PART 1 – Bangku di Sebelah Jendela
Lukas selalu memilih duduk di bangku dekat jendela.
Bukan karena pemandangannya indah, tapi karena dari sana ia bisa merasa tidak terlalu diperhatikan. Ia bukan siswa populer. Ia hanya ada, tanpa pernah benar-benar dicari.
Hari Senin itu, minggu pertama kelas XI, kelas masih sepi. Lukas meletakkan tasnya dan menatap lapangan sekolah. Ia mengira hari itu akan berjalan biasa saja.
Sampai sebuah kursi ditarik di sebelahnya.
“Kosong, kan?”
Lukas menoleh. Seorang siswi berdiri dengan senyum tipis. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tenang.
“Aku Kasandra,” katanya.
Sejak hari itu, bangku dekat jendela tidak pernah terasa sama.
Awalnya hanya obrolan ringan. Tentang pelajaran, tentang guru, tentang hal-hal kecil. Kasandra mudah bercerita. Lukas lebih banyak mendengarkan. Tanpa sadar, Lukas mulai menunggu kehadiran Kasandra setiap pagi.
Dan tanpa ia sadari juga, perasaan itu mulai tumbuh.
PART 2 – Tempat Paling Aman
Kasandra sering datang ke Lukas saat jam istirahat.
Kadang hanya duduk diam, kadang mengeluh tentang tugas, kadang bercerita tentang rumah.
“Kamu enak ya,” kata Kasandra suatu hari, “nggak banyak komentar.”
Lukas tersenyum. Ia tidak bilang bahwa mendengarkan Kasandra membuatnya merasa dibutuhkan.
Hari-hari berlalu. Lukas mulai datang lebih pagi. Kasandra mulai duduk lebih dekat. Orang-orang mulai mengira mereka punya sesuatu, padahal tidak pernah ada yang dimulai.
Lukas nyaman. Terlalu nyaman.
Dan kenyamanan itu perlahan berubah menjadi cinta.
PART 3 – Nama yang Bukan Aku
Suatu sore, Kasandra menyebut nama itu.
“Aku suka sama seseorang.”
Lukas terdiam. Ia tahu, orang itu bukan dirinya.
Kasandra bercerita panjang lebar. Tentang perhatian kecil, tentang chat singkat, tentang harapan. Lukas mendengarkan semuanya, meski dadanya terasa sesak.
“Kamu nggak cemburu?” tanya Kasandra sambil tertawa kecil.
Lukas menggeleng.
Bukan karena tidak sakit, tapi karena ia tahu—
ia tidak punya hak.
Sejak hari itu, Lukas mengerti posisinya:
terlalu dekat untuk ditinggalkan,
terlalu jauh untuk dipilih.
PART 4 – Selalu Ada, Tapi Tidak Dipilih
Saat Kasandra sedih, Lukas ada.
Saat Kasandra kecewa, Lukas mendengarkan.
Saat Kasandra menangis, Lukas menjadi tempat paling aman.
Gosip tentang mereka muncul dan hilang. Harapan kecil sempat tumbuh, lalu mati pelan-pelan.
Sampai suatu hari, Kasandra datang dengan senyum berbeda.
“Aku jadian,” katanya.
Lukas mengucapkan selamat.
Lalu pulang dengan perasaan kosong.
Bangku dekat jendela kembali sepi.
Dan Lukas akhirnya benar-benar sendiri.
PART 5 – Cinta Sepihak yang Tenang (ENDING)
Hari kelulusan datang. Sekolah penuh tawa dan foto. Lukas berdiri di pinggir lapangan, melihat Kasandra tertawa bersama orang lain.
“Kamu berubah,” kata Kasandra saat menghampirinya.
“Maybe,” jawab Lukas.
“Makasih ya. Kamu selalu ada.”
Kalimat itu tetap menyakitkan.
Karena “selalu ada” tidak pernah berarti “dipilih”.
Lukas tersenyum. Tidak marah. Tidak membenci.
Ia hanya lelah.
Ia belajar satu hal di sekolah:
tidak semua cinta harus dimiliki.
Ada cinta yang hanya datang untuk mengajarkan cara merelakan.
Dan Lukas memilih pergi dengan tenang.
Tamat ☺️