Malam 31 Desember, langit Yogyakarta tertutup awan tebal yang menindas, seolah menahan napas bersama Aria. Udara dingin menusuk kulitnya melalui celah celah baju sekolah yang sudah kusut, dan dia menunduk di atas balkon lