Namanya Ryan Pratama, dia seorang mahasiswa arsitektur tingkat akhir. Kehidupannya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Jika ada jadwal kuliah, dia pergi dengan mengendarai mobil jeep hadiah ulang tahun dari ayahnya yang seorang pengusaha.
Tetapi semua itu berubah setelah dia bertemu dengan seorang wanita bernama Clarissa di sebuah acara yang diadakan campusnya. Saat pertama kali melihat Clarissa, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, Ryan merasa ada sesuatu yang berbeda. Hati Ryan pun mulai berdebar.
Ryan adalah pria yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara, namun selalu memberikan perhatian besar pada orang-orang yang dia sayangi. Di sisi lain, Clarissa adalah wanita yang ceria, penuh semangat, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Perbedaan sifat itu justru membuat hubungan mereka semakin indah. Ryan merasa nyaman berada di dekat Clarissa, dan Clarissa pun merasa ada kedamaian saat bersama Ryan.
Hari demi hari, hubungan mereka berkembang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang banyak hal, berbagi mimpi, dan saling menguatkan satu sama lain. Ryan merasa dia telah menemukan sosok yang sempurna dalam diri Clarissa. Tak hanya soal cinta, mereka juga menjadi sahabat yang saling mengerti satu sama lain. Namun, seperti halnya banyak hubungan yang penuh kebahagiaan, ada kalanya rintangan datang menghampiri.
Setelah menjalani kedekatan selama beberapa bulan, Ryan mulai merasakan ada yang tidak beres, Clarissa mulai terlihat berbeda. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, sering pergi tanpa memberi kabar, dan ketika bersama Ryan, dia seolah-olah tidak sepenuhnya hadir. Namun dia mencoba menutupinya, dia ingin meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ini hanya fase sementara dalam hubungan mereka.
Ryan sebenarnya kecewa dengan sikap Clarissa, setelah apa yang dia lakukan untuknya. Mungkinkah Clarissa sudah tidak lagi mencintainya dan sudah menemukan penggantinya yang lebih baik? Ryan menggelengkan kepala, berusaha menepis pemikiran-pemikiran yang meracuninya.
Sampai suatu hari, ketika Ryan sedang berada di kafe untuk menghabiskan waktu dengan teman-temannya sambil menikmati secangkir kopi, dia melihat sosok yang tak asing. Clarissa sedang duduk bersama seorang pria yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Mereka tertawa, saling berbicara dengan mesra, dan sepertinya sangat menikmati kebersamaan mereka. Ryan merasa hatinya hancur. Kenyataan itu terasa sangat menyakitkan. Saat itu, Ryan hanya bisa diam dan melihat mereka dari kejauhan. Tak ada niat untuk menghampiri dan langsung bertanya pada Clarissa.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Ryan merasa harus berbicara dengan Clarissa. Dia memutuskan untuk menghadapinya, mengungkapkan perasaannya, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia menghubungi Clarissa dan mengajaknya bertemu di tempat yang biasa mereka kunjungi bersama. Clarissa datang dengan wajah yang cemas, seakan tahu apa yang akan terjadi.
"Ryan, ada apa?" Tanya Clarissa dengan suara yang pelan.
Ryan menarik napas dalam-dalam. "Clarissa, beberapa hari yang lalu aku melihatmu bersama seseorang di kafe Flamboyan. Siapakah dia? apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Clarissa terdiam, wajahnya berubah cemas. Dia mencoba menghindari tatapan Ryan. Ryan merasa ada rasa sakit yang tak terucapkan dalam hatinya.
"Apa kurangnya aku di dalam hidupmu, Clarissa?" Tanya Ryan dengan suara serak, mencoba menahan air mata yang sudah ingin jatuh. "Kenapa kau khianati aku seperti ini?"
Clarissa akhirnya menatap Ryan, matanya berkaca-kaca. "Ryan, aku, aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini padamu. Aku masih mencintaimu, tapi ada bagian dari hatiku yang tidak bisa aku hindari. Aku merasa ada yang kurang, dan aku bertemu dengannya, dia cerita masa laluku, kini hadir lagi di hidupku. Aku tak bisa menghindari perasaan itu, Ryan."
Ryan merasa seperti ada yang robek dalam dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menghujam, namun di balik semua itu, dia mencoba untuk mengerti. Dia tahu bahwa mencintai seseorang tidak selalu mudah, dan kadang, perasaan bisa berubah. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa memaksa hati seseorang untuk tetap tinggal jika perasaan itu sudah tidak ada lagi.
"Aku tahu, Clarissa. Belakangan ini aku seperti memiliki ragamu, tapi hatimu tidak lagi untukku. Aku bisa melihat itu. Kau tak perlu berbohong padaku. Aku tahu kau masih menginginkannya." Ujar Ryan dengan suara pelan, meski hati sangat terluka.
Clarissa hanya bisa menangis, air mata yang tak terbendung jatuh dari matanya. Dia ingin mengatakan lebih banyak, tapi kata-kata seolah terkunci di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Ryan benar. Dia sudah tidak bisa lagi menahan perasaan yang telah tumbuh untuk pria lain. Namun, di sisi lain, dia juga merasa bersalah karena telah mengkhianati hati Ryan.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Ryan. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku tidak ingin ada yang terluka, tapi aku tahu aku sudah membuatmu terluka. Aku minta maaf!" Kata Clarissa dengan suara tercekat.
Ryan menatap Clarissa untuk beberapa saat, mencoba mencerna semuanya. Sakit itu begitu besar, tapi dia tahu bahwa ini adalah yang terbaik. Dia tidak ingin memaksa Clarissa untuk tetap bersama jika hatinya sudah tidak lagi di sana. Dia mencintai Clarissa, tetapi cinta sejati adalah memberi kebahagiaan, meskipun harus berpisah.
"Clarissa, aku rela. Aku rela kau dengannya, asal kau bahagia. Aku tahu ini tidak mudah untukku. Tapi, jika dengan dia kau bisa bahagia, maka aku takkan menghalangimu."
Clarissa menatap Ryan dengan perasaan yang penuh penyesalan. "Ryan, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar minta maaf!"
"Jangan menangis, Clarissa. Aku hanya ingin kau bahagia. Itu yang terpenting. Aku akan selalu mendoakanmu, meskipun kita tidak lagi bersama." Ryan tersenyum pahit.
Clarissa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya terasa hancur, namun dia juga tahu bahwa keputusan yang diambil Ryan adalah yang terbaik. Mereka berdua duduk dalam keheningan yang berat, meresapi perasaan yang sulit diungkapkan. Pada akhirnya, mereka tahu bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki, dan kebahagiaan orang yang kita cintai adalah hal yang lebih penting.
Ryan berjalan pergi, meninggalkan Clarissa dengan kenangan indah yang pernah mereka bangun bersama. Dia tahu bahwa meskipun hatinya terluka, dia akan selalu mengingat Clarissa dengan penuh cinta. Jika memang jalan hidup mereka berbeda, maka itulah yang terbaik untuk keduanya. Baginya, yang terpenting adalah kebahagiaan Clarissa, bahkan jika itu berarti mereka harus berpisah.
"Sampai jumpa, Clarissa. Semoga kau bahagia," Bisik hati Ryan, berharap bahwa suatu saat, Clarissa akan menemukan kebahagiaannya, meskipun itu bukan bersamanya.