Rani tidak pernah berniat menjadi orang ketiga.
Ia hanya datang sebagai teman kerja yang mau mendengarkan.
Semua bermula dari percakapan sederhana di sela lembur. Arga selalu pulang paling akhir, sama sepertinya. Mereka berbagi cerita kecil—tentang lelah, tentang hidup yang terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian.
Arga sering bercerita tentang istrinya, Mira. Tentang rumah yang semakin sunyi, tentang percakapan yang tinggal basa-basi. Rani mendengarkan tanpa banyak komentar. Ia pikir, itu hanya keluhan biasa.
Sampai suatu hari, Arga berkata pelan,
“Kamu satu-satunya orang yang benar-benar dengar aku.”
Kalimat itu seharusnya menjadi batas. Tapi justru di situlah semuanya mulai bergeser.
Rani tahu Arga sudah menikah. Ia tahu posisinya salah. Tapi perasaan tidak pernah datang dengan izin. Ia tumbuh dari kebiasaan—dari pesan singkat tengah malam, dari tawa kecil, dari rasa dimengerti.
Mereka tidak pernah merencanakan perselingkuhan itu.
Ia terjadi perlahan, tanpa definisi, tanpa nama.
Sampai akhirnya, genggaman tangan itu tidak dilepas.
Sampai akhirnya, kebohongan menjadi rutinitas.
Rani sering bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku jahat?
Ia tidak merebut. Ia tidak meminta Arga meninggalkan siapa pun. Ia hanya ada—saat Arga merasa sendirian.
Namun suatu sore, Rani melihat Mira. Perempuan itu datang ke kantor membawa bekal makan siang. Senyumnya tulus. Tatapannya penuh percaya.
Di saat itu, Rani tahu:
ia bukan hanya menyakiti orang lain,
ia sedang mengkhianati dirinya sendiri.
Malam itu, Rani berkata,
“Kita harus berhenti.”
Arga terdiam.
“Kenapa sekarang?”
“Karena aku lelah jadi rahasia.”
Tidak ada drama. Tidak ada tangisan. Hanya perpisahan yang sunyi.
Beberapa bulan kemudian, Rani pindah kerja. Ia tidak pernah tahu apakah Arga memperbaiki rumah tangganya atau tidak. Ia juga tidak pernah bertanya.
Yang ia tahu, cinta yang lahir dari kekosongan akan selalu meninggalkan lubang yang sama besarnya.
Rani belajar satu hal:
orang ketiga tidak selalu datang untuk merusak,
tapi tetap saja, ia akan pulang dengan luka.
Dan sejak itu, Rani memilih untuk tidak lagi menjadi tempat singgah bagi hati yang seharusnya pulang ke rumahnya sendiri.