Pagi itu, Kantor Imigrasi Kelas I sedang padat-padatnya. Suara mesin nomor antrean yang monoton berpadu dengan aroma kopi saset dan parfum dari berbagai merk yang bercampur menjadi satu. Seno Darmawan, petugas imigrasi dengan seragam biru tua yang disetrika sangat licin, sedang memperbaiki posisi papan namanya. Wajahnya yang biasanya datar dan profesional mendadak kaku saat layar di depannya menampilkan data pemohon nomor urut A-112.
"Nomor antrean A-112, silakan menuju konter empat," suara mesin itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Seno.
Seorang wanita dengan blazer cokelat susu dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala berjalan anggun menuju mejanya. Rania. Wanita yang tiga tahun lalu memutuskan Seno hanya karena Seno terlalu sibuk menghafal pasal-pasal undang-undang keimigrasian daripada membalas pesan "kamu di mana" darinya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Seno sesopan mungkin, meski jempolnya gemetar saat memegang alat pemindai sidik jari.
Rania duduk, meletakkan tasnya, dan baru saat itulah matanya bertemu dengan mata Seno. Ada jeda lima detik yang terasa seperti lima abad. "Seno? Kamu... kerja di sini?"
Seno berdehem, mencoba memanggil kembali jiwa aparatur sipil negaranya. "Mohon maaf, Mbak. Tolong panggil sesuai prosedur. Nama saya Seno Darmawan. Boleh lihat berkasnya?"
Rania mengerucutkan bibirnya, ekspresi yang dulu selalu membuat Seno langsung luluh dan membelikannya seblak level lima. "Oke, Pak Seno yang terhormat. Ini paspor lama saya, mau diperpanjang."
Seno membuka paspor Rania dengan gerakan formal yang dibuat-buat. Matanya memindai halaman-halaman penuh stempel. "Mau ke mana, Mbak?"
"Ke Korea. Mau nonton konser," jawab Rania pendek.
"Korea? Selatan atau Utara?" tanya Seno, mulai masuk ke mode 'interogasi' yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat untuk perpanjangan paspor biasa.
"Ya Selatan lah, Seno! Emang tampang aku kayak mau gabung militer Kim Jong Un?"
Seno mengabaikan protes itu. Ia menatap layar komputer dengan dahi berkerut. "Ke Korea sama siapa? Sendiri atau ada pendamping? Di sana tinggal di mana? Sudah ada tiket pulang?"
Rania menghela napas panjang, suaranya naik satu oktav. "Sama temen, Pak Petugas. Hotelnya di daerah Myeongdong. Tiket pulang sudah ada. Pertanyaannya kok personal banget sih? Kayak mau ngajak balikan tapi lewat jalur birokrasi."
Seno tersedak ludahnya sendiri. "Ini prosedur keamanan, Mbak Rania. Kami harus memastikan warga negara kita tidak terlantar di luar negeri. Apalagi yang... ceroboh dan sering lupa naruh kunci motor kayak Mbak."
Rania melotot. "Oh, jadi sekarang bawa-bawa masa lalu? Perlu aku ingetin juga kalau kamu itu petugas imigrasi paling payah karena nggak pernah bisa menjaga 'pintu masuk' ke hati aku sampai akhirnya orang lain yang masuk?"
Dua orang di antrean belakang mulai berbisik-bisik. Seorang ibu-ibu yang sedang mengurus paspor anaknya bahkan berhenti mengunyah permen karet demi menyimak drama live ini. Seno sadar ia mulai tidak profesional. Ia segera mengarahkan kamera ke arah Rania.
"Tolong tatap kamera, jangan pakai kacamata. Wajahnya tolong dikondisikan, jangan galak-galak, nanti paspornya nggak laku," perintah Seno.
Rania menatap kamera dengan tatapan paling maut yang ia punya. Cekrek.
"Coba lihat hasilnya," pinta Rania. Seno memutar layar komputernya. Rania menjerit kecil. "Seno! Jelek banget! Aku kelihatan kayak buronan kasus investasi bodong! Ulang!"
"Nggak bisa, sistemnya sudah terkunci," bohong Seno. Ia sebenarnya hanya ingin menyimpan foto Rania yang sedang cemberut itu di database-nya—setidaknya untuk dilihat saat ia sedang lembur sendirian.
