Langit semakin gelap dan mendung semakin berat mengandung hujan. Sesekali terdengar suara gemuruh laksana auman hewan hutan yang buas. Kania mempercepat langkah kakinya, dengan sekuat tenaga ia mengayunkan tungkainya, agar langkah yang ia buat menjadi lebih lebar dan lebih oepat lagi. la harus segera keluar dari hutan ini dan mencapai jalan raya sebelum hujan turun. Namun usahanya tidak membuahkan banyak hasil karena ia harus menuntun sepedanya yang bocor beserta muatannya yang cukup berat bagi tubuh Kania yang mungil.
Sebenarnya bukan kali ini saja Kania mengantarkan sembako untuk nenek yang rumahnya berada di balik hutan
Randu ini, mungkin ini sudah yang ke-duapuluh atau bahkan lebih. Tetapi perjalanan Kania ke rumah nenek sebelumnya tidak pernah mendapat masalah seperti ini. Ban sepedanya tiba-tiba bocor dan cuaca menjadi tidak bersahabat. Kania merasa ketakutan. Namun sepenuhnya hal ini adalah kesalahan Kania.
__
Minggu pagi yang cerah, Bu Ratih mengepak berbagai kebutuhan seperti gula, teh, minyak goreng dan lain-lain ke dalam sebuah kantong kresek warna hitam. Dibawanya kantong itu ke serambi depan. Di sana sudah teronggok sekarung beras berukuran 10 kilogram.
"Kania, ayo cepat!" Bu Ratih berteriak memanggil anaknya agar bergegas.
"lya Bu." sahut Kania. la keluar dari kamarnya menuju ke tempat ibunya berdiri menunggunya. Pakaiannya sudah rapi. la mengenakan kaos oblong yang kemudian ia lapisi dengan jaket berwarna merah jambu, celana jeans dan sepatu kets. Di kepalanya bertengger sebuah topi yang sewarna dengan jaketnya yang bertuliskan K-A-N-I-A.
"kamu sudah siap?" Tanya ibunya lagi.
"sudah, Bu" jawab kania. Matanya melihat tumpukan barang-barang di lantai.
"ini sudah semua, Bu?" Tanya Kania kemudian.
"sudah, sudah lengkap semua. Ibu sudah cek sampai dua kali" Jawab Bu Ratih.
"aku ambil sepeda dulu ya Bu." BuRatih menjawab dengan anggukan.
Setelah barang-barang yang akan dibawa Kania terikat dengan aman di sepeda, Bu Ratih pun berpesan kepada anaknya,
"ngat ya Kania, jangan mampir-mampir dulu atau bermain-main dulu ya, langsung ke rumah nenek." Ujarnya.
"iya bu, beres." Kata Kania. Pesan seperti itu sudah ia dengar puluhan kali dari mulut ibunya. Jika ia hendak ke rumah nenek selalu kata-kata itu yang dilontarkan Bu Ratih kepadanya. Kania sudah hafal.
Kania menggenjot sepedanya dengan ceria. Pagi ini begitu cerah, membuat suasana hatinya menjadi ikut cerah ceria. la menggowes sepedanya dengan santai. Sepanjang perjalanan Kania bertemu orang-orang yang dikenalnya.
Senyum dan sapa tak henti-henti keluar dari bibir anak itu.Kehidupan di desa yang damai dan asri membuat penduduk di sana seolah-olah satu keluarga. Tak heran mereka saling mengenal satu sama lain.
"hey, Kania.." seseorang berteriak memanggil nama Kania.Kania menghentikan sepedanya dan menoleh ke sumber suara. Ternyata Danisa, teman sekolah sekaligus sahabatnya.
"kamu mau kemana?" Tanya Danisa sembari memperhatikan benda-benda yang memadati sepeda Kania.
"biasa lah ke rumah nenek. Mengantarkan sembako buat nenek." Jawab kania.
"O00" mulut Danisa membulat.
"kok bukan ayah kamu yang mengantarkan sembakonya?" Tanya Danisa kemudian.
"Ayah sedang ke kota, ada urusan bisnis"' jawab Kania.
