Semua orang tahu siapa Adrian Mahesa.
Bos mafia paling dingin di kota itu—dan suamiku.
Pernikahan kami bukan karena cinta. Tidak ada lamaran, tidak ada janji manis. Hanya tanda tangan di atas kertas dan satu kalimat singkat dari ayahku:
“Kamu aman bersamanya.”
Sejak malam pertama, Adrian menepati satu hal:
ia tidak pernah menyentuhku.
Kami tidur di ranjang yang sama, dengan jarak selebar samudra. Ia pulang larut malam dengan aroma rokok dan darah yang tak pernah benar-benar hilang. Aku bangun pagi-pagi, berpura-pura menjadi istri yang tak banyak bertanya.
Karena di dunia Adrian, pertanyaan bisa berujung peluru.
Aku mulai sadar ada yang salah ketika kudengar bisikan para anak buahnya.
“Bos terlalu lembek sama istrinya.”
“Perempuan itu titik lemahnya.”
Aku bukan bodoh. Aku tahu, di dunia mafia, titik lemah adalah hukuman mati.
Malam itu, Adrian pulang dengan luka tembak di bahu. Aku yang membersihkan darahnya. Tanganku gemetar, tapi aku memaksa diri tetap tenang.
“Kamu seharusnya tidak melakukan ini,” katanya dingin.
“Aku istrimu,” jawabku pelan. “Atau setidaknya, namaku yang kamu pakai untuk berlindung.”
Untuk pertama kalinya, ia menatapku lama.
“Justru karena itu,” katanya lirih, “aku tidak ingin kamu terlibat.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari pisau mana pun.
Hari-hari berlalu, dan bahaya semakin dekat. Aku mulai diawasi. Setiap langkahku diikuti. Bahkan senyumku terasa dicurigai.
Sampai suatu malam, mobil yang kutumpangi dihentikan secara paksa.
Kain hitam menutup kepalaku. Bau besi dan oli memenuhi hidungku. Aku tahu ini bukan penculikan biasa.
Ini pesan.
Ketika penutup itu dibuka, aku berada di gudang tua. Pria di depanku tersenyum licik.
“Kami hanya ingin bicara dengan istri Adrian Mahesa.”
Aku tertawa kecil, meski lututku hampir menyerah.
“Kalau begitu, kalian salah orang. Dia bahkan tidak pernah memilihku.”
Tamparan mendarat di pipiku.
Namun yang lebih menyakitkan bukan itu—
melainkan keyakinan bahwa Adrian mungkin tidak akan datang.
Pintu gudang itu hancur setengah jam kemudian.
Tembakan, teriakan, darah. Semuanya terjadi terlalu cepat.
Dan di tengah kekacauan itu, Adrian berdiri.
Matanya merah. Wajahnya bukan wajah pria yang kukenal selama ini. Itu wajah iblis yang kehilangan satu-satunya hal berharga.
Ia membunuh tanpa ragu.
Ketika semua selesai, ia berlutut di hadapanku, tangannya gemetar saat membuka ikatanku.
“Aku terlambat,” katanya serak.
Aku menatapnya, dada sesak.
“Kamu datang.”
“Selalu,” jawabnya. “Bahkan kalau seluruh dunia harus kubakar.”
Di mobil, dalam perjalanan pulang, aku akhirnya bertanya:
“Kenapa kamu menikahiku kalau kamu tidak ingin aku menjadi bagian dari hidupmu?”
Adrian terdiam lama.
“Aku menikahimu,” katanya akhirnya, “karena aku ingin kamu hidup. Bukan terjebak di dunia ini.”
Air mataku jatuh.
“Dan sekarang?” tanyaku.
Ia menoleh, menggenggam tanganku—pertama kalinya tanpa jarak.
“Sekarang mereka tahu,” katanya pelan, “bahwa menyentuhmu berarti perang.”
Aku tersenyum pahit.
“Berarti aku sudah terlanjur menjadi istrimu sepenuhnya.”
Adrian membalas senyum itu—tipis, tapi jujur.
“Tidak,” katanya. “Kamu adalah satu-satunya pilihanku.”
Malam itu, kami tidak tidur dengan jarak lagi.
Bukan karena gairah.
Melainkan karena dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk dijalani sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar:
menjadi istri mafia memang bukan takdir yang kupilih—
tapi dicintai oleh pria yang paling ditakuti,
adalah risiko yang bersedia kuterima.
Tamat