suasana hari senin cukup memuakkan, siswa-siswi tidak jarang juga mengeluh kepanasan,sebagian pula ada yang pura pura pingsan atau memang pingsan beneran, anggota PMR kalang kabut mengangkut banyak pasien yang berjatuhan.
"gila panas banget!" keluh siswi yang berada di bagian belakang, ia menggeserkan tubuhnya mendekati seorang siswa, "Ar.. panas! gue di belakang lo ya!" gadis itu sudah memposisikan barisannya di belakang siswa yang ia panggil Ar, namanya Argiano Saputra.
"kalau mau pingsan bilang ke gue! supaya bisa kasih pemberitahuan ke yang lain, gue sih ogah kalau harus gotong lo, gusur aja kalau bisa!" hidung cewek itu kembang kempis, tangannya mulai ancang ancang untuk menyerang hama di depannya.
"aww.." ringgis Argi, "nyebelin banget sih lo! katanya sahabat." ketus Alya. gadis itu bernama Alya Earawati, gadis pendek yang tingginya hanya sebatas bahu Argi, sebenarnya bukan Alya yang pendek tapi Argi saja yang ketinggian.
"lah siapa yang mau punya sahabat boncel kayak lo," ledek Argi sembari menoel noel hidung Alya.
"dasar bangsat sialan!" umpat Alya, Argi menatap tajam "ngomong apa coba?" tegasnya, sementara Alya sedikit gelagapan, lalu Alya kabur bersamaan dengan pemimpin upacara yang membubarkan barisan.
"BONCEL.. sini lo!" seru Argi ia ikut mengejar langkah Alya.
Setelah beberapa menit drama kejar kejaran itu akhirnya Alya tertangkap, "mau kemana lagi lo?" tanya Argi tangannya mencengkram pergelangan tangan Alya, "ampun..ampun gue nye..rah!" ungkap Alya dengan nafas tersengal-sengal.
Alya dan Argi itu sudah menjadi bestie dari zaman kerdil atau kita sebut saja zaman sd, kini mereka sudah menduduki bangku sekolah menengah atas.
Setelah bel istirahat berbunyi sekarang Alya sedang berasa dikantin, Alya sedari tadi mengaduk-ngaduk baksonya dengan tampang yang tidak enak di pandang, "kenapa sih Al? tumben baksonya belom lo makan," tanya Gladis temannya. Alya sedari tadi memandang sepasang manusia yang sedang bercanda gurau sambil makan bersama, moodnya turun.
"Pantesan si Argi ga mau diajak makan bareng, ternyata lagi sama si kirana." ketus Alya.
Gladis menolehkan pandangannya ke arah yang dituju Alya, "lo cemburu Al?"
"ngapain juga gue cemburu sama tiang pancoran!" ketus Alya, omongannya sungguh bertolak belakang dengan perasaannya sekarang.
"Kalau lo enggak cemburu, mana mungkin lo badmood lihat mereka, apalagi lihatnya kayak yang mau nerkam gitu!" Ledek Gladis, ia terkekeh senang melihat Alya yang memberenggut kesal.
"Dih apaansih bete gue, gatau ah badmood!"
kejadian itu berulangkali terjadi, Argi selalu saja meninggalkan Alya untuk makan bareng Kirana saat istirahat. Alya gadis itu hanya bisa misuh-misuh, kini dia mulai mendekati bangku pasangan itu, "Ar gue sama Gladis gabung ya!" tanpa persetujuan Argi, Alya sudah mendudukan bokongnya di samping Kirana tepatnya berhadapan dengan Argi. Argi memutar bola matanya, "ganggu aja lo boncel!" Alya cemberut, "Kirana kok mau sih sama si tiang pancoran? kalian pacaran ya? gue lihat akhir-akhir ini selalu berdua."
"boncel kepo!" sahut Argi, "gue nanyanya sama Kirana bukan sama lo!" ketusnya. Argi dan Alya terus berdebat sementara Kirana dan Gladis hanya jadi penonton.
"emangnya kalau gue sama Kirana pacaran kenapa lo? cemburu yaa?" ledek Argi bercanda namun siapa yang tahu jika memang itu yang dirasakan Alya.
"Siapa juga yang mau cemburu sama kutu kupret kayak lo. Dasar tihang pancoran gue gergaji lo!"
"dih ngamuk! jujur aja kali lo cemburu, engga mau kehilangan gue di kehidupan lo!" Argi mencolek dagu Alya membuatnya semakin kesal.
"ngapain juga sih, pede banget lo! tuh idung lo terbang kelangit ketujuh saking pedenya."
"dasar, gengsi di gedein!"
"badan lo tuh yang gede!"
"lo boncel!"
