Cinta sejati tidak akan mati. Meski dibakar oleh api, ataupun terpisahkan karena belati.
■<>■<>■<>■<>■
Pertumpahan darah sedang terjadi di Padang Kematian—kuburan resmi bagi para pejuang yang gagal berjuang. Kala ribuan pasukan tatap muka demi lambang kemenangan, dua insan yang sedang kasmaran malah memanfaatkan kesempatan.
"Kau tahu? Sayap adalah nyawa para kaum iblis. Jika kedua sayapnya dipotong, iblis akan mati beberapa saat kemudian," jelasnya sembari membuat karangan bunga berbentuk mahkota. "Hmm ... sayap kami mungkin sekeras dan setajam belati, tetapi akan hancur jika terbakar oleh api," balasku.
Dia menoleh, mengabaikan mahkota bunga yang masih setengah jadi. "Ivory ... kau tahu pembicaraan ini bisa berpengaruh besar pada hasil perang, kan?" Nadanya begitu serius. Aku tersenyum miring, lalu berkata, "Itu pun jika kau bisa kembali ke medan perang, Godric." Dia sontak terbahak-bahak.
Tentu saja belati (senjata Kaum Nirwana) yang ada di pinggangku akan mendarat di lehernya, jika dia berani macam-macam.
"Dulu kau segalak ini saat pertama kali siuman. Hanya saja, sekarang jauh lebih berbahaya. Aku bisa mati kapanpun ketika duduk santai bersamamu," ucap Godric seraya melanjutkan kesibukannya. Aku menatap langit yang ditutupi dahan dan dedaunan. Kilas balik waktu terputar di dalam kepalaku.
Karena gelar menyedihkan berupa 'Putri Pertama Kerajaan Nirwana', aku tidak diperbolehkan menginjak tanah yang dibanjiri oleh darah. Bahkan belati yang ada di pinggangku ini lebih kecil dari milik petarung pada umumnya. Namun waktu itu aku membangkang, kemudian lari menuju Padang Kematian.
Belum sempat mengamati situasi, sebuah panah berapi mendarat di bahuku. Rasanya sangat sakit, aku langsung ambruk di tanah. Kala itu aku paham, kenapa seorang wanita tidak diizinkan melewati tembok pelindung istana. Pandanganku buram, jantungku berdenyut kencang, kepalaku pusing berkunang-kunang, sedangkan api ini terus membakar kulitku tanpa jeda.
Samar-samar aku melihat bayangan hitam berdiri di sebelahku. Kemudian aku merasa seperti sedang terbang, bedanya kali ini tanpa sayap. Aku pingsan tatkala sadar itulah paragraf terakhir dari cerita hidupku.
Ternyata, aku belum mati. Sayang sekali.
Berhari-hari pria berotot yang tidak kukenal merawatku di dalam hutan. Dia menyelinap datang di kala malam, dan pergi saat fajar menyongsong langit. Dia bahkan membangun sebuah gubuk kecil yang cukup untuk membuat sayapku tetap kering.
Suatu hari, rasa curiga dan waspada berkembang biak di dalam kepalaku. "Kau ini siapa? Kenapa merawatku?" tanyaku saat dia kembali berkunjung. "Aku Godric, Pangeran Termuda dari Kerajaan Iblis," jawabnya terang-terangan. Aku mengernyit heran karena kejujuran sekaligus kebodohannya. Kami ini musuh, kenapa dia tidak bertingkah heroik dan menyembunyikan identitasnya?
Pertempuran antara Kaum Nirwana dan Kaum Iblis sudah berlangsung selama berabad-abad, bahkan diramalkan abadi. Bayi yang belum memiliki sayap saja sudah tahu tentang itu. Apa pangeran termuda dari Kerajaan Iblis memiliki masalah ingatan?
"Jangan terlalu percaya diri. Aku menyelamatkanmu karena aku bersumpah tidak akan membiarkan seorang wanita mati di hadapanku," jelas Godric sembari meletakkan beberapa buah segar di lantai gubuk. "Aku bahkan tidak bertanya," sinisku, lalu mencomot satu apel merah.
Hari demi hari kuhabiskan menanti dan menyambut kedatangannya. Dia sesekali bercerita tanpa kutanya, dan diam saat aku bertanya. Jujur saja, jika saat itu aku membawa belatiku, dia sudah tenang di neraka saat ini.
Namun, ada benih perasaan aneh yang mendadak tertanam di hatiku. Dan semua perlakuannya bagaikan air bercampur pupuk, membantu benih itu untuk terus bertumbuh.
Sejak beberapa minggu yang lalu, aku resmi mendapatkan gelar baru. 'Putri Ivory Nirwana kekasih Pangeran Godric Iblis', kedengarannya tidak terlalu buruk.
"Hahaha! Sekarang aku paham kenapa kau selalu bertarung di sisi belakang!" Aku terbahak-bahak, sukses menghentikan kesibukannya. "Kau itu terlalu baik hati. Tidak ada petarung yang diam-diam membawa musuhnya yang sekarat ke dalam hutan. Apalagi merawatnya sampai sembuh, kemudian dijadikan kekasih," cercaku.
Godric menoleh, menunjukkan mahkota bunga yang indah. "Pakai mahkota ini di mulutmu, dan jangan menyindirku lagi!" protesnya dengan wajah datar.
Dia itu kekasihku, tapi tetap saja musuhku. Daripada menusuknya dengan belati, lebih baik membuatnya semakin jatuh hati, kan? Hahaha!
■<>■<>■<>■<>■
Betapa bodoh dan lengahnya aku. Fakta ini terungkap begitu semuanya sudah terlambat.
