CHAPTER 1: MATA KEGELAPAN DAN CINCIN PERAK
Hujan mengguyur kota itu seperti tangisan yang tak pernah reda. Di lorong sempit di belakang pasar malam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun berjongkok di bawah atap seng yang bocor. Rambut hitamnya yang dipotong bob basah melekat di pipi kurusnya. Tapi yang paling menghentikan pandangan adalah matanya — lebar, tanpa pupil, hitam pekat seperti dua kolam tinta yang tak pernah memantulkan cahaya.
"Dia lagi! Lihat matanya — kayak setan!"
"Jangan dekat-dekat, nanti kita ketularan!"
Evelyn tidak menghiraukan. Tangannya yang kecil meraih sisa-sisa roti basah dari tong sampah. Tiba-tiba, sepatu bot kotor menginjak roti itu hingga hancur.
"Hei, anak jalanan! Pergi dari sini!" geram seorang pria berbau alkohol.
Evelyn tidak menangis. Ia sudah lupa cara menangis. Ia hanya menatap roti yang hancur di genangan air, lalu mengangkat pandangan ke pria itu. Matanya yang hitam menatap tanpa kedip, tanpa emosi. Pria itu terdiam sejenak, lalu pergi sambil bergumam ketakutan.
Lampu mobil tiba-tiba menerangi lorong. Sebuah mobil hitam berhenti. Sopirnya keluar dengan payung besar. Lalu, seorang lelaki berjas abu-abu turun. Ia tidak terlihat tua, tapi matanya seolah menyimpan usia yang lebih panjang dari tubuhnya.
"Kau sendirian?" suaranya datar, tanpa nada kasihan.
Evelyn mengangguk pelan, tetesan air mengalir dari ujung rambutnya.
"Aku bisa memberimu tempat tidur yang hangat. Makan tiga kali sehari. Tapi kau harus tinggal di rumahku dan mematuhi aturanku."
"Kenapa?" suara Evelyn serak, jarang digunakan.
"Karena matamu," jawab pria itu, tanpa senyum. "Mereka kosong. Dan yang kosong bisa diisi dengan apa saja."
Evelyn memandang tangannya yang kotor, lalu mobil itu, lalu kembali ke wajah pria itu. Lalu, tanpa sepatah kata lagi, ia masuk ke dalam mobil. Tidak ada pelukan, tidak ada janji manis. Hanya transaksi diam: keamanan untuk kebebasan.
---
Rumah keluarga Noire membuat dadanya sesak. Bukan karena keindahannya, tapi karena segalanya terlalu bersih, terlalu terang, terlalu... asing. Lantai marmer, lampu kristal, tirai sutra — semuanya berteriak kemewahan yang menyakitkan matanya yang terbiasa dengan kegelapan.
"Ayah, untuk apa kau membawa sampah jalanan ke sini?"
Hidley. Anak sulung keluarga. Matanya seperti pisau yang baru diasah.
"Dia butuh rumah, Hidley," kata Kepala Keluarga — pria berjas abu-abu yang memintanya memanggil "Ayah".
"Kita bukan panti asuhan!"
"Kita adalah apa yang kita pilih untuk menjadi," jawabnya singkat. "Dia akan tinggal di sini. Dan kau akan memperlakukannya dengan hormat."
Hidley menyeringai. "Hormat? Untuk dia?"
Evelyn tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, merasakan tatapan tajam Hidley menembus punggungnya seperti panah.
---
Di hari ketiga, Evelyn mendengar suara musik. Ia mengikuti melodi itu seperti orang kelaparan mengikuti aroma makanan. Dari jendela perpustakaan, ia melihat taman belakang. Di bawah pohon oak besar, seorang anak laki-laki sedang memainkan piano portabel. Nadanya sedih, tapi indah dalam kesedihannya.
Tanpa sadar, kaki-kaki kecilnya membawanya mendekat.
Anak laki-laki itu menoleh. Matanya hijau, lembut seperti daun di musim semi.
"Kau Evelyn, kan? Aku James."
Evelyn mengangguk, tangannya erat memegang ujung jaketnya.
"Kau suka musik?"
"Aku... tidak tahu."
James tersenyum, dan untuk pertama kalinya, Evelyn melihat sesuatu yang tidak menyakitkan di rumah ini. "Nanti aku ajari kau."
Ia kembali memainkan pianonya. Evelyn duduk di rumput, mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa didengar. Bukan dilihat, bukan dihakimi — tapi benar-benar didengar.
---
Minggu-minggu berlalu. Evelyn diajari cara menggunakan sendok garpu perak, cara membungkuk yang benar, cara berbicara tanpa logat jalanan. Tapi ia tetap seperti ikan di darat — bernapas, tapi tidak hidup.
Di ruang makan malam, Hidley berbisik cukup keras agar semua orang mendengar: "Dia masih makan seperti binatang. Lihat caranya memegang garpu."
Evelyn menunduk, mengunyah pelan. Setiap suap terasa seperti kerikil.
"Hidley, cukup," suara James tenang tapi tegas.
"Apa? Kau membela sampah itu lagi?"
