'Bee... BIARKAN AKU MENEPI SENDIRI'
Kamu datang seperti gelombang. Lalu kamu menghilang di telan malam, aku tidak kemana-mana, Bee. Hanya membaca asma-Nya dibawah sinar gemintang.
Fajar hadir dengan pantulan cahaya membawamu dengan balutan buih putih. Menepi, menghangatkan dirimu sendiri dari gigil kerinduan. Kamu tidak berhenti menuliskan 'aku' dan cinta di antara semilir angin asin dengan tinta jiwamu. Dan aku duduk memandangmu dari kejauhan dengan perasaan sendu.
Aku membaca setiap kalimat rindu yang kamu ukir di dadamu. Membaca setiap langkahmu dalam kegelapan. Membaca gundah gulanamu. Kalimat yang diukir dari denyut nadi yang lembut dan sunyi. Di sana bayanganmu menghilang dan menyisakan kilau yang tersimpan.
Suaramu berhenti sejenak, menjadi... gema yang lambat dan sakral. Rindu yang kau ucapkan tidak menyakiti —ia menyisakan warisan.
Mereka yang lebih lama mengenal cinta mengatakan...
Bahwa cinta dari belahan jiwa tidak datang dan pergi seperti yang dipikirkan sebagian orang. Tapi cinta dari belahan jiwa, tumbuh seperti kaktus. Terkadang perih tersengat duri kesulitan, duri cemburu dan curiga. Di situlah cara belahan jiwamu beradaptasi untuk bertahan, tumbuh dan berkembang.
Aku berterima kasih atas kehadiranmu yang tidak memaksa. Yang menjadikan kesunyian ini begitu bermakna. Aku ingin sembuh, bertumbuh, dan saling berdampingan dalam suka maupun duka, bersamamu.
Bee... Wahashtini yaa rouhi 🩷
Surat cinta kututup, kulipat menjadi bentuk hati. Lalu aku gantung di antara gemintang yang bersinar di cakrawala malam. Di duniaku waktu terasa melambat. Malam seolah menjadi tempat penghakiman hingga pagi menjelang.
Biarkan sore melepaskan napasnya, dengan cahaya lembut dan hangat dari lampu-lampu hias. Aroma vanila dari minuman dan pesona aroma bunga saat puisi manis terbaca. Aroma lembut melayang dari kain tapis berwarna.
Mengecup keheningan di atas selimut raguku, aku merenung dalam misteri hembusan napas yang halus yang membisikkan namamu.
Di antara halaman-halaman yang menguning, aku menulis untukmu dengan jiwaku. Di ujung pena bulu, di latar belakang melodi lembut. Kau membuatku ingin mendekat, melewati batasan yang sudah aku bangun sendiri.
Pada jam ini, di saat senja turun menyentuh wajahku. Kelopak mataku terpejam, merasakan kehadiranmu Bee...
Banyak surat kutulis dengan pena bulu. Namun, tintaku mengering dan pensilku patah karena angin tidak lagi membawa berita tentangmu. Aku menyadari, ini sebuah ilusi berbalut puisi. Atau puisi yang tumbuh di dada yang retak.
Entah harus dengan cara apa aku membuka jalan percakapan ini. Sementara kamu tidak pernah membaca pesan yang aku sematkan.
Menyebut rindu saja aku seperti seorang muazin yang mengumandangkan azan.
Aku mengundangmu untuk melihat kita seperti pada kali pertama, untuk merasakan dengan kegembiraan, untuk mempercayai tanpa syarat lalu mengucapkan terima kasih pada satu kalimat...
Rindu adalah jarak yang diciptakan oleh pikiran.
Aku mengundangmu untuk berjalan tanpa curiga, untuk melompat melewati genangan air, untuk menggantikan keraguan dengan semangat.
Aku ingin mengisi hal-hal kecil dengan senyuman, menemani aktifitas seharian, aku ingin menikmati secangkir demi secangkir kopi bersama puisi yang masih harus kita nikmati bersama.
Jika koneksi hati itu nyata, kebenaran takkan pernah menjadi ancaman. Aku mengutarakan hati bukan untuk menguji dirimu, melainkan untuk menghormati dan menghargai diri kita sebenarnya.
Cinta yang kuat tidak akan lari dari kata-kata yang gemetar karena perasaan. Ia mendengarkan. Ia tinggal. Ia tumbuh.
Aku tidak takut untuk dikenali, dilihat. karena apa yang memang untukku, tidak akan pergi ketika aku jujur. Ia akan menjaga suaraku dengan lembut, dan ia membalasnya dengan cara yang sama. Menjaga Marwahku sebagai seorang wanita, ia berani memulai dengan tindakan bukan hanya tulisan.
Hubungan yang sungguhan tidak akan patah, ketika perasaan diutarakan. Ia akan menjadi lebih jelas, lebih dalam, dan lebih hidup.
"Terkadang, untuk membuka mata hati, kita hanya perlu menutup mata. Jangan paksa jika seseorang tidak ingin berusaha melangkah untukmu."
S E K I A N