Nike selalu percaya bahwa pengkhianatan tidak selalu dimulai di atas ranjang yang asing. Baginya, pengkhianatan paling murni dimulai dari sebuah ruang kosong bernama lima menit. Lima menit itu kecil, nyaris tidak berarti di tengah riuhnya jam kerja atau hiruk pikuk rumah tangga, namun cukup untuk memberi celah bagi sesuatu yang terlarang untuk tumbuh. Seperti jamur yang muncul di sudut lembap sebuah bangunan megah, hal-hal kecil itu sering kali lebih merusak daripada sebuah guncangan besar.
Setiap Kamis, Nike sengaja membiarkan dirinya tertinggal dari arus waktu. Ia pulang lima menit lebih lambat.
Itu adalah sebuah presisi yang nyaris religius. Ia menghitung keterlambatannya seolah-olah penambahan durasi sesingkat apa pun akan mengubah status "terlambat" menjadi "berdosa". Lima menit adalah durasi yang aman. Lima menit masih bisa disalahkan pada lampu merah yang lebih lama atau antrean panjang di minimarket. Dalam lima menit itu, Nike merasa memiliki kedaulatan penuh atas hidupnya, sebuah wilayah kecil di mana ia bukan milik siapa-siapa.
Tempat perlindungannya adalah sebuah warung kopi di dekat stasiun. Tempat itu tidak memiliki pesona visual; dindingnya kusam dengan cat yang mulai mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari, dan aroma di sana adalah campuran antara bubuk kopi murah dan asap rokok yang tertinggal. Namun, di sanalah Nike bisa melepaskan jubah sebagai seorang istri. Di sana, ia tidak perlu menjadi perempuan mapan dengan karier stabil dan rumah yang rapi. Ia hanya seorang manusia yang duduk, membiarkan uap kopi menyentuh wajahnya, dan membiarkan pikirannya mengembara ke tempat-tempat yang tidak berani ia kunjungi saat bersama Arif.
Roni selalu ada di sana, menunggu di sudut yang sama.
Lelaki itu berumur awal empat puluhan. Ada sesuatu pada cara Roni berpakaian yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang disiplin terhadap detail, namun matanya selalu mengkhianati kerapian itu. Mata Roni menyimpan kelelahan yang sangat akrab bagi Nike, jenis kelelahan yang bukan berasal dari kurang tidur, melainkan dari terlalu lama berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Cincin kawin di jarinya berkilat di bawah lampu neon yang berkedip, sebuah pembatas yang mereka berdua sepakati tanpa perlu bicara.
Mereka tidak pernah merencanakan pertemuan pertama itu. Semuanya dimulai karena hujan yang turun terlalu tiba-tiba. Pertemuan kedua adalah kebetulan yang menyenangkan. Dan setelah pertemuan ketiga, kebetulan itu berubah menjadi kebutuhan yang sunyi. Mereka tidak pernah menggunakan kata "cinta" atau "selingkuh". Kata-kata itu terlalu berisik, terlalu penuh dengan penghakiman moral yang hanya akan merusak keheningan yang mereka bangun dengan susah payah.
"Kopinya lebih pahit hari ini," kata Roni suatu sore, suaranya rendah, nyaris tenggelam dalam bising kereta yang melintas di kejauhan.
Nike hanya mengangguk kecil. Mereka berbicara tentang hal-hal remeh: keterlambatan kereta, berita di koran lama, atau film-film klasik yang tidak lagi laku. Namun, di bawah permukaan percakapan itu, ada pengakuan-pengakuan yang bergetar. Mereka membicarakan rumah yang kini terasa seperti galeri seni; indah dipandang, namun dingin untuk ditinggali. Mereka membicarakan pasangan yang hadir sebagai sosok fisik di meja makan, namun absen dalam setiap getaran jiwa. Tentang bagaimana rasanya tidur di ranjang yang sama dengan seseorang selama bertahun-tahun, namun tetap merasa bangun di tengah padang pasir yang luas sendirian.
