Sekolah itu tidak pernah benar-benar berubah. Cat temboknya masih sama, meski warnanya memudar. Lapangan belakang tetap berlumpur saat hujan, dan bel masuk berbunyi dengan nada yang sedikit sumbang. Namun bagi Ina, tempat itu terasa jauh lebih kecil dari yang ia ingat.
Ia berdiri di depan gerbang besi, mengenakan pakaian sederhana, bukan seragam seperti dulu. Tangannya menggenggam ponsel, tapi pandangannya tertuju pada halaman sekolah yang ramai oleh siswa-siswi baru. Wajah-wajah muda, tawa-tawa ringan, dan suara langkah kaki yang dulu terasa begitu dekat.
Ina tersenyum kecil.
Di tempat inilah semuanya dimulai.
Cinta pertamanya.
Namanya Yuu.
Dulu, Ina tidak langsung menyadari keberadaan Yuu. Ia hanya satu dari sekian banyak siswa laki-laki di kelas. Rambutnya selalu sedikit berantakan, dasi sering longgar, dan sepatunya jarang benar-benar bersih. Tidak istimewa, setidaknya di mata Ina saat itu.
Sampai suatu hari, guru Bahasa Indonesia memindahkan tempat duduk.
Ina yang biasanya duduk dekat papan tulis, kini berada di bangku tengah, tepat di sebelah Yuu. Ia ingat betul hari itu. Udara kelas terasa panas, dan suara kipas angin berdecit tanpa ampun.
"Kamu Ina, ya?" tanya Yuu sambil menoleh.
Ina mengangguk pelan. "Iya."
"Aku Yuu."
Ia tersenyum. Senyum yang santai, tidak dibuat-buat.
Sejak saat itu, kebiasaan kecil mulai terbentuk. Yuu sering meminjam penghapus Ina, lalu lupa mengembalikannya. Ina sering mengomel pelan, tapi selalu memberinya lagi keesokan hari. Mereka berbagi buku catatan, bertukar cerita tentang tugas yang menumpuk, dan tertawa saat guru salah menyebut nama siswa.
Tanpa disadari, Ina mulai menunggu kehadiran Yuu.
Ia menunggu suara langkah kaki Yuu memasuki kelas. Menunggu komentar acaknya saat pelajaran terasa membosankan. Menunggu caranya menyebut nama Ina, seolah nama itu adalah sesuatu yang ringan dan menyenangkan untuk diucapkan.
Cinta masa sekolah memang seperti permen. Manisnya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat seseorang ingin mencicipinya lagi dan lagi.
Namun ada hari-hari ketika permen itu terasa asam.
Ina mulai merasakan sesuatu yang aneh saat melihat Yuu berbicara dengan siswi lain. Bukan marah, bukan benci. Hanya rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Dadanya terasa sedikit sesak, dan pikirannya menjadi kacau.
Ia tidak tahu apa itu cemburu.
Ia hanya tahu, ia tidak menyukainya.
Suatu sore, hujan turun deras setelah jam pelajaran terakhir. Ina dan Yuu berteduh di lorong kelas, menunggu hujan reda. Seragam mereka sedikit basah, dan udara terasa dingin.
"Kamu kenapa diam?" tanya Yuu.
Ina menggeleng. "Nggak apa-apa."
"Kamu suka hujan?" Yuu bertanya lagi.
Ina berpikir sejenak. "Tidak. Aku lebih suka cerah."
Yuu tertawa kecil. "Aku kebalikannya. Hujan bikin semuanya terasa lebih jujur."
Ina tidak mengerti maksudnya, tapi kalimat itu menetap di kepalanya. Ia mulai memperhatikan hujan dengan cara yang berbeda sejak hari itu.
Perasaan Ina tumbuh perlahan, seperti kebiasaan yang tidak pernah ia rencanakan. Ia tidak pernah berniat jatuh cinta. Itu hanya terjadi begitu saja. Saat ia menyadari, perasaan itu sudah terlalu dalam untuk diabaikan.