"Dia bukan sampah. Dia keluarga kita sekarang."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut pagi. Evelyn menatap piringnya, merasakan sesuatu aneh di dadanya — hangat, tapi sekaligus sakit.
---
Satu tahun setelah kedatangannya, James menemukannya duduk sendiri di tangga belakang, memandangi bulan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya, duduk di sampingnya.
Evelyn tidak segera menjawab. "Aku... tidak tahu bagaimana berpikir seperti kalian."
"Kau tidak perlu berpikir seperti kami," kata James, suaranya lembut. "Cukup jadi dirimu sendiri."
"Tapi itulah masalahnya, James. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku."
James diam sejenak. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia menarik sesuatu dari sakunya — sebuah cincin perak sederhana, dengan ukiran daun oak kecil di bagian luar.
"Ini untukmu."
Evelyn memandanginya, bingung. "Aku... tidak mengerti."
"Agar kau ingat," lanjut James, matanya berbinar di kegelapan. "Bahwa kau punya tempat di sini. Bersamaku."
Evelyn memandang cincin itu, lalu tangannya sendiri yang masih ada bekas luka kecil dari kehidupan sebelumnya. "Aku tidak pantas memakai ini."
"Justru kau yang paling pantas," James memegang tangannya dengan lembut, memasukkan cincin itu ke telapannya. "Karena kau tidak pernah meminta apa pun. Kau hanya menerima apa yang diberikan dunia padamu. Itu membuatmu... istimewa."
Cincin itu tidak pernah ia pakai di jarinya. Tapi ia simpan di kantong rahasia di balik jaketnya — selalu. Menjadi bagian dari dirinya yang tak terlihat.
---
Badai datang di hari ulang tahun keduanya di rumah Noire. James mengadakan pesta kecil di perpustakaan — hanya mereka berdua, dengan kue cokelat sederhana dan satu lilin.
"Selamat ulang tahun, Evelyn," ucap James, matanya berbinar seperti bintang. "Dua tahun bersamamu terasa seperti... seperti menemukan warna di dunia hitam putih."
Tiba-tiba, ia batuk. Bukan batuk biasa — dalam, menggema di ruangan sunyi itu, sampai ia harus memegang dadanya dengan erat.
"James?" Evelyn bangkit, tangannya terulur.
"Aku... baik-baik saja," ia tersenyum, tapi wajahnya pucat seperti lilin yang akan padam. "Cuma... cuma batuk biasa."
Tapi Evelyn tahu itu bukan batuk biasa. Ia sudah cukup melihat penderitaan di jalanan untuk mengenali suara penyakit yang menggerogoti dari dalam.
Esok harinya, dokter datang. Kata-kata berbisik di lorong seperti angin jahat: "penyakit langka... tidak ada obat yang diketahui... mungkin hanya bertahun-tahun lagi..."
Malam itu, ketika rumah sudah terlelap, Evelyn berdiri di luar kamar James. Ia mendengar suara James dan Kepala Keluarga dari balik pintu.
"Aku tidak ingin dia melihatku sekarat, Ayah. Aku tidak kuat."
"Dia kuat, James. Lebih kuat dari yang kau kira."
"Itulah yang membuatku takut," suara James pecah. "Kalau dia melihatku perlahan menghilang... dia akan tetap di sini, menonton, menderita. Aku lebih baik... membuatnya membenciku."
"Dengan cara apa, Nak?"
"Dengan cara yang akan membuatnya pergi. Dengan cara yang akan mematahkan hatinya sebelum penyakit ini mematahkan tubuhku."
Evelyn tidak bergerak. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Tangannya menggenggam cincin perak di sakunya, erat, sampai logamnya menusuk kulit telapannya. Tapi tidak ada rasa sakit — hanya mati rasa yang dalam.
---
Di kamarnya, Evelyn berdiri di depan cermin besar. Mata hitam tanpa pupilnya memantulkan bayangan seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Di luar jendela, hujan kembali turun — seakan langit ikut berduka untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi, tapi sudah terasa seperti kuburan di dadanya.
Ia mengeluarkan cincin perak, memandanginya di bawah cahaya bulan yang menyelinap melalui jendela. Ukiran daun oak terlihat samar, hampir seperti ilusi.
"James," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin, suara serak oleh sesuatu yang lebih dalam dari tangis. "Kalau itu benar-benar yang kau mau... kalau kau pikir itu yang terbaik... aku akan melakukannya. Aku akan pergi."
Lampu kamar padam tiba-tiba. Hanya sorotan bulan purnama yang menyinari rambut bob cut hitamnya — dan sepasang mata yang terlihat lebih gelap, lebih kosong, dari malam itu sendiri.
---
Akhir Chapter 1.
CHAPTER 2 : KELAHIRAN DI TENGAH BADAI DAN DARAH
---
Tujuh hari setelah Evelyn mendengar kebenaran pahit itu, langit memutuskan untuk ikut berduka. Badai salju pertama musim itu datang bukan dengan perlahan, tapi dengan kemarahan. Angin meraung seperti roh yang terluka, salju menghujam horizontal, menusuk kulit bagai jarum-jarum kecil.