Dua hari yang lalu, adikku—Izorie—mengikutiku ke Padang Kematian. Selama ini dia curiga, karena aku sering mengendap-endap keluar dari istana. Aku lupa bahwa mendiang ibu telah melahirkan manusia paling licik seantero Kerajaan Nirwana. Dia mengikutiku sampai ke gubuk rapuh yang selalu kami jadikan tempat pertemuan. Ketika perang berlangsung, Godric akan menyelinap dan datang ke gubuk itu seperti biasa.
Setidaknya begitu, sebelum Si Licik Izorie melaporkan kejadian ini kepada ayah kami—Raja Nirwana. Sudah pasti ayahku marah besar setelah mendengar berita itu. Tanpa sepengetahuanku, esok harinya mereka memburu Godric dengan berbagai cara. Hingga kemudian, Raja Nirwana memutuskan untuk bernegosiasi dengan Raja Iblis.
Raja Nirwana menginginkan Godric hidup-hidup, sebagai imbalan mereka tidak akan menyerang lagi. Raja Iblis kala itu nyaris kehabisan pasukan, mau tak mau harus menyetujui perjanjiannya. Lagi pula, mereka selalu merasa Godric tidak memberi pengaruh banyak di dalam pasukan.
Di sinilah aku sekarang. Menatap adikku—Izorie—bersama kelicikannya yang sudah mendarah daging. Kedua tangan terikat kuat di tiang kiri dan kanan, tetapi mulutku tidak berhenti menjeritkan permohonan.
"Aku mohon lepaskan dia! Godric tidak jahat! Dia sudah menyelamatkanku! Lihatlah bekas luka bakar ini!!" jelasku untuk kesekian kali. Izorie tersenyum miring dalam posisi berlutut hormat di hadapan Raja Nirwana. "Izinkan aku melaksanakan eksekusi, Yang Mulia," ucapnya. Raja Nirwana mengangguk tegas, lalu seorang penjaga mempersembahkan sebuah obor panas kepadanya.
Sesaat kemudian .... "AAAARRGHHH!!!" jeritan kesakitan Godric bergema di seluruh dinding aula istana. Sayapnya terbakar, beberapa penjaga ikut meramaikan suasana dengan mencambuk tubuhnya yang diikat. Hatiku terpanggang tatkala jeritan Godric terus bergaung di telingaku.
"HENTIKAAAANNN!!!" teriakku frustrasi. Hatiku hancur tak bersisa. Bibir bawahku berdarah karena digigit terlalu kuat. Rasa ngilu itu tidak seberapa, dibandingkan kekosongan yang perlahan meremas jiwaku.
Ternyata api saja tidak cukup untuk merenggut nyawa iblis itu. "Oh, iya. Aku baru ingat mereka kebal api." Izorie menjentikkan tangan, kemudian penjaga mempersembahkan sebuah belati perak besar kepadanya. Dia mendekati Godric yang meringis kesakitan akibat luka cambukkan. Sekali lagi, senyuman miringnya berhasil membangkitkan amarahku.
"JANGAAAAANN!!"
SRAAKK!
Tubuhku mematung, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Tali yang tadi membelenggu tanganku lepas begitu saja didetik-detik terakhir pemberontakan. Namun, sekarang tidak ada gunanya lagi. Apa yang harus aku lindungi, telah hancur di depan mataku sendiri.
Sayap itu semakin terbakar tatkala lepas dari tubuh Godric. Darah bercucuran dari punggungnya, mata melotot Godric seolah bercerita tentang bagaimana rasa sakitnya. "AAAARRRGGHHH!!" Telingaku berdengung, emosiku bergejolak ketika lagi-lagi mendengar jeritan putus asa.
Tubuh kekar itu perlahan tersungkur di lantai aula istana. "GODRIIIICC!!!" Aku bergegas menghampirinya, kemudian berlutut di sebelah iblis yang menyelamatkan nyawaku beberapa minggu lalu.
Aku menangis, meraung marah, memukuli lantai yang tidak bersalah, juga menuduh takdir telah keliru menuliskan kisah. Namun tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Hanya ada satu alasan di balik akhir yang tragis ini. Aku langsung bangkit berdiri, membelalak tajam ke arah si licik Izorie.
"Kau akan menyesal!" sinisku seraya mencuri belati dari pinggang penjaga yang tadi mencambuk Godric. Izorie memasang posisi siaga, terkesiap karena tak pernah melihat kakaknya yang lugu menjadi semarah ini. Tepat sebelum kedua belati perak bertabrakan di udara, senjata kami telah dilucuti. Kami serempak menoleh ke arah takhta, tempat dua belati itu mendarat.
"Tenanglah, Ivory. Kau tidak bisa membunuh adikmu hanya karena si lemah itu. Beginilah cara terbaik untukmu belajar bahwa, takdir kaum nirwana adalah membunuh kaum iblis!" sarkas Raja Nirwana sembari memainkan dua belati itu di genggamannya.
Namun, aku tersenyum lirih. Aku mendekati sayap Godric yang hampir habis terbakar, lalu mengambilnya. Dengan kesadaran penuh, kutempelkan sayap kekasihku itu ke sayapku sendiri. Rasa panas luar biasa seolah menghanguskan sel-sel tubuhku. Tetapi aku berdiri tegak, menantang semua orang yang selama ini mempermainkan hidupku.
Dengan suara lantang aku berkata, "Kau tahu, Yang Mulia? Cinta sejati tidak akan mati. Meski dibakar oleh api, ataupun terpisahkan karena belati."
■<>■<>■<>■<>■
Terima kasih sudah membaca!;)
Daaannn ....
Selamat ulang tahun untuk kamu yang berulang tahun hari ini! Wish you all the best! Semoga kamu suka, yaaa~🥰