Beberapa abad yang lalu sebelum waktu memiliki arah, dan sebelum cahaya menemui maknanya. Hanya ada kehampaan.
Ruang tanpa batas yang tidak pernah mengenal kehidupan dan kematian, tengelam dalam kegelapan tanpa nama. Di sanalah semesta menunggu, bisu, tak bergerak hingga kehendak Dewa Agung turun.
Atas titah mereka, delapan kekuatan primordial dilepaskan ke dalam kekosongan.
Mereka bukan makhluk, bukan pula sekedar konsep. Mereka adalah pilar, fondasi dari keberadaan itu sendiri. Mereka disebut sebagai Delapan Dewa Suci, pemegang inti kekuatan yang menenun realitas.
"Pergilah ke semesta bernama Mystica," demikian suara para Dewa Agung menggema.
"Bangunlah dunia dari kehampaan. Tanamkan kehidupan agar waktu dapat bergerak. Ciptakan damai agar jiwa dapat bernapas.
Jadilah api yang menerangi jalan.
Air yang mengalirkan harapan.
Angin yang membawa perjalanan.
Tanah yang menopang setiap langkah.
Cahaya, jadilah penuntun.
kegelapan, jadilah tempat untuk kembali."
Maka dari itu, Delapan Dewa mengikat diri dalam perjanjian abadi.
Dari kehendak mereka, dua dunia kembar lahir dan berputar dalam harmoni.
Eclithara, dunia cahaya. Rumah bagi keindahan, kesucian dan harapan.
Noxsolaria, dunia kegelapan. Penjaga pengetahuan, keabadian dan rahasia terdalam.
Selama berjuta-juta abad, keduanya hidup dalam keseimbangan. Cahaya dan kegelapan tidak saling meniadakan, melainkan melengkapi, seperti napas semesta itu sendiri.
Namun harmoni tidak pernah benar-benar abadi.
Dari hati makhluk ciptaan, lahirlah sesuatu yang tidak pernah direncanakan. Kebencian. Perbedaan berubah menjadi pertentangan. Pertentangan menjelma menjadi perang.
Para dewa memilih pihak. Dalam perang itu, langit memerah. Laut mendidih. Gunung runtuh. Dan dunia kembar tertarik lalu bertabrakan, tatanan semesta pun retak.
Maka puluhan cahaya turun dari lapisan tertinggi semesta, para pengawas realitas, melampaui bentuk dan logika. Atas titah Dewa Agung, mereka menghentikan perang dan menundukkan Delapan Dewa Suci.
Untuk kedua kalinya, suara Dewa Agung kembali bergema.
"Kekuatan dan nama kalian akan disegel. Sejarah kalian akan dilupakan. Semesta harus disembuhkan dari luka yang kalian torehkan."
Delapan Dewa Suci diasingkan di dalam Tahta Batu Keabadian. Nama mereka dihapus. Semesta dipaksa melangkah maju tanpa mengingat dosa mereka sendiri.
Beberapa juta abad berlalu.
Ketika semesta mulai pulih, sebuah dunia baru lahir dari pengorbanan seperempat inti dari Delapan Dewa Suci.
Aethelgard Mystica.
Dunia yang berdiri di atas kehancuran masa lalu. Dunia yang dijaga oleh hukum mutlak, para dewa tidak lagi boleh turun ke dunia fana.
Di jantungnya, tercipta sebuah pusaran kekuatan yang dikenal Aethernexus. Sumber mana, denyut yang menjaga dunia tetap bernapas.
Dari sisa kekuatan ilahi, mereka yang memegang aspek kehidupan, sihir, pengetahuan, perang, kematian dan puluhan lainnya diwariskan ke dunia, terikat oleh keseimbangan rapuh yang hanya dapat bertahan selama perjanjian dihormati.
Di balik itu, Dua Dewa diperintahkan oleh Dewa Agung untuk menciptakan kehidupan pertama.
Elyndra Celesthiel Elarionne, Dewi kehidupan.
Nyxarion Valtharos Ebonveil, Dewa kematian.
Dari mereka berdua, terciptalah kehidupan pertama. Mereka diberi nama Solmaria Alveria, penjaga kehidupan dan Umbrail Duskat, penjaga kematian.
Dari tangan keduanya, ras-ras pertama lahir. Naga Agung, Undead Kuno, Peri Bulan, Elf, Setengah Hewan... Dan Iblis.
Mereka membangun peradaban.
Mereka menciptakan kerajaan.
Hingga peradaban kembali tumbuh.
Kehidupan dan kematian saling memandang sebagai ancaman. Perdebatan berubah menjadi perang. Dan untuk kedua kalinya, dunia berdiri di ambang kehancuran.
Perang Keajaiban pun meletus.
Selama lima puluh tahun darah dan sihir merobek langit. Dari atas, para Dewa hanya bisa menyaksikan, karena mereka terikat oleh sebuah perjanjian.
Hingga satu Dewi melanggar batas.
Vaelcrea Noctharia Lunesthia, Dewi bulan, menjatuhkan hukuman. Bulan terbelah. Solmaria dan Umbrail melebur. Dan perang berakhir.
Sebuah keputusan dibuat oleh ras-ras yang selamat.
Kebenaran harus dikubur.
Sejarah harus dilupakan.
Maka, Aethelgard Mystica melangkah ke era baru, dibangun di atas kebohongan.
Para ras lama menuliskan sejarah palsu, yang dituliskan pada batu, artefak atau catatan.
Di bawah langit yang tampak damai, kekuatan purba tersegel.
Menunggu hingga seseorang untuk memutar kembali sejarah yang asli.
****************
Mari baca novelnya, dengan judul 「Rokunin no Yuusha sekai o Koeta Kizuna」