Nike tidak pernah menyentuh Roni dengan sengaja. Kadang hanya ujung jari yang bersinggungan saat Roni menggeser asbak, atau bahu yang tak sengaja merapat saat mereka menertawakan sesuatu yang hanya mereka pahami. Sentuhan itu sesaat, namun efeknya seperti musik yang berhenti tepat sebelum bagian paling emosional, meninggalkan gema yang terus berdenging di dada Nike bahkan setelah ia sampai di rumah.
Di rumah, Arif adalah lelaki yang sempurna. Dan itulah masalahnya. Arif terlalu baik untuk dibenci. Ia adalah suami yang menanyakan "bagaimana harimu?" dengan nada yang sama setiap hari selama sepuluh tahun. Ia adalah lelaki yang selalu memastikan mobil Nike dalam kondisi prima dan tagihan rumah tangga terbayar tepat waktu. Tidak ada teriakan di rumah mereka. Tidak ada piring pecah. Hanya ada keheningan yang tumbuh perlahan, merambat seperti tanaman liar yang menelan dinding rumah mereka sampai mereka tidak lagi bisa melihat jendela.
Kesepian, Nike sadari, tidak datang sebagai ledakan besar. Ia hadir sebagai kebiasaan. Ia hadir sebagai jeda yang terlalu panjang di antara dua kalimat saat makan malam.
Sampai pada suatu Kamis yang basah, Roni tidak muncul.
Nike menunggu. Lima menit menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi dua puluh. Ia menatap layar ponselnya yang gelap, berharap ada pesan yang masuk. Tidak ada. Warung kopi itu tetap berisik, orang-orang datang dan pergi, namun bagi Nike, waktu seolah membeku di mejanya yang kosong. Untuk pertama kalinya, lima menit terasa seperti selamanya.
Ia pulang dengan langkah yang terasa asing. Tidak ada detak jantung yang berpacu karena adrenalin keterlambatan. Ia pulang tepat waktu.
Arif sudah menunggunya di ruang tamu. Lampu dinyalakan dengan terang, menghilangkan setiap bayangan yang biasanya menjadi tempat persembunyian Nike. Arif tidak sedang membaca atau menonton televisi. Ia hanya duduk, menatap lurus ke arah pintu masuk.
"Aku tahu," kata Arif. Suaranya datar, tanpa emosi yang meluap.
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sebuah vonis yang sudah lama tertunda. Tidak ada drama, tidak ada air mata yang meledak. Nike ingin menjelaskan bahwa tidak ada sentuhan fisik yang melampaui batas, bahwa ia hanya mencari seseorang untuk diajak bicara. Namun ia sadar, menjelaskan kesepian kepada orang yang seharusnya menjadi tempatmu berbagi adalah sebuah penghinaan. Bagaimana menjelaskan luka yang tidak meninggalkan bekas?
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak ia simpan. Dari Roni. Pesan itu sangat pendek, sebuah pamit yang kering. Roni memilih untuk kembali sepenuhnya ke dalam rutinitasnya, istri, anak-anak, dan kepura-puraan yang aman. Nike membacanya sekali, lalu menghapusnya. Begitulah akhir dari segalanya; rapi, tanpa keributan, dan tanpa bekas.
Patah hati, ternyata, tidak selalu berisik.
Kadang ia hadir seperti jam dinding yang akhirnya berdetak dengan jujur setelah bertahun-tahun rusak. Setiap detaknya terdengar keras, menghitung waktu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan di balik alasan lima menit. Nike tidak merasa sebagai korban, ia tahu ia telah memilih jalannya.
Ia kini belajar untuk berdamai dengan keheningan yang lebih panjang. Suatu hari nanti, ia mungkin akan kembali ke warung kopi itu, bukan untuk mencari wajah Roni atau menunggu lima menit yang hilang, melainkan untuk duduk sendirian dan akhirnya berani mendengarkan apa yang dikatakan oleh hatinya sendiri. Bahwa hidup yang retak bukan karena satu kesalahan besar, melainkan karena ribuan hal kecil yang dibiarkan mati tanpa pernah disapa.