"Lagian ini juga sudah menjadi tugasku kok, walaupun ayah ada di rumah. Aku senang jika mengantarkan sembako untuk nenek. Di sana banyak buah-buahan karena kakek memang menanam pohon-pohon itu di kebunnya. Ada mangga, jambu, pepaya, pisang, jeruk, manggis bahkan di kebun kakek juga ada pohon durian. Jika duriannya berbuah, uuuhhh, buahnya legit dan sedap sekali" Terang Kania.
"waahh, kapan-kapan boleh dong aku diajak ke rumah kakek dan nenekmu"
"ya, jika kita libur sekolah nanti aku akan mengajakmu ke sana." Kania berjanji pada Danisa. Secercah senyum tergurat di wajah manis Danisa mendengar janji yang diucapkan sahabatnya itu.
"Sebenarnya aku mau ke rumahmu, Kania." Ujar Danisa.
"oh ya?" Kania antusias.
"lantas?"
"lantas, ya ketemu kamu di sini."Jawab Danisa
"aku mau ngajak kamu ke rumahku. Kemarin ayahku membelikan aku video game yang baru. Aku ingin memainkannya bersama denganmu. Kelihatannya permainan itu menarik. Tapi karena kamu akan pergi ke rumah nenekmu, jadi ya.. batal deh" Suara Danisa terdengar pelan dan sarat dengan nada kecewa.
Kania tidak sampai hati mendengar hal itu. la pun berkata,
"ya sudah, kita ke rumahmu saja sekarang."
"ngg.. tidak usahlah. Kamu kan harus ke rumah nenekmu mengantarkan barang-barang itu, mungkin lain kali saja.
Minggu depan juga boleh." Kata Danisa menolak usul Kania.
Tetapi Kania yang sedari tadi juga merasa penasaran dengan video game Danisa yang baru, memaksa untuk ke rumah Danisa hari ini.
"tidak apa-apa Danisa. Sekarang kan masih pagi. Masih ada waktu untuk mengantar barang-barang ini. Lagian rumah nenekku tidak begitu jauh kok. Hanya melewati hutan
Randu di atas bukit itu saja" Kania mengarahkan telunjuknya ke bukit yang terletak di sebelah kiri desa mereka,
"setelah sampai di jalan raya, hanya setengah kilo meter dari jalan raya, sampai deh di rumah nenek." Kania meyakinkan sahabatnya itu.
"tapi perjalanan melewati hutan mencapai jalan raya kan lumayan jauh" Danisa mengemukakan pendapatnya.
"iya, tapi aku sudah sering melewatinya. Tidak terlalu jauh jika perjalanannya kita tempuh dengan sepeda. Hanya memakan waktu seklitar dua jam-an" Kania tetap keukeh dengan pendapatnya.
"atau, kamu sebenarnya memang tidak ingin mengajakku untuk bermain video game itu?"
Tanya Kania membuat Danisa menjadi salah tingkah. Akhirnya Danisa mengalah pada keputusan Kania.
"baiklah, kalau itu memang tidak mengganggumu. Mari kita ke rumahku" ajak Danisa akhirnya. Mereka pun pergi ke rumah Danisa. Ternyata di rumah Danisa tidak ada siapa-siapa. Ibu Danisa sedang pergi ke rumah pamannya menjenguk bibinya yang sedang sakit.
"kita langsung main aja ya," ajak Danisa.
"ayo.."
kata Kania penuh semangat. Danisa pun menekan tombol power pada video game-nya. Video game itu tersambung ke layar televisi. Mereka langsung mengambil stick -semacam alat untuk mengendalikan lakon pada video game- masing-masing. Tak lama kemudian terdengar celoteh mereka sebagai dubber lakon-lakon yang mereka mainkan.
Matahari sudah melewati puncak tertingginya ketika Kania menyadari perutnya keroncongan. Entah sudah berapa lama ia dan Danisa bermain video game. Karena permainannya semakin seru, Kania mengabaikan rasa laparnya.
'sebentar lagi, masih tanggung' pikirnya.
Diliriknya Danisa yang dengan semangat menekan-nekan tombol pada stick video gamenya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Astaga!l" Kania terperanjat dari duduknya, hingga stick yang ada di tangannya terlempar. Danisa yang duduk di sebelahnyapun ikut terkejut. Serta merta permainan mereka berakhir.
GAME OVER tercetak di layar televisi.
"Kenapa Kania?" Tanya Danisa, melihat tingkah sahabatnya itu.
"aku lupa!! Aku harus mengantarkan pesanan ibu ke rumah nenek!" Kania menjadi panik.