Evelyn tidak meninggalkan catatan. Tidak ada kata perpisahan. Apa gunanya? James sudah mengatakannya dengan jelas — meski tanpa suara, dengan rencana diamnya untuk menjauhkannya. Jadi malam itu, dengan ransel kecil berisi sedikit barang dan cincin perak di sakunya yang paling dalam, ia melangkah ke dalam badai.
Pintu samping rumah Noire berderit tertutup di belakangnya untuk terakhir kalinya. Badai langsung menyambutnya dengan pukulan dingin yang membuatnya terhuyung. Tapi ia terus berjalan, masuk semakin dalam ke malam yang putih dan marah.
---
Kota itu berubah menjadi labirin putih. Lampu-lampu jalan hanya menjadi noda kuning buram dalam tabir salju. Evelyn berjalan tanpa arah, kaki-kakinya tenggelam hingga lutut di tumpukan salju yang semakin tinggi. Dingin merayap melalui lapisan jaketnya, tapi yang lebih dingin adalah kekosongan di dalam dadanya.
Setelah waktu yang kehilangan makna — mungkin satu jam, mungkin tiga — sebuah cahaya neon merah berkedip di kejauhan. Bentuknya bergoyang liar ditiup angin: "THE RUSTY NAIL". Sebuah bar, terlihat bobrok bahkan dari jarak seratus meter.
Evelyn mendorong pintu berat itu. Kehangatan palsu menyambutnya — hawa pengap bercampur bir basi, asap rokok, dan keringat. Beberapa pasang mata menatapnya saat ia masuk, lalu berpaling. Di sini, seorang anak perempuan basah kuyup masuk tengah malam bukan hal aneh.
Ia duduk di bangku paling ujung, melepas sarung tangan beku. Tangannya ungu, gemetar.
"Minum apa?" suara parau di depannya. Pelayan tua dengan mata merah.
"Air... air hangat."
Pria itu mengangguk, kembali dengan cangkir keramik retak. Evelyn meminumnya dengan lahap, merasa cairan hangat itu mengalir sampai ke jari-jari kakinya yang beku.
Belum sempat ia menikmati kehangatan sementara itu, bayangan besar menghalangi cahaya lampu di depannya.
"Dengar-dengar, ada anak baru yang lucu."
Tiga pria — berbadan besar, mata berkaca-kaca oleh alkohol — mengelilingi bangkunya. Yang paling tinggi menyentuh rambut Evelyn.
"Jangan sentuh aku," suara Evelyn datar, tapi dalam.
"Wah, galak ya?" Pria itu tertawa, tangannya kini meraih lengannya. "Ayo, main dengan kami. Kami bayar."
Evelyn melihat ke sekeliling. Tak ada yang bergerak. Bahkan si pelayan tua memalingkan wajah. Di bar ini, hukum siapa yang kuat yang berlaku.
"Lepaskan," katanya lagi, kali ini lebih keras.
"Atau apa?" Pria itu mendekatkan wajahnya, napasnya bau alkohol murahan.
Dan itulah yang memicunya.
Evelyn tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan pria itu, memutar cepat — krak — suara tulang patah jelas terdengar bahkan di atas musik kotor yang diputar.
Pria itu menjerit, tapi jeritannya terpotong ketika siku Evelyn menghantam tenggorokannya. Ia terhuyung, dan Evelyn tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan lancar yang mengerikan untuk seseorang seusianya, ia mendorong kepala pria itu ke tepi meja baja — sekali, keras.
Diam.
Dua pria lainnya terkesiap, lalu maju bersamaan. Yang satu mengayunkan botol bir. Evelyn menghindar rendah, kakinya menyapu kaki pria itu hingga ia jatuh. Botol itu pecah di lantai, dan sebelum pria itu bisa bangkit, Evelyn sudah mengambil pecahan kaca terbesar dan menancapkannya ke paha pria itu.
Jeritan kedua memenuhi ruangan.
Pria ketiga mundur, tangannya terangkat. "Ampun... ampun..."
Tapi Evelyn sudah tak bisa berhenti. Sesuatu telah terbangun — sesuatu yang gelap, dingin, dan sangat, sangat tua. Ia melompat, tubuhnya yang kecil tiba-tiba terasa seperti senjata itu sendiri. Tangannya memelintir leher pria itu, dan dengan gerakan cepat yang mematikan —
Krak.
Sunyi.
---
Seluruh bar terdiam. Musik berhenti. Semua mata tertuju pada anak perempuan berambut bob hitam yang berdiri di antara tiga pria — satu tak bergerak, satu mengerang memegang paha berdarah, satu lagi memegang pergelangan tangan yang bentuknya sudah aneh.
Evelyn bernapas berat. Darah — bukan darahnya — ada di tangannya, di bajunya. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Masih hitam, masih tanpa pupil, tapi kini ada sesuatu di dalamnya: kekosongan yang aktif, kegelapan yang memutus.
Tepuk tangan.
Satu. Dua. Lalu berturut-turut.
Dari sudut paling gelap, seorang pria berdiri. Ia mengenakan jas abu-abu yang bagus — terlalu bagus untuk tempat seperti ini. Wajahnya sulit diingat, biasa saja, tapi matanya... matanya seperti Evelyn. Kosong.