Seno kemudian menyodorkan alat pemindai sidik jari. "Silakan, jempol kanan."
Rania menempelkan jempolnya. Gagal. "Jempol kiri." Gagal lagi.
"Kamu grogi ya ketemu aku?" goda Rania sambil nyengir jahil, menyadari Seno sebenarnya sedang salah tingkah karena berkali-kali salah menekan tombol di keyboard.
"Mesinnya yang rusak, bukan sayanya yang grogi," elak Seno. Ia mengambil tangan Rania, maksudnya ingin membantu memposisikan jari Rania dengan benar pada pemindai. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, ada sengatan listrik yang membuat Seno refleks menarik tangannya.
"Tuh kan, kena static electricity. Hati kita emang masih punya daya pikat, Sen," celetuk Rania tanpa dosa.
Seno berdehem keras, wajahnya sudah semerah stempel "Ditolak". "Mbak, mohon tenang. Ini kantor pemerintah."
Seno melanjutkan proses administrasi. Saat sampai di tahap akhir, ia terdiam lama melihat kolom alamat di data Rania. "Loh, kamu sudah pindah rumah? Ini alamat di Jakarta Selatan?"
"Iya, biar deket sama kantor. Kenapa? Mau ngirim paket? Atau mau dateng bawa martabak telor kesukaan aku?"
Seno pura-pura sibuk mengetik sesuatu. "Cuma memastikan data valid. Nanti paspornya mau dikirim lewat pos atau ambil sendiri?"
"Ambil sendiri aja," jawab Rania.
Seno mencetak resi pembayaran dan menyerahkannya kepada Rania. "Silakan bayar di bank atau kantor pos terdekat. Paspor bisa diambil tiga hari kerja setelah pembayaran."
Rania mengambil kertas itu, tapi ia tidak segera beranjak. Ia menatap Seno yang mendadak sangat sibuk merapikan pulpen yang sebenarnya sudah rapi.
"Sen," panggil Rania pelan.
"Ya, Mbak Rania?"
"Itu... foto yang tadi jelek banget, beneran nggak bisa diulang?"
Seno menatap Rania, lalu tersenyum tipis—senyuman yang dulu membuat Rania jatuh cinta di kantin kampus. "Bisa sih. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Besok malam, kamu harus jelasin secara detail rencana perjalanan kamu di Korea... di depan meja makan kafe depan kantor ini. Saya harus pastikan kamu nggak salah pergaulan di sana."
Rania tertawa kecil, tasnya ia sampirkan ke bahu. Ia berdiri, lalu membungkuk sedikit ke arah telinga Seno. "Dasar petugas imigrasi modus. Oke, deal. Tapi jangan panggil aku 'Mbak' lagi ya, Pak Petugas. Berasa lagi urus STNK."
Rania berjalan pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Seno yang baru sadar kalau ia lupa mengembalikan KTP Rania yang masih tertinggal di mejanya. Seno melihat kartu identitas itu, lalu melihat status Rania di sana: Belum Kawin.
Seno tersenyum lebar, ia mengambil KTP itu dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya, bukan ke dalam map berkas. Ia tahu, Rania pasti akan kembali lagi untuk mengambil KTP-nya, atau mungkin, untuk membatalkan "keberangkatannya" dari hidup Seno.
"Pak, KTP saya ketinggalan ya?" tiba-tiba Rania nongol lagi di depan meja, sambil menjulurkan tangan dan tertawa.
Seno gelagapan, mengeluarkan KTP dari saku seragamnya sambil garuk-garuk kepala. "Eh, iya. Tadi mau saya... amankan."
"Amankan atau mau dijadiin jaminan biar aku beneran dateng besok malem?" Rania mengedipkan sebelah mata, mengambil KTP-nya, lalu benar-benar pergi sambil melambaikan tangan.
Seno hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara rekan kerjanya di konter sebelah menyenggol bahunya. "Ciee, Seno... deportasi mantan ke hati sendiri nih?"
Dan hari itu, Seno Darmawan belajar satu hal: mengurus paspor mantan jauh lebih sulit daripada mengurus deportasi warga asing, karena tidak ada undang-undang yang bisa melarang seseorang untuk gagal move on di jam kerja.