Bagian 1
Namaku liana dan lelaki yang tengah duduk di sampingku adalah wahyu. Dia adalah cinta pertamaku, aku sangat mencintainya hingga tiada hari yang ku lewatkan tanpa bertemu dengannya. Tatapan matanya yang lembut dan senyuman manisnya selalu membuat hatiku berdebar saat bersamanya. Lama kami mengobrol di teras rumah hingga matahari hampir terbenam.
" Dek, aku pulang dulu ya udah sore", ucapnya seraya memegang tanganku.
" Iya mas, hati-hati di jalan".
Aku menatap kepergiannya seolah dia takan kembali, padahal dia hanya pulang ke rumahnya. Begitulah aku benar-benar tengah di mabuk cinta.
" Lia, ibu mau ngomong sama kamu"
" Ada apa bu? "
" Bilangin sama pacar kamu jangan keseringan ke rumah, ibu ga enak sama tetangga", ucap ibu dengan nada yang mulai meninggi.
" Loh, kenapa bu? Kita ga ngapa-ngapain ko, kan di rumah juga ada ibu. Ga cuma kita berdua aja".
" Kamu pacaran sewajarnya aja. jangan terlalu, toh tiap hari kalian juga ketemu di sekolah kan?"
"Iyaa bu"
" Ini juga demi kebaikan kamu, ibu ga mau nanti orang-orang ngira kamu anak gadis yang ga bener"
" Iya bu maafin lia"
Perkataan ibu membuat ku sadar tentang prilaku berpacaran ku yang sudah berlebihan. Lagi pula kami memang masih duduk di bangku smp.
..
Seperti biasa hari ini kami pulang sekolah bersama, namun kali ini dia mengajaku mampir kerumah nya.
"Kamu duduk dulu ya, aku mau ganti baju sebentar"
Aku menganggukan kepala membalas perkataannya. Ku lihat rumah ini sangat sepi sepertinya hanya ada kami berdua. Aku berkeliling melihat-lihat foto yg berjajar di dinding ruang tamunya.
"Dek, kamu mau minum apa? "
"Hmm.. Air putih aja deh mas, ouh iya orangtua kamu kemana?,ko sepi banget"
"Mereka lagi di kebun biasanya pulang sore".
Lama kami mengobrol dari obrolan ringan sampe menghayalkan masa depan,kami bahas ber dua tanpa ada orang lain yang mendengar percakapan kami, karena jarak antar rumah masih berjauhan.
Tak ter-elakan mata kami sering kali bertatapan hangat, diapun duduk mendekat di sampingku. Tangannya membelai lembut kepala ku yang terbalut hijab, membuat degup jantungku semakin cepat.
"Kenapa mas? Ko tiba-tiba kamu jadi romantis gini", Ucapku sambil memegang tangannya.
" Dek, mas sayang banget sama kamu"
Mas wahyu mulai membelai wajahku
"Hehe.. Aku juga mas"
"Mas cium kamu boleh yah! "
Aku kaget mendengar ucapan mas wahyu, tapi justru hati ku sepertinya sangat menyambutnya.
"Hmm.. Boleh mas"
Mas wahyu semakin mendekati wajahku dan hatiku rasanya gugup bercampur bahagia.
"Mmmuach",
Kecupan mas wahyu mendarat di bibir ku. Aku terdiam mematung hatiku rasanya Mau pecah, ini terlalu kencang berdegup karena rasanya aneh tpi membuat penasaran.
" Mas, ko nyiumnya di bibir? "
Ucap ku dengan sedikit nada tinggi namun manja.
"Hehe..Ngga papa biar dek lia terngiang-ngiang sama aku"
"Hmm.. Tpi mas.... "
Belom sempat aku menyelesaikan perkataan ku. mas wahyu mencium bibir ku lagi, kali ini bibir itu berusaha seperti mencari kenikmatan di dalamnya. 5 detik pertama aku hanya mematung namun saat bibir mas wahyu masih menempel, akupun mulai mengikuti alur bibir nya.