"Istimewa," ucap pria itu, suaranya halus seperti sutra yang dipotong. "Sangat istimewa."
Evelyn tidak menjawab, hanya menatap.
"Kau membunuh tanpa emosi. Tanpa kegembiraan. Tanpa penyesalan. Itu langka." Pria itu mendekat, mengabaikan mayat di lantai seolah itu hanya sampah. "Namamu?"
"Evelyn."
"Evelyn," ia mengulang, seperti mencicipi kata itu. "Tapi kau bukan Evelyn lagi, bukan? Setelah apa yang baru kau lakukan."
Evelyn melihat tangannya yang berdarah. Ia benar. Evelyn — anak perempuan yang percaya pada cincin perak dan janji di bawah pohon oak — sudah mati di suatu tempat antara rumah Noire dan bar kotor ini.
"Kau butuh nama baru," lanjut pria itu. "Dan pekerjaan. Aku punya keduanya."
"Pekerjaan apa?"
"Pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang bisa mengambil nyawa seperti memetik bunga." Pria itu tersenyum tipis. "Kau akan menjadi senjata. Tak bernama, tak berwajah. Hanya... keheningan yang mematikan."
"Pembunuh bayaran."
"Kata yang kasar untuk seni yang halus."
Evelyn memandang sekeliling. Mayat di lantai. Darah di tangannya. Badai di luar yang masih meraung. Dan di kejauhan — sangat, sangat jauh — bayangan rumah dengan jendela yang mungkin masih menyala.
"Aku setuju," katanya, suaranya tiba tua. "Tapi aku punya syarat."
"Syarat?"
"Aku ingin diajari segalanya. Tidak setengah-setengah."
Pria itu mengangguk, puas. "Baik. Mulai besok, kau milikku. Dan untuk namamu..." Ia memandang cara Evelyn berdiri, tenang di tengah kekacauan yang ia buat sendiri. "Kita akan memanggilmu Silencer. Karena kau bekerja dalam diam, dan kau membuat orang diam selamanya."
Silencer.
Nama itu pas. Seperti sarung tangan yang dibuat khusus.
"Sekarang," kata pria itu — yang kemudian Evelyn tahu namanya Handler — "kita pergi dari sini. Polisi akan datang."
Handler mengangguk pada dua orang yang tiba-tiba muncul dari bayangan. Mereka membersihkan tempat itu dengan efisiensi yang mengerikan — mayat dibungkus, darah dibersihkan, saksi-saksi dibayar atau... diamankan.
Satu jam kemudian, The Rusty Nail seolah tak pernah mengalami kekerasan malam itu. Kecuali satu hal: seorang anak perempuan bernama Evelyn Noire telah mati di sana. Dan sesuatu yang lain telah lahir.
---
Di mobil hitam yang meluncur masuk badai, Handler memberikan Evelyn pakaian baru — sederhana, gelap, praktis.
"Pelajaran pertama," katanya sambil menyalakan sebatang rokok. "Jangan pernah terikat pada nama. Pada wajah. Pada kenangan. Kau sekarang alat. Alat yang sempuma tidak punya masa lalu."
Evelyn — tidak, Silencer — mengangguk. Tangannya mengenggam sesuatu di saku. Cincin perak. Satu-satunya sisa dari kehidupan sebelumnya.
Tapi ketika Handler menatapnya, ia melepaskan genggamannya. Cincin itu terjatuh ke sela-sela kursi mobil, hilang dalam kegelapan.
"Bagus," bisik Handler. "Sangat bagus."
Mobil itu melaju lebih cepat, menelan jalanan yang diselimuti salju. Di kejauhan, lampu kota semakin memudar, dan bersama mereka, memudar pula sisa-sisa Evelyn Noire.
Yang tersisa hanyalah Silencer. Dan badai. Selalu badai.
---
Akhir Chapter 2.
CHAPTER 3: SURAT UNDANGAN DARI KUBURAN KENANGAN
---
Tiga tahun.
Tiga tahun sejak badai salju itu. Tiga tahun sejak Evelyn Noire mati di bar kumuh dan Silencer lahir dari darah dan keputusan yang tak terucap.
Malam ini, seperti banyak malam sebelumnya, Silencer bekerja.
Targetnya seorang pengusaha korup bernama Viktor Reinhart. Orang yang menyembunyikan lusinan dosa di balik setelan mahal dan senyum dermawan. Misi sederhana: masuk ke apartemen mewahnya, ambil dokumen dari brankas, dan pastikan Reinhart tak pernah membocorkan rahasia lagi.
Silencer bergerak seperti bayangan di antara kegelapan. Jas hitam panjangnya nyaris tak bersuara, rambut bob cut-nya tersembunyi di balik kerah tinggi. Matanya — masih hitam, masih tanpa pupil — memindai setiap sudut dengan ketajaman yang sudah terasah oleh ratusan malam seperti ini.
Ia masuk melalui ventilasi, tubuhnya yang ramping meluncur turun ke ruangan gelap. Kamera keamanan sudah ia matikan dari luar. Penjaga sudah "diistirahatkan" dengan suntikan sedatif.
