Maya bermimpi tentang kematian suaminya setiap malam Jumat.
Bukan kecelakaan itu yang berulang—bukan bus terguling, bukan darah di aspal. Dalam mimpinya, Arga selalu mati dengan cara berbeda. Kadang tertembak. Kadang tenggelam. Kadang hanya berdiri diam, menatapnya, lalu menghilang seperti kabut yang dilupakan pagi hari.
Psikiater bilang itu normal. Trauma tidak suka konsisten.
Maya berhenti bermimpi pada tahun kelima.
Dan justru saat itulah Arga muncul kembali.
Ia melihatnya di televisi, pukul delapan malam, dalam liputan singkat sidang pembunuhan berprofil tinggi. Seorang saksi kunci dipanggil. Kamera menyorot wajah pria berjas abu-abu, rambut disisir rapi, rahang tegas yang terlalu dikenalnya.
Maya menjatuhkan gelas di tangannya.
Air tumpah, pecah, dan mengalir ke lantai—seperti lima tahun lalu, saat ia berlutut di kamar jenazah, menatap tubuh Arga yang sudah terlalu dingin untuk dipeluk.
Nama saksi itu bukan Arga.
Bukan pula nama apa pun yang pernah ia dengar.
Tapi itu wajah suaminya.
Wajah yang ia hafal bahkan dalam gelap.
“Ini tidak mungkin,” gumamnya. Tapi jantungnya berdebar seolah mengenali sesuatu yang lama terkubur.
Maya menonton sidang itu sampai selesai. Lalu menontonnya lagi dari rekaman daring. Ia memperbesar layar, menghentikan gambar, mengamati setiap sudut wajah pria itu. Bekas luka kecil di alis kiri—bekas jatuh dari sepeda motor saat Arga dua puluh enam tahun. Tatapan mata yang selalu sedikit miring ke kanan ketika berpikir.
Mayat tidak membawa detail seperti itu.
Keesokan harinya, Maya pergi ke pengadilan.
Ia duduk di bangku paling belakang, mengenakan masker dan kacamata hitam. Saat saksi itu masuk, pria itu menoleh sekilas ke arah penonton. Pandangan mereka bertemu—hanya sepersekian detik.
Cukup.
Maya tahu.
Dan pria itu juga tahu bahwa ia tahu.
Pertemuan mereka terjadi tiga hari kemudian, di parkiran bawah tanah sebuah gedung kosong. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata. Hanya jarak dua meter dan keheningan yang terlalu berat.
“Kau seharusnya mati,” kata Maya akhirnya.
Pria itu tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
“Aku memang mati.”
Ia menyebut dirinya **R**, satu huruf, tanpa makna. Ia tidak membantah ketika Maya memanggilnya Arga, tapi juga tidak mengiyakan.
“Aku direkrut dua bulan sebelum kecelakaan itu,” katanya tenang. “Mereka butuh orang yang bisa menghilang tanpa jejak. Kematian adalah cara paling bersih.”
Maya tertawa pendek, getir. “Jadi semua ini sandiwara?”
“Tidak.” R menatap lantai. “Aku benar-benar mati hari itu. Arga mati. Suamimu mati.”
Ia menjelaskan tentang daftar nama, target-target yang tidak pernah sampai ke meja pengadilan. Tentang perintah tanpa tanda tangan. Tentang dunia yang tetap berjalan karena ada orang-orang yang dibuang ke kegelapan tanpa suara.
“Kenapa aku?” suara Maya bergetar. “Kenapa tidak bilang?”
“Karena jika kau tahu,” jawabnya pelan, “kau juga harus mati.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Maya pulang dengan kepala kosong. Ia menatap foto pernikahan mereka yang masih tergantung di dinding. Wajah Arga di foto itu lebih muda, lebih hangat. Orang yang belum tahu bahwa hidupnya bisa dihapus seperti kesalahan ketik.
Hari-hari berikutnya, Maya hidup dalam dua dunia. Siang hari, ia adalah janda yang sembuh perlahan. Malam hari, ia adalah perempuan yang mencintai mayat hidup.
R menemuinya sekali lagi. Hanya sekali.
“Aku tidak bisa kembali,” katanya sebelum Maya sempat bertanya. “Dan jika kau mencoba mencariku lagi, mereka akan menganggapmu ancaman.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Maya.
“Lupakan aku.”
Maya menggeleng. “Aku tidak pernah melupakanmu.”
R menatapnya lama, lalu berkata, “Itulah sebabnya aku harus mati untuk kedua kalinya.”
Sidang terakhir digelar seminggu kemudian. Maya dipanggil sebagai saksi tambahan. Jaksa bertanya apakah ia mengenali pria itu sebagai mendiang suaminya.
R berdiri di hadapannya. Wajahnya tenang. Siap.
Maya menelan ludah. Lima tahun lalu, ia tidak bisa menyelamatkan Arga dari kematian. Hari ini, ia diberi kesempatan membunuhnya sendiri.
“Tidak,” katanya akhirnya. “Dia bukan suami saya.”
Ruangan itu sunyi sesaat, lalu bergerak lagi. Palu diketuk. Nama Arga tidak pernah disebut.
Maya tidak menoleh saat R digiring keluar.
Malam itu, Maya membakar semua foto. Ia tidak menangis. Ia hanya menonton api bekerja—seperti negara, seperti waktu.
Ia tahu, di suatu tempat, seseorang yang pernah menjadi suaminya akan terus hidup tanpa nama, tanpa masa lalu. Dan itu adalah satu-satunya cara ia bisa selamat.
Arga mati dua kali.
Sekali di jalan raya.
Sekali di pengadilan.
Dan Maya hidup dengan kematian itu—selamanya.