Aira tidak pernah percaya takdir—sampai selendang tua itu melilit pergelangan tangannya.
Selendang batik kusam itu ia temukan di peti kayu rumah neneknya, tersembunyi di balik kitab-kitab tua beraksara Jawa Kuno. Saat disentuh, kainnya hangat, seolah menyimpan napas seseorang. Aira tersenyum kecil, menganggapnya hanya sugesti.
Sampai dunia berputar.
Tanah di bawah kakinya bukan lagi lantai keramik, melainkan tanah merah yang dipadatkan. Udara dipenuhi aroma kayu bakar dan bunga kenanga. Di hadapannya berdiri gerbang kayu besar dengan ukiran megah.
Kerajaan Jayanegara.
Itu nama yang terukir jelas.
“Aku… di mana?” bisiknya panik.
“Putri?”
Suara itu membuat Aira menoleh. Seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam. Busana bangsawan kerajaan melekat rapi, dan keris berukir emas terselip di pinggangnya.
“Aku Rangga,” katanya. “Pengawal utama Pangeran Arya.”
Aira menelan ludah. Ini terlalu nyata untuk sekadar mimpi.
Hari-hari berikutnya, Aira hidup sebagai tamu aneh di kerajaan itu. Ia dianggap utusan jauh karena pakaiannya yang tak lazim. Aira belajar diam, menyesuaikan diri, menyimpan kebingungannya rapat-rapat.
Dan di sanalah ia bertemu Pangeran Arya.
Wajah sang pangeran teduh, tutur katanya lembut namun berwibawa. Tidak arogan seperti bayangan Aira tentang bangsawan. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan saat Aira bicara tentang bintang, waktu, dan hal-hal yang tak mereka pahami.
“Putri Aira,” ucapnya suatu sore di taman istana, “engkau selalu menatap langit seperti ingin pulang.”
Kalimat itu membuat dada Aira sesak.
“Aku memang… bukan dari sini,” jawabnya jujur.
Pangeran Arya tersenyum tipis. “Entah dari mana asalmu, kehadiranmu membawa ketenangan. Dan itu cukup bagiku.”
Sejak saat itu, jarak di antara mereka menghilang.
Aira tahu ia jatuh cinta perlahan.
Pada cara Pangeran Arya memperlakukannya setara, bukan sebagai hiasan istana. Pada caranya menahan amarah demi rakyatnya. Pada kesunyiannya saat memandang medan perang dari kejauhan.
Namun setiap malam, selendang itu selalu berdenyut lembut—mengingatkannya bahwa waktunya terbatas.
“Aku harus kembali,” bisik Aira pada Rangga suatu malam.
Rangga menatapnya lama. “Yang datang dari waktu lain, tak akan pernah benar-benar menjadi milik masa ini.”
Kata-kata itu menampar kenyataan.
Hari itu tiba terlalu cepat.
Kerajaan Jayanegara diserang. Api melahap gerbang, teriakan memenuhi udara. Aira berlari mencari Pangeran Arya di tengah kekacauan.
Ia menemukannya terluka, darah mengalir di lengan.
“Aira!” serunya lega.
Air mata Aira jatuh. Selendang di tangannya bercahaya terang.
“Aku harus pergi… sekarang,” katanya terisak.
Pangeran Arya memegang tangannya erat. “Jika engkau pergi, apakah aku akan dilupakan oleh waktumu?”
Aira menggeleng. “Aku akan mengingatmu. Selamanya.”
Cahaya menyilaukan menyelimuti mereka. Dunia bergetar.
Dan Aira menghilang.
Aira tersadar di kamar lamanya. Selendang itu tergeletak tak bernyawa di lantai. Dunia modern kembali sunyi, seolah semua hanya mimpi.
Namun di hatinya, ada rindu yang nyata.
Beberapa hari kemudian, Aira kembali membuka kitab tua neneknya. Di halaman terakhir, ada lukisan pangeran kerajaan Jayanegara—wajahnya sama persis.
Di bawahnya tertulis:
Pangeran Arya, raja yang memerintah dengan bijaksana hingga akhir hayatnya.
Konon, ia menunggu seorang perempuan dari masa depan, hingga napas terakhirnya.
Aira menutup kitab itu dengan tangan gemetar.
Air matanya jatuh, namun bibirnya tersenyum.
Karena cinta mereka mungkin terpisah waktu—
tapi tidak pernah hilang.
Tamat