Di ruang kerja Reinhart, brankas tersembunyi di balik lukisan landscape. Silencer tak butuh kode — hanya seperangkat alat khusus dan kesabaran selama dua menit empat puluh detik.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Dokumen-dokumen. Juga uang tunai dan perhiasan. Silencer hanya mengambil yang diperlukan, menyimpannya di dalam jaket.
Lalu ia mendengar langkah.
"SIAPA DI SANA?!"
Reinhart. Ternyata ia pulang lebih awal.
Silencer tak bergerak dari tempatnya di balik tirai. Nafasnya tenang. Detak jantungnya stabil.
Reinhart masuk, wajahnya merah marah. Tangannya memegang pistol kecil.
"Keluar! Aku tahu kau di sini!"
Silencer memutuskan. Target sekunder: eliminasi.
Dari balik tirai, ia melemparkan sesuatu kecil — sebuah coin yang memantul di lantai marmer. Reinhart menoleh, dan itu adalah kesalahan terakhirnya.
Silencer muncul seperti hantu, butterfly knife-nya berkilat sesaat di cahaya bulan sebelum menemukan rumahnya di antara tulang rusuk ketiga Reinhart. Gerakan cepat, tepat, efisien. Reinhart terkesiap, matanya melebar, lalu tubuhnya roboh tanpa suara.
Dengan tenang, Silencer membersihkan pisau itu di kain tirai, menyimpannya kembali. Ia memeriksa nadi Reinhart — sudah tak ada. Misi selesai.
---
Lima belas menit kemudian, di mobil hitam yang selalu sama, Handler menyalakan sebatang rokok. "Laporan?"
"Dokumen diperoleh. Target diamankan. Tak ada saksi. Tak ada jejak."
Handler mengangguk, menyerahkan secangkir kopi hitam. Ritual mereka setelah setiap misi. Kopi di mobil gelap, laporan singkat, lalu pergi sebelum fajar.
"Kau semakin cepat," kata Handler, suaranya datar tapi ada nada puas. "Waktu dari masuk hingga keluar: dua puluh dua menit. Rekor baru."
Silencer menyeruput kopinya. Pahit, seperti selalu. "Lokasi mudah. Sistem keamanan kuno."
"Jangan meremehkan." Handler memandangnya melalui kaca spion. "Kepercayaan diri berlebihan pernah membunuh banyak orang seperti kita."
"Tapi bukan aku."
Handler tersenyum tipis. "Tidak. Bukan kau."
Mereka diam beberapa menit, hanya suara mesin mobil dan hujan ringan yang mulai menepuk kaca jendela. Kota tidur di luar, tak tahu bahwa keseimbangan kekuasaannya baru saja bergeser sedikit oleh tangan seorang pembunuh bayaran berusia delapan belas tahun.
Lalu Handler mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Bukan dokumen, bukan uang. Sebuah amplop — kertas tebal, berwarna gading, dengan segel lilin di bagian belakang.
"Ini untukmu."
Silencer menerimanya. Amplop itu terasa mahal di tangannya. Alamat pengirim tertera dengan elegan: Keluarga Noire, Noire Estate, Hillcrest District.
Jantungnya — yang tak pernah berdebar saat membunuh — tiba-tiba berdetak sekali, keras.
"Surat undangan," kata Handler sebelum Silencer bertanya. "Datang tiga hari lalu. Aku menahannya sampai misi malam ini selesai."
"Mengapa?"
"Karena kau perlu fokus. Dan karena..." Handler memandangnya tajam. "...surat ini tentang pemakaman."
Udara di dalam mobil tiba-tiba terasa dingin.
"Pemakaman siapa?" tanya Silencer, tapi dalam hatinya, ia sudah tahu. Sudah tahu sejak melihat segel keluarga Noire.
Handler menyeruput kopinya, menatap jalan di depan. "James Noire. Meninggal dua minggu lalu. Penyakitnya... akhirnya menang."
Amplop itu terasa seperti bara di tangan Silencer. Ia membukanya dengan gerakan mekanis. Surat di dalamnya singkat, formal, ditulis dengan tinta hitam pekat:
Keluarga Noire dengan berat hati mengundang Anda untuk menghadiri upacara pemakaman James Alistair Noire, yang akan diadakan pada hari Sabtu, 15 November, pukul 10:00 pagi, di Noire Family Estate. — Hidley Noire, atas nama Keluarga.
Tanggal itu... besok.
"Kau akan pergi?" tanya Handler.
Silencer memandangi surat itu, lalu ke tangannya sendiri. Tangan yang tiga jam lalu mengakhiri nyawa seorang pengusaha korup. Tangan yang tiga tahun lalu melepaskan cincin perak ke kegelapan mobil.
"Aku tidak punya pakaian untuk pemakaman," katanya, suara datar.
Handler tersenyum — senyum aneh, hampir seperti kasihan. "Aku sudah menyiapkannya. Jas hitam, sesuai. Kau akan terlihat... pantas."
"Kenapa kau berpikir aku akan pergi?"