"ya ampun!! Karena terlalu asik bermain kita menjadi lupa!" seru Danisa. Sebersit rasa bersalah tergurat di wajahnya.
Kania tau apa yang dirasakan sahabatnya itu.
"ini bukan salah kamu Danisa. Aku yang salah, aku yang memaksamu untuk bermain video game bersamaku." Ujar Kania. la berlari keluar rumah dan mengambil sepedanya yang tersandar di tembok beranda.
"tapi.."
"tidak apa-apa. Tapi sekarang aku harus berangkat. Aku takut nanti kesorean. Kapan-kapan kita sambung permainan kita lagi" Kata Kania lagi.
"sebaiknya kita makan siang dulu" ajak Danisa.
"ah, tidak usahlah. Aku membawa roti dan air minum dari rumah. Kurasa itu cukup untuk mengganjal perut menjelang sampai di rumah nenek" Kania menolak tawaran Danisa.
"ya sudah, hati-hati ya Kania. Dan, maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengajakmu tadi" Danisa kembali menunjukkan rasa bersalahnya.
"ga pa-pa kok" Kania menenangkan,
"ya sudah, aku berangkat dulu ya." Pamit Kania. la langsung menggenjot sepedanya. Kali ini ia menggenjot dengan kekuatan ekstra. la takut hari akan beranjak sore sebelum ia berhasil melintasi hutan Randu.
Kania sudah mencapai kaki bukit ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Butir-butir keringat telah merembes di balik kaos yang ia kenakan. Rambut di balik topinya juga telah menjadi lepek karena keringat. Nafasnya terdengar ngos-ngosan akibat mengayuh sepedanya sekuat tenaga agar laju sepedanya menjadi cepat. Kania memang benar-benar harus berusaha keras melajukan sepedanya, karena jalan mulai menanjak dan beban yang ia angkut di atas sepedanya sepertinya bertambah berat. Karena tenaganya sudah terkuras, Kania akhirnya memutuskan turun dari sepedanya. Disandarkannya sepeda itu di sebatang pohon. Perutnya telah benar-benar lapar sekarang. la mengeluarkan bekal yang ia bawa dari rumah.Sebuah roti dan sebotol air mineral. Dikunyahnya rotinya dengan perlahan, ia takut tersedak karena mulutnya pun ia gunakan untuk mengambil udara untuk mensuplai paru- parunya. Diminumnya air mineralnya beberapa teguk.Setelah istirahat beberapa jenak dan rotinya habis, Kania merasakan tenaganya telah pulih kembali.
Kania kembali melanjutkan perjalanan. la memutuskan untuk menuntun sepedanya hingga ke atas perbukitan yang datar.
'Akan lebih mudah mengendarai sepeda itu di jalanan yang tidak menanjak.' Pikirnya saat itu.
Kania melangkah dengan cepat. Sesekali ia berpapasan dengan penduduk yang memanggul kayu bakar atau yang membawa hasil bumi dari desa sebelah, desa tempat nenek Kania tinggal.Kania selalu menyempatkan dirinya untuk menyapa orang- orang yang berpapasan dengannya. Walaupun hanya dengan senyuman dan anggukan kepala.
Perjalanan Kania telah sampai di bibir hutan. Jalanan tidak lagi begitu menanjak. Kania kembali menaiki sepedanya. la menekan pedal sepedanya naik turun dengan kuat. Semilir angin yang sejuk menerpa wajahnya, meriapkan rambut di bawah topinya. Sesampainya ia di dalam hutan, pemandangan hutan menjadi semakin gelap. Mungkin karena rindangnya pepohonan yang saling berkait satu sama lain. Atau?? Kania memelankan laju sepedanya, didongakkannya wajahnya ke langit. Benar dugaannya.
Cuaca yang semula cerah, sekarang berbalik menjadi tidak bersahabat. Dari sela pepohonan, Kania melihat langit yang semakin menghitam karena mendung yang menggantung.Hujan akan segera turun. Ketakutan menyeruak di hati Kania. Dan tiba-tiba sesuatu yang tidak beres terjadi pada sepedanya, sepeda itu oleng ke kanan dan ke kiri. Deg! Jantung Kania berguncang. Bannya kempes! Bocor! Ketakutan semakin menyelimutinya.
bersambung..