"tihang pancoran!"
"pipi bapau!"
"ulat bulu!"
"hidung pesek!"
"lo pinokio!"
mereka terus saja melemparkan cacian hingga menjadi pusat perhatian di kantin, Gladis dan Kirana menutup mukanya sungguh memalukan karena jadi pusat perhatian.
"STOPP!" ujar Gladis, nafas Alya dan Argi kembang kempis, hampir saja mereka akan melanjutkan ke babak jambak jambakkan jika Gladis telat bertindak.
Beberapa hari setelah kejadian itu anehnya Alya dan Argi malah semakin lengket, "si Kirana itu gebetan lo? atau doi lo?" di sepanjang jalan menuju sekolah mereka berbincang-bincang, Alya masih penasaran mungkin jika Argi menyukai Kirana ia harus siap menanggung patah hati.
"Bukan keduanya! ngapain sih lo tanya tanya tentang si Kirana mulu?"
"ya kan gue kepo, sekalian mau minta PJ kalau beneran, lagian lo juga beberapa kali kepergok bareng Kirana di kantin."
"ya gue bareng dia karena ada urusan juga!" asal kalian tahu Argi itu ketua Pramuka dan Kirana adalah wakilnya, namun Alya hanya merasa tidak wajar saja anggota inti Pramuka kan bukan cuman mereka berdua.
Setelah semua kejadian itu berlalu kini Alya sedang berselonjor di bawah pohon di dekat taman sekolah, beberapa hari ini ia merasakan patah hati, Alya sadar jika perasaan pada sahabatnya sungguh tidak wajar, Alya selalu merasa terbakar melihat Argi bersama dengan gadis lain. Kemarin Alya bermain ke mall bersama Gladis niatnya mau nonton film yang baru rilis, namun ketika melewati toko aksesoris matanya membidik sepasang manusia yang sedang bercengkrama memilih kalung yang mungkin akan laki-laki itu berikan pada gadis itu.
Hati Alya panas, matanya mulai memerah,menahan air yang akan membasahi pipi.
"Dis, pulang yuk!" ajak Alya dengan suara parau. Gladis menyetujui itu, akhir akhir ini Alya sulit menahan emosinya, ia jadi sering menunjukkan emosinya.
mereka berdua sampai di danau terdekat dari rumah mereka, Gladis tahu Alya butuh menenangkan diri, Gladis menyodorkan minuman dingin yang diteguk sedikit oleh Alya. "kalau lo sesayang itu sama dia, jujur aja! Argi pasti ngerti kok," Alya melempar kerikil kecil ke danau, "enggak mau, gue gamau kalau hubungan persahabatan yang terjalin lama rusak gara gara perasaan yang hadir dalam diri gue tanpa diminta!"
"kalau gitu lo harus coba merelakan Argi dengan cewek lain, Argi juga kan engga bisa kalau harus terus sama lo yang jelas jelas sahabatnya. Suatu saat pasti dia juga akan butuh pendamping hidup! posisi lo mungkin masih bisa di sampingnya, namun tetap saja statusnya berbeda."
Setelah mengingat ucapan Gladis waktu itu, Alya mulai menjauhkan diri dari jangkauan Argi, Alya hanya perlu berdamai dengan perasaannya dan merelakan Argi bersama gadis lain. Ia kini menyusuri jalan menuju rumahnya, biasanya Alya pulang bersama Argi namun kini ia berjalan kaki sendiri.
Alya memasuki pekarangan rumah,"tumben masih sepi," dia memasuki rumahnya lalu berjalan ke arah kamar, setelah selesai membersihkan diri Alya bermain ponsel ternyata ada notif dari Argi 5menit yang lalu.
Tihang pancoran
Al nanti jam 7 kerumah gue ya! ga nerima alesan pokoknya lo harus ke sini!
itu isi pesan dari Argi, "apaansih, gue udah berusaha relain dia sekarang malah suruh kerumahnya." Alya menatap jam, 60menit lagi dia akan ke rumah Argi yang hanya terhalang lima rumah di sampingnya.
Alya memakai Hoodie kebesarannya dengan bawahan celana training,setelah izin kepada orangtuanya ia melangkahkan kaki keluar rumah menuju rumah Argi.
ting nong ting nong, Alya membunyikan bel dengan tidak sabaran namun tidak ada yang menyahut, ia langsung saja membuka pintu, "lah kok ga di kunci!" Alya langsung saja memasuki rumah Argi, "Gi..Argiiii.."teriak Alya, suasana rumah Argi sungguh gelap, "kemana sih tuh tihang? apa gue langsung ke kamarnya aja ya?," Alya melangkah sembari menyerukan nama Argi, setelah di buka tidak ada siapa siapa kamar Argi kosong. Alya mencoba menghubungi nomor telpon Argi bunyinya terdengar dari lantai tiga, "ngapain tuh tihang di roftoof, rumah gelap malah diam di roftoof." kesalnya.