"Karena," Handler menyalakan rokok lagi, asapnya berputar-putar di dalam mobil, "bahkan senjata terbaik pun punya masa lalu yang perlu dikubur. Dan James Noire... dia adalah masa lalumu, bukan?"
Silencer tidak menjawab. Ia melipat surat itu, memasukkannya kembali ke amplop, lalu ke saku dalam jasnya.
"Jemput aku besok pagi," katanya. "Jam sembilan."
Handler mengangguk. Mobil melaju lebih cepat, meninggalkan distrik mewah menuju tempat persembunyian mereka. Di luar, hujan semakin deras — seakan kota tahu bahwa sesuatu yang lama tertanam akan segera digali.
Dan di dalam mobil, Silencer menatap lengannya sendiri, memikirkan cincin yang hilang, janji yang terpatahkan, dan sebuah pemakaman untuk seseorang yang seharusnya tidak mati sebelum mereka sempat saling memaafkan.
---
Akhir Chapter 3.
CHAPTER 4: PEMBAKARAN MASA LALU
---
Mobil Handler berhenti tepat di depan gerbang besar Noire Estate. Hujan pagi menetes pelan, membuat segala sesuatu terlihat kabur — seperti kenangan yang tak ingin diingat.
Silencer melangkah keluar, jas hitam panjangnya rapi, rambut bob cut-nya tersisir rapi di bawah fedora hitam sederhana. Penampilannya sempurna, seperti tamu berduka pada umumnya. Tapi matanya — selalu matanya — tetap hitam, kosong, dan jauh lebih tua dari wajahnya yang baru delapan belas tahun.
Peti mati James sudah diturunkan ke liang kubur di taman keluarga. Sekitar lima puluh orang berkumpul — keluarga besar, teman, rekan bisnis. Semuanya mengenakan hitam, semuanya dengan ekspresi sedih yang diukur.
Silencer berdiri di belakang, di bawah pohon besar yang menjauhkannya dari kerumunan. Dari sana, ia bisa melihat peti kayu mahoni yang tertutup. James ada di dalam sana. James yang pernah memberinya cincin perak. James yang memilih menyakitinya demi melindunginya. James yang mati sendirian, dengan penyakit yang menggerogotinya dari dalam.
Upacara berlangsung dengan khusyuk. Pendeta berbicara tentang kehidupan singkat namun bermakna. Hidley — yang kini menjadi kepala keluarga — menyampaikan pidato singkat tentang adiknya yang "terlalu baik untuk dunia yang kejam ini".
Lalu, ketika tanah pertama mulai ditaburkan ke peti, Hidley melihatnya.
Matanya menyempit. Bibirnya berkerut. Dan ketika upacara selesai, tamu-tamu mulai bubar, Hidley berjalan menghampiri Silencer.
"Kau berani datang kemari?" suaranya rendah, penuh racun.
Silencer tidak menjawab, hanya menatapnya.
"Setelah semua yang kau lakukan. Setelah kau membuatnya menderita bertahun-tahun karena memikirkanmu. Setelah kau menghancurkan hidupnya."
"Selesai?" tanya Silencer, suaranya datar.
"Tidak," desis Hidley, mendekat. "Kau tahu, di detik-detik terakhirnya, James masih menyebut namamu. Masih bertanya-tanya di mana kau. Dan kau? Kau di mana? Membunuh orang untuk uang? Menjadi anjing penjagal bayaran?"
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku."
"Aku tahu cukup! Aku tahu kau hancurkan adikku! Dan sekarang kau datang kemari, berpakaian bagus, seolah kau berhak berduka? Kau tidak berhak! KAU PENYEBAB KEMATIANNYA!"
Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan suara keras, cukup untuk membuat beberapa tamu yang masih ada menoleh.
Dan sesuatu dalam Silencer — sesuatu yang selama tiga tahun ia kunci rapat-rapat — patah.
Ia tidak berteriak. Tidak menunjukkan emosi. Hanya bergerak.
Tangannya mencengkeram leher Hidley, mendorongnya ke pohon di belakang mereka. "Kau ingin tahu kebenaran, Hidley? James mati karena kau. Karena kebencianmu. Karena semua tahun di mana kau membuat kami merasa seperti sampah. Dia sakit bukan karena aku, tapi karena harus hidup di rumah yang penuh racun seperti ini."
Hidley terbatuk, mencoba melepaskan diri, tapi genggaman Silencer seperti besi.
"Dan sekarang," bisik Silencer, suaranya dingin seperti kuburan, "kau akan merasakan apa yang kau berikan pada kami."
---
Yang terjadi selanjutnya bukan lagi pembunuhan. Itu pembantaian.
Silencer menarik pistol dari balik jasnya — senjata yang seharusnya tidak ia bawa ke pemakaman, tapi Handler bersikeras. Peluru pertama mengenai lutut Hidley, menjatuhkannya.
Lalu ia berbalik ke tamu-tamu yang terkesiap. Target-target yang Handler sebutkan — pengusaha korup, politisi busuk, mereka semua ada di sini. Misi yang tak terencana.
Tamu pertama mencoba lari. Silencer melemparkan butterfly knife-nya. Pisau itu mendarat tepat di tengah punggung pria itu.