"Mas.. Nanti ada orang" Ucap ku mendorong mas wahyu yang sepertinya mulai di perbudak nafsu.
"Hmm..ga bakal ada orang sayang percaya sama aku, apa Lia ga suka ya mas cium"
"Buka gitu mas, aku mau pulang takutnya ibu nanti mikir yang aneh”
Aku pun segera menggendong tasku dan berdiri meminta pulang. Jujur aku penasaran karena ini adalah ciuman pertama ku tapi sekaligus muncul perasaan takut ibu akan kecewa dengan prilaku ku.
Mas wahyu kemudian mengantarkan ku pulang kerumah kali ini dia tidak mampir katanya ada temannya mau main kerumah.
Sejak hari itu hubungan kami terasa berbeda bukan lagi cinta monyet di masa remaja tapi ini menjadi rumit . Aku menjadi lebih posesif sedangkan dia menjadi tidak peduli seperti datang karena ada yang dia inginkan dari ku.
Setiap kami bersama ciuman selalu menjadi pelengkapnya dan kini itu seperti kebiasaan bagi kami.
Suatu hari di sekolah aku di panggil oleh guru bimbingan konseling.
"Liana, ibu lihat-lihat ko peringkat kamu turun ya, nilai ulangan kamu juga bnyak yang turun"
"Iyaa bu"
"Kenapa?, kamu jarang belajar ya? sayang banget padahal kamu selalu masuk peringkat 3 besar".
Aku hanya bisa tersenyum membalas pertanyaanya.
" Kamu pacaran udah berapa lama sama wahyu?"
"Hmm.. Udah setahun bu"
"Udah lama juga ya berarti dari kelas 2 ya? "
"Hehe iya bu"
Hampir setengah jam aku duduk di ruang konseling bu guru menasihatiku agar aku break dulu pacarannya karena memang ujian kelulusan sudah dekat. Dia berharap aku bisa ikut mendapat beasiswa saat masuk ke sekolah menengah.
Saat pulang sekolah pun teman-teman dekat ku mulai bergantian menasehatiku. Sebagian berkata aku berubah semnjak pacaran dengan wahyu, sebagian lagi berkata aku terlalu bodoh untuk berpacaran dengannya. Namun aku tetap memilih wahyu karna rasanya begitu berat untuk sekedar mengesampingkan perasaan yang membuat candu saat bersamanya.
Hingga suatu hari seminggu sebelum ujian nasional wahyu meminta break padaku dengan alasan mau fokus pada ujian. Namun aku menolak karena aku yakin bisa membagi waktu ku, tapi dia menjadi marah dan sering menghilang saat aku menghubunginya.
Lalu akhirnya aku berlapang dada menerima keputusaan itu hingga ujian berakhir, namun dia menjadi semakin dingin dan mulai abai. Kecurigaan ku menghatui dan kepalaku mulai berisik apakah dia sudah tidak mencintai ku lagi atau apa salah ku kenapa dia menjadi dingin.
Semua pertanyaan itu terjawab ketika ku lihat dia memegang tangan mantan kekasihnya di depan mata ku langsung di hari kelulusan. Yang akhirnya membuat gempar se isi ruangan, semua orang membicarakan nasib ku yang malang. Aku hanya mematung menahan sakitnya di hianati tanpa sepatah kata tanpa air mata aku hanya diam.
"Wahyu brengsek.. Sudah ku duga dia cuma manfaatin kamu doang " Ucap sahabat ku elisa.
"Manfaatin gimana ca? " Ujar ku
"Kamu emang ga ngerasa? Setahun lebih pacaran kamu cuma di jadiin kacung doang liya! ".
Dengan nada tinggi elisa menjelaskan pada ku jika selama Pacaran wahyu selalu minta contekan pada ku, membuat ku menjauh dari teman dekat ku, bahkan dia membohongi ku dia bilang dia putus dengannya karna dulu di selingkuhi tapi ternyata salah elisa mendengar percakapnnya dengan temannya justru akulah selingkuhannya.