Alya mengedarkan matanya tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menutup matanya, "Gi.. lepasin ih engga lucu tahu!" Alya berusaha memberontak namun tangan yang menutup matanya sangat kokoh, setelah di seret beberapa langkah tangan itu melepaskan Alya, "SELAMAT ULANG TAHUN!!!!" seru beberapa orang yang ada di sana termasuk Argi.
mata Alya berbinar, ia sendiri saja lupa kalau hari ini ulang tahunnya, "kok kalian bisa tahu?" tanyanya.
"kalau gue sih di hubungi Argi!" jawab Gladis, di sana ada Argi, Gladis,Kirana dan Nabila.
"ya ini semua Argi yang nyiapin, kita cuman bantu-bantu aja!" jawab Kirana, Alya menoleh ke arah Nabila, "lo kan yang waktu itu gue lihat di mall bareng Argi?" tanya Alya.
"udahlah jangan di bahas! tiup dulu lilinnya." Gladis memegang kue menghampiri Alya, Alya sungguh takjub melihat roftoof yang di hias lampu kecil lalu di tengah tengahnya ada tikar bersama makanan yang tersaji.
"makasih!" ucap Alya setelah tiup lilin, "sini kita duduk!" Kirana mendudukan dirinya di atas tikar lalu diikuti yang lain termasuk Alya, lalu mereka makan bersama.
"ini kado dari gue," Argi memberikan kotak kecil yang entah isinya apa, "pakein dong!" suruh Nabil.
Argi memposisikan dirinya di belakang Alya, lalu memasangkan sesuatu di leher Alya,"kalung?" gumam Alya sembari memegang bandul kalung yang bertengger di lehernya.
"cantik!" gumam Argi, Alya sedikit salah tingkah pipinya bersemu, sedangkan teman temannya meledek Alya, "ciee..cie... jadian dong!"
"Al sebenernya gue mau bilang sesuatu, gue sebenernya suka sama lo!" Alya membelalakkan matanya, "apaan sih Ar, lo kan udah punya cewek masa suka sama gue!"
"kata siapa hemm..?" kini mereka hanya berdua, setelah acara makan lalu kejadian Argi memasangkan kalung, teman-temannya pamit pulang sementara Alya di tahan untuk jangan dulu pulang.
"bukanya lo udah punya cewek?" sura parau Alya mendominasi, sedari tadi Alya menahan lelehan air matanya, ia senang dengan perlakuan Argi, namun mengingat Argi jalan di mall dengan Nabila hatinya memanas, ia cemburu apalagi melihat Nabila hadir di acara kejutan ulang tahunnya.
"kata siapa sih Al?" Argi menatap Alya yang sedari tadi menunduk, "sini!" tangan Argi memegang lembut pipi Alya," tatap gue!" Alya memejamkan matanya ia tidak mau melihat Argi, lelehan air matanya tidak kuasa di bendung. Argi merapatkan tubuh Alya merengkuhnya ke dalam dekapan, "gue itu cuman sayang sama lo Al,"
"lalu hiks nabil siapa lo hiks?" Argi membelalakkan matanya lalu tertawa," hahahaaa.. jadi ceritanya lo cemburu sama Nabila?" ledek Argi, Alya mendorong tubuh Argi, memang ke usilannya tidak dapat di singkirkan.
Alya menyeka matanya," apaan sih, siapa juga yang cemburu," Argi masih terkekeh geli, "kalau lo enggak cemburu ngapain nangis hemm?" Alya memalingkan wajahnya, gengsi nya sungguh tinggi.
"sini dong lihatnya! Al lo sayang gue lebih dari sahabatkan?" Alya masih memalingkan wajahnya, Argi membalikan tubuh Alya, "diem ish!" ketus Alya.
"lihat gue!" tegas Argi, Alya terpaksa menatap Argi dengan mata sembabnya," Alya Earawati lo mau kan menjalin hubungan lebih dari sahabat bersama gue?!" Alya belum membalas, Argi sudah terlebih dahulu mendekapnya, "enggak ada penolakan! sekarang lo kekasihnya Argiano Saputra!" bisik Argi.
Alya diam namun hatinya meronta-ronta, ia sungguh bahagia! ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. walau masih ada rasa takut di hatinya, Alya takut jika hubungan mereka tidak berjalan lancar, namun kini ia hanya ingin menjalani hubungannya dengan Argi yang kini statusnya telah menjadi kekasih hatinya.