas, seolah ingin mendekat tapi takut akan ditolak.
Hari ini, langkah Nitha terasa berat, tapi ada dorongan yang tak bisa diabaikan. Ia berjalan mendekati Farel yang sedang menatap langit senja, matanya kosong, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
“Kenapa kamu selalu sendiri?” Suara Nitha keluar tanpa sengaja. Ia terkejut sendiri, tapi Farel menoleh, matanya bertemu tatapan Nitha. Seketika, jantungnya seakan berhenti.
Farel tersenyum tipis, menatap Nitha dengan tatapan yang sulit dimengerti. “Kadang, lebih mudah berada di antara bayangan sendiri daripada harus menatap kenyataan,” katanya.
Nitha duduk di sampingnya, diam tapi nyaman. Bayangan Farel panjang di trotoar, menari-nari bersama bayangan Nitha. Mereka duduk dalam hening, menikmati senja yang memudar perlahan.
Hari-hari berikutnya, Nitha mulai sering berada di dekat Farel. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk melihat, mendengar, dan merasakan keberadaannya. Ia tahu Farel punya rahasia, sesuatu yang membuatnya selalu menjaga jarak dari orang lain. Tapi Nitha penasaran, rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi ketertarikan yang sulit ia sembunyikan.
Suatu sore, hujan mulai turun ringan. Nitha berlari mencari tempat berteduh, tapi Farel sudah ada di sana, duduk di bangku taman, tak peduli basah. “Kamu kenapa di sini sendirian?” tanya Nitha, basah kuyup tapi tidak peduli.
Farel menatapnya lama. “Aku suka hujan. Rasanya seperti semua masalah bisa hilang, meski hanya sesaat,” jawabnya pelan.
Mereka berbicara lama, tentang hal-hal kecil yang membuat dunia terasa lebih ringan. Nitha merasa nyaman, tapi hatinya tetap cemas. Ia tahu ada jarak yang tak terlihat antara mereka, sesuatu yang membuat Farel menutup diri dari dunia.
Beberapa minggu kemudian, Nitha menemukan Farel menangis diam-diam di sebuah taman sepi. Hatinya mencelos. Ia mendekat, meletakkan tangan di bahu Farel. “Kenapa kamu menangis? Aku bisa membantu,” katanya lembut.
Farel terkejut, lalu menunduk. “Aku… aku tidak ingin orang lain melihat sisi lemahku,” katanya. Suaranya bergetar. Nitha menggenggam tangannya, memberi keberanian tanpa kata-kata.
Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan berubah. Dari jarak dan bayangan, menjadi perhatian dan kebersamaan yang hangat. Nitha belajar memahami Farel bukan hanya dari kata-kata, tapi dari setiap tindakan kecil yang ia lakukan.
Namun, kebahagiaan itu tidak selalu mudah. Suatu hari, rahasia Farel terbongkar. Ia ternyata terlibat dalam masalah keluarga yang rumit, sesuatu yang bisa memisahkan mereka. Nitha harus memutuskan apakah ia berani tetap berada di sisi Farel, di antara bayangan yang kadang membuatnya takut, atau pergi untuk melindungi hatinya sendiri.
Farel menatap Nitha, matanya serius tapi penuh harap. “Aku tahu ini sulit. Tapi aku ingin kamu tetap di sini, di sampingku, walau hanya di antara bayangan ini,” katanya.
Nitha menghela napas panjang. Hatinya bergejolak, tapi ia tahu jawabannya. Dengan lembut, ia menggenggam tangan Farel. “Aku tidak akan pergi. Di antara bayanganmu, aku merasa… aku berada di tempat yang tepat.”
Senja itu kembali menyelimuti mereka. Bayangan panjang mereka menari di trotoar, kini tidak lagi terpisah, tapi saling bersentuhan, membentuk kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Nitha tersenyum, merasakan keberanian dan cinta tumbuh perlahan, di antara bayangan Farel.