Mendengar langsung dari elisa dia tidak mungkin berbohong pada ku, aku diam tapi hatiku mulai mengutuk karena sakit hati.
Saat itu pula aku tidak peduli akan rasa malu ku hampiri wahyu yang tengah duduk bersama temannya.
"Kita putus.. " Ucap ku menahan tangis
"Terserah kalo itu mau kamu" Dengan ekpresi datarnya.
"Loh liya jangan baper wahyu sama lisa kan cuma mantan doang" Ucap adi temannya
Namun tak ku hiraukan perkataannya dan langsung pergi. Aku diam tapi sakitnya luar biasa aku mulai menutup diri menangis setiap malam bukan karena wahyu tapi karena merasa kasihan pada diri sendiri, merasa tak berharga karena penghianatan, menyesal karena ciuman itu ternyata hanya pelampiasan nafsunya yang tak tersampaikan dan bukan untukku.
Belum selesai di situ terjadi kesalah pahaman di antara aku, wahyu dan hana teman sekelas ku, saat aku bermain di taman bersama 2 teman ku yang kala itu taman sedang sepi tiba-tiba dia datang dengan genknya. Adu mulut pun tak terhindarkan amarahnya memuncak dia mengambil sebilah dahan kering lalu melemparnya ke arah ku, darah mengucur dari keningku namun yang kulihat hanya senyuman darinya dan tawa yang menglegar sampai di telingaku. Aku hancur, tangisku pecah dan teman-teman ku histeris melihat ku. Cinta berubah menjadi benci itu yang kurasakan aku tak bisa katakan pada siapapun aku diam menelan semua ini dan saat ibu bertanya tentang luka di keningku aku beralasan jatuh saat bermain. Buku tebal penuh dengan cerita cinta dan kebencian ku padanya semua aku luapkan di sana aku mendoakannya lalu mengutuknya dan beberapa saat pun berharap menghilang dari bumi. Hari-hari penuh tangisan namun hidup harus tetap berjalan aku pun melanjutkan sekolah ku di smk darussalam dengan separuh beasiswa. Namun lama tak mendengar kabar wahyu ternyata kita masuk smk yang sama lagi, itu membuat hidupku semakin terpuruk hanya dengan melihatnya saja luka itu semakin sakit.
Entah apa yang terjadi pada hidupnya setelah menyakitu begitu dalam namun dia selalu ikut ektrakurikuler yang aku ikuti membuat kita benar-benar sering bertemu dalam kelompok, namun aku menghindar tak pernah menyapa ataupun bicara sedikitpun. Lama-lama Aku mulai terbiasa abai akan rasa sakit itu tapi tak pernah memafkan teman baru mulai bermunculan ku ceritakan kisan pilu ini pada winanti teman sekelas dan ektrakurikuler ku di smk, namun ku kira dia memahamiku tapi selang beberapa bulan dia justru memacari wahyu padahal sudah ku ceritkan malangnya nasibku bersama wahyu.
Luka penghianatan pun terbuka kembali namun, aku tetap diam dan menahannya lagi sendiri merenungi nasib, marah, sakit hati dan muncul kebencian dadaku sesak tpi aku hanya bisa menangis hampir 3 tahun ku tahan hingga aku jatuh sakit aku di vonis gejala tbc namun saat rawat jalan dan pendekatan bersama suster akhirnya dokter menyatakan semua itu berasal dari emosi yang lama terpendam. Akupun di terapi untuk bercerita, belajar memaafkan dan mencari hikmah hidup sampai akhinya 3 bulan kemudian aku sembuh dan mentalku pun berangsur membaik. Semangat hidupku terpacu kembali aku mulai merasa bersyukur dan bangga pada diri sendiri, aku fokus pada diriku dan mampu bertahan beasiswa hingga lulus.