Namun Ina adalah anak yang pendiam. Ia menyimpan perasaannya rapat-rapat. Ia takut merusak sesuatu yang sudah terasa nyaman.
Yuu juga tidak pernah mengatakan apa-apa.
Mungkin karena mereka sama-sama takut.
Hari-hari di sekolah berjalan cepat. Ujian datang, tugas menumpuk, dan obrolan tentang kelulusan mulai terdengar. Ina merasa waktu terlalu kejam. Ia belum siap melepaskan hari-hari itu.
Ia belum siap melepaskan Yuu.
Suatu hari, saat jam kosong, Yuu duduk di bangku Ina.
"Kamu berubah," katanya tiba-tiba.
Ina menoleh. "Berubah apa?"
"Kamu jadi lebih sering melamun."
Ina tersenyum tipis. "Mungkin aku capek."
Yuu menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya. "Kalau capek, istirahat."
Ina mengangguk. Ia ingin berkata bahwa yang membuatnya lelah bukan pelajaran, melainkan perasaan yang terus ia pendam.
Hari kelulusan datang dengan cepat.
Seragam putih abu-abu dipenuhi tanda tangan dan coretan. Tawa bercampur tangis memenuhi lapangan sekolah. Ina berdiri agak jauh, memperhatikan teman-temannya yang saling berfoto.
Yuu menghampirinya dengan spidol di tangan.
"Tulis di bajuku," katanya.
Ina ragu sejenak, lalu menulis namanya kecil di dekat dada Yuu. Tangannya sedikit gemetar.
Yuu menulis sesuatu di punggung baju Ina. Ina baru membacanya saat ia pulang ke rumah.
"Terima kasih sudah duduk di sebelahku."
Ina menahan napas lama.
Malam itu, ia menangis untuk pertama kalinya karena perasaan yang tidak pernah ia ucapkan.
Waktu berjalan.
Ina melanjutkan hidupnya. Ia bertemu orang-orang baru, menjalani hari-hari yang berbeda. Ia pernah menyukai seseorang, bahkan pernah mencintai, tapi rasanya tidak pernah sama.
Cinta pertama memang tidak selalu paling indah. Tapi ia selalu paling jujur.
Bertahun-tahun kemudian, Ina kembali ke kota itu. Ia melewati jalan yang sama, warung yang sama, dan tanpa sadar, kakinya membawanya ke depan sekolah lama.
Di sanalah ia melihat Yuu.
Ia berdiri di bawah pohon besar di halaman sekolah, mengenakan pakaian kasual, berbincang dengan seseorang. Rambutnya lebih rapi, wajahnya lebih dewasa, tapi senyumnya masih sama.
Ina hampir tidak berani mendekat.
Namun Yuu lebih dulu melihatnya.
"Ina?" panggilnya, ragu tapi penuh harap.
Ina menoleh. "Yuu."
Mereka tertawa kecil, canggung, seperti dua anak sekolah yang baru saja duduk sebangku untuk pertama kalinya.
Mereka berbincang lama. Tentang hidup, tentang pekerjaan, tentang hari-hari yang telah berlalu. Tidak ada pertanyaan tentang "kenapa dulu tidak", hanya cerita tentang "bagaimana sekarang".
Sebelum berpisah, Yuu berkata pelan, "Dulu aku ingin bilang sesuatu."
Ina menatapnya. "Apa?"
"Kamu adalah cinta pertamaku."
Ina terdiam, lalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Kita sama."
Mereka tidak saling menggenggam tangan. Tidak ada janji. Tidak ada harapan yang berlebihan.
Hanya kejujuran yang datang terlambat, tapi tidak sia-sia.
Karena cinta pertama tidak selalu harus dimiliki. Kadang, ia hanya ingin dikenang sebagai bagian dari diri yang paling tulus.
Dan bagi Ina, Yuu akan selalu menjadi cinta pertamanya.