Kekacauan pecah. Teriakan. Lari. Tapi tak ada yang bisa keluar — gerbang sudah dikunci dari luar oleh Handler yang tahu apa yang akan terjadi.
Silencer bergerak dengan efisiensi mengerikan. Satu per satu. Peluru, pisau, tangan kosong. Tidak ada yang lolos. Bahkan pelayan-pelayan yang mencoba bersembunyi.
Dalam waktu lima belas menit, Noire Estate yang megah berubah menjadi rumah mayat. Darah menggenang di rumput hijau, menodai batu nisan keluarga.
Hidley, masih hidup, menyaksikan semuanya dengan mata penuh horror.
"Kau... monster..." desisnya.
"Monster diciptakan, Hidley," kata Silencer, berdiri di depannya. "Dan kau yang menciptakanku."
Ia mengambil karung goni dari gudang taman, mendorong Hidley yang tak berdaya ke dalamnya, mengikatnya kuat-kuat. Lalu ia menyeret karung itu — dengan Hidley yang menjerit-jerit di dalamnya — ke tumpukan mayat yang sudah ia kumpulkan di tengah taman.
Dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebotol kecil cairan — pembakar yang ia selalu bawa untuk misi pemusnahan bukti. Ia menyiramkannya ke tumpukan mayat, lalu ke karung tempat Hidley berada.
"Tolong... jangan..." suara Hidley dari dalam karung, sekarang penuh ketakutan murni.
"Untuk James," bisik Silencer.
Korek api dinyalakan, dilempar.
Api menjilat dengan cepat, melahap kain, daging, segala sesuatu. Jeritan Hidley terdengar sebentar, lalu hilang ditelan gemuruh api.
---
Ketika api masih membara, Silencer berjalan ke liang kubur. Peti James masih terbuka — mereka belum sempat menutupnya sepenuhnya sebelum kekacauan terjadi.
Ia melompat ke dalam lubang, berdiri di samping peti. James terbaring di dalam, wajahnya tenang, hampir seperti tertidur. Tiga tahun penyakit telah mengubahnya — lebih kurus, lebih pucat — tapi masih James.
"Maaf," bisik Silencer, suaranya untuk pertama kali dalam tiga tahun terdengar seperti Evelyn. "Maaf aku tidak ada di sini saat kau pergi."
Ia membungkuk, mencium dahi James yang dingin. Ciuman perpisahan yang tertunda tiga tahun.
Lalu ia melihat sesuatu di dalam peti — sebuah topi fedora hitam. Topi favorit James, yang selalu ia kenakan saat bermain piano di taman.
Silencer mengambilnya, memakainya. Pas.
Ia memanjat keluar dari liang kubur, lalu mengambil sekop. Dengan tenaga yang tak terduga dari tubuhnya yang ramping, ia mulai menimbun liang kubur sendiri. Tanah demi tanah, sampai peti James tertutup sepenuhnya.
Ketika selesai, ia mengambil papan kayu sederhana, mengukir dengan pisau: James Alistair Noire — Dia yang memberiku cahaya di kegelapan.
Menancapkannya di atas gundukan tanah.
---
Di mobil, Handler sedang membaca koran ketika Silencer masuk. Bau asap dan darah melekat padanya, tapi Handler tidak bereaksi.
"Selesai?" tanyanya.
"Semua target sekunder tereliminasi. Termasuk Hidley Noire."
Handler tersenyum — senyum langka, genuin. "Aku tahu kau akan melakukannya. Beberapa dari mereka sudah menjadi target kita selama berbulan-bulan. Kau hematkan kita banyak waktu."
Ia menyalakan mobil, mulai menjauh dari estate yang sekarang menjadi kuburan massal.
"Sebagai hadiah," lanjut Handler, "kau bisa minta satu hal. Apa pun."
Silencer menatap ke jendela, ke estate yang semakin menjauh. "Setiap musim dingin. Aku ingin libur. Untuk kembali ke sini."
"Untuk apa?"
"Untuk membersihkan makam James dari salju. Sampai musim dingin berakhir."
Handler diam sejenak, lalu mengangguk. "Permintaan yang aneh. Tapi aku setuju. Setiap musim dingin, kau libur. Kembali ke sini. Lakukan apa yang kau perlu lakukan."
Mobil melaju masuk ke jalan raya, meninggalkan masa lalu yang terbakar dan dikubur.
Di kursi penumpang, Silencer melepas topi fedora James, memandanginya. Di dalam band-nya, terselip sesuatu — selembar kertas kecil. Tulisan tangan James:
Untuk Evelyn — Jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu. Maafkan aku untuk semuanya. — J
Kertas itu ia simpan. Topi ia kenakan kembali.
Di luar, salju mulai turun lagi — awal musim dingin yang panjang.
Dan di dalam mobil, Evelyn Noire sudah mati, Silencer tetap hidup, tapi sesuatu yang baru telah lahir: seseorang yang akan selalu kembali, setiap musim dingin, untuk membersihkan salju dari sebuah makam sederhana di bawah pohon oak.
---
Akhir Chapter 4.
EPILOG: SALJU, KENANGAN, DAN SEBUAH MAKAM
---
Tahun pertama. Musim dingin datang lebih awal dan lebih ganas dari perkiraan.
