Di keluargaku, tanggal lahir bukan sekadar penanda usia. Ia adalah penentu arah. Hari dan pasaran dicatat rapi, disimpan di kepala orang-orang yang lebih tua dariku, dan disebut dengan suara pelan seolah sedang membaca doa.
Aku tumbuh di Solo, di rumah yang sunyinya terawat. Ayah jarang bertanya, tapi diamnya selalu mengandung makna. Ibu lembut dalam cara yang membuat nasihat terdengar seperti kekhawatiran yang tidak boleh dibantah. Simbah-simbahku bicara dengan perumpamaan, dan aku belajar sejak kecil bahwa menjadi perempuan Jawa berarti tahu kapan harus bicara, dan lebih sering tahu kapan harus menahan diri.
Aku menjalani hidup seperti yang diharapkan. Bekerja di lembaga budaya, mengurus arsip, menyimpan cerita orang-orang lama agar tidak hilang ditelan waktu. Aku menyukai kesunyian pekerjaan itu. Tidak ada yang menuntutku menjadi lebih dari diriku sendiri.
Sampai suatu hari, aku bertemu dia.
Tidak ada pertemuan yang bisa kusebut istimewa. Kami hanya bertukar sapa, membicarakan hal-hal biasa. Tapi sejak hari itu, namanya tinggal lebih lama di kepalaku dibandingkan nama-nama lain yang kutemui setiap hari.
Kami tidak langsung dekat. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji. Hanya obrolan yang pelan, pesan singkat yang tidak terburu-buru, dan perasaan nyaman yang tumbuh tanpa suara. Bersamanya, aku tidak merasa harus menjelaskan diriku. Diam kami tidak canggung. Aku bisa duduk di sampingnya tanpa merasa perlu mengisi apa pun.
Aku tahu, perasaan seperti ini seharusnya disimpan rapi. Tapi perasaan tidak pernah patuh sepenuhnya.
Di rumah, Ibu mulai bertanya. Bukan dengan nada menyelidik, melainkan suara yang terlalu hati-hati untuk disebut biasa. “Kamu sedang dekat dengan siapa?” tanyanya suatu malam, sambil melipat kain batik.
Aku menjawab sejujurnya. Dan seperti yang sudah bisa kuduga, pertanyaan berikutnya datang pelan, tapi tepat sasaran.
“Weton-nya apa?”
Aku menyebutkannya. Suara itu keluar dari mulutku, tapi rasanya seperti bukan milikku. Sejak malam itu, rumah terasa sedikit lebih sempit. Tidak ada yang berubah secara nyata, tapi aku bisa merasakan sesuatu bergeser.
Ayah lebih sering diam. Ibu lebih rajin menyebut nama Tuhan dalam doa-doanya. Simbah memanggilku suatu sore dan berkata bahwa hidup yang selaras tidak selalu berarti hidup yang mudah, tapi hidup yang selamat.
Aku mengangguk. Selalu begitu caraku menjawab.
Aku belum mengatakan apa pun padanya. Bukan karena aku ingin menyembunyikan, tapi karena aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa cinta kami sedang diukur dengan angka-angka yang tidak pernah kami pilih sendiri.
Kami tetap bertemu, tapi ada jarak yang pelan-pelan tumbuh. Aku menjadi lebih hati-hati, lebih sering menimbang kata. Ia mungkin merasakannya, tapi tidak bertanya. Ia tidak pernah mendesak, tidak pernah menuntut kepastian. Justru ketenangannya itulah yang membuat dadaku sering terasa penuh.
Suatu sore, kami duduk di sebuah warung kopi kecil. Tidak ada musik keras, hanya suara sendok dan percakapan orang lain yang samar. Ia menatapku lama, lalu berkata, “Kalau suatu hari kamu memilih pergi, aku ingin kamu pergi tanpa merasa bersalah.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti beban yang diletakkan pelan di pundakku.
Aku ingin berkata bahwa aku tidak ingin pergi. Bahwa aku hanya sedang mencoba bertahan di antara dua dunia yang sama-sama membesarkanku. Tapi yang keluar dari mulutku hanya senyum kecil, senyum perempuan yang terbiasa menyimpan banyak hal di dalam dada.
Di Jawa, kami diajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki. Ada hal-hal yang cukup dirawat dalam doa. Ada cinta yang tugasnya hanya lewat, bukan tinggal.
Aku tidak tahu ke mana hubungan ini akan berakhir. Aku hanya tahu bahwa aku sedang belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara langsung kepadaku: bahwa menjadi selaras dengan adat tidak selalu berarti selaras dengan diri sendiri.
Primbon mungkin mencatat hari lahir kami dengan teliti.
Ia mungkin tahu pasaran, neptu, dan hitungan yang membuat orang-orang dewasa menghela napas panjang.
Tapi primbon tidak menghafal namanya seperti caraku mengingatnya.
Tidak tahu caranya membuatku merasa tenang tanpa banyak bicara.
Tidak tahu bagaimana perasaan ini tumbuh, pelan, tanpa izin.
Dan mungkin, di situlah letak lukanya.
Bukan karena kami salah mencintai,
melainkan karena kami hidup di dunia yang percaya bahwa tidak semua cinta perlu diperjuangkan.