Noire Estate berdiri sepi, dikepung oleh salju setinggi lutut. Gerbangnya masih terbuka sebagian — tak ada lagi yang menguncinya, tak ada lagi yang menjaganya. Rumah megah itu kini hanya cangkang kosong, dengan ingatan yang terbakar dan mayat-mayat yang sudah lama dibersihkan oleh pihak berwenang (dengan bantuan Handler, tentu saja).
Silencer datang sendirian. Jas hitam panjangnya kontras dengan putihnya salju. Di tangannya, ia membawa sekop kecil dan seikat bunga putih — bunga edelweiss, bunga yang bisa bertahan di salju.
Ia tak langsung masuk ke rumah. Langkahnya menuju ke belakang taman, ke bawah pohon oak besar yang kini meranggas, dahan-dahannya seperti tulang-tulang yang mencuat ke langit kelabu.
Di sana, di bawah pohon itu, sebuah gundukan tanah sederhana dengan papan kayu berukir.
Makam James.
Salju sudah menimbunnya hampir setinggi papan nisan. Silencer meletakkan bunga di atas salju, lalu mulai bekerja. Sekopnya menyekop perlahan, dengan hati-hati — seperti ia takut mengganggu tidur yang ada di bawahnya.
Butuh waktu hampir satu jam untuk membersihkan area sepenuhnya. Ketika selesai, ia duduk di atas batu di sebelah makam, memandangi namanya yang terukir.
"James," suaranya pecah, berkerut oleh dingin dan sesuatu yang lebih dalam. "Aku kembali. Seperti yang aku janjikan."
Angin musim dingin berhembus, membawa serpihan salju baru. Tapi Silencer tak bergerak.
"Rumah ini sunyi sekarang. Kau akan membencinya — kau selalu suka keramaian. Tapi... mungkin sunyi lebih baik. Sunyi tak menyakiti siapapun."
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya — cincin perak. Cincin yang dulu ia jatuhkan di mobil Handler, tapi ditemukan kembali oleh Handler dan dikembalikan padanya minggu lalu.
"Kau memberiku ini. Dan aku... aku membuangnya. Maaf." Ia memegangnya erat. "Tapi aku tak akan membuangnya lagi."
Diam yang panjang. Hanya suara angin yang meraung di antara pilar-pilar rumah yang kosong.
"Aku masih melakukan pekerjaan yang sama, James. Masih membunuh. Masih menjadi Silencer." Napasnya membentuk kabut di udara dingin. "Tapi setiap kali aku melakukannya, aku ingat matamu. Matamu yang selalu memandangku seperti aku manusia, bukan monster."
Ia berdiri, membersihkan salju dari bahunya. "Aku tak bisa berjanji akan berubah. Dunia ini... dunia ini membutuhkan orang seperti aku. Tapi aku bisa berjanji ini: setiap musim dingin, aku akan datang kemari. Aku akan membersihkan salju dari makammu. Aku akan berbicara padamu. Dan aku... aku akan mencoba menjadi seseorang yang pantas untuk cincin ini."
Di kejauhan, mobil Handler menunggu — mesin tetap hidup, asap knalpot mengebul dalam udara dingin.
"Tahun depan, aku akan kembali. Dan tahun berikutnya. Dan berikutnya lagi." Ia membungkuk, menyentuh papan nisan. "Tidurlah dengan damai, James. Dan ketahuilah... meski Evelyn sudah mati, dan Silencer terus hidup... cintanya padamu tidak. Itu tetap ada. Di sini."
Ia mengetuk dadanya, tepat di mana jantung seharusnya berdetak.
"Di sini, selamanya."
Silencer memutar balik, mulai berjalan meninggalkan makam. Langkahnya meninggalkan jejak dalam di salju — jejak yang akan tertutup lagi oleh badai berikutnya, seperti segala sesuatu di dunia ini: sementara, tapi berulang.
Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sekali lagi. Pandangannya tertumbuk pada jendela kamar lantai dua — kamarnya dulu. Untuk sesaat, ia hampir melihat bayangan seorang anak perempuan dengan rambut bob cut, menatap keluar ke taman, menunggu seorang anak laki-laki bermain piano di bawah pohon oak.
Lalu bayangan itu hilang.
Ia masuk ke mobil. Handler mengangguk, tak bertanya apa-apa. Mobil melaju pelan, meninggalkan estate, meninggalkan makam, meninggalkan musim dingin pertama dari banyak musim dingin yang akan datang.
---
Di makam, di bawah salju yang mulai turun lagi, cincin perak tertanam di atas gundukan tanah — pilihan terakhir Silencer untuk meninggalkan satu bagian dari dirinya yang manusiawi di sana, bersama James.
Dan di atas papan nisan, di bawah nama James, ada ukiran tambahan yang dibuat dengan pisau oleh Silencer pagi itu:
"Dan dalam kegelapan, cahayamu tetap."
---
AKHIR.
"SILENCER: I Kill, Therefore I Mourn"
Di buat berdasarkan lore karakter avatar roblox saya.hanya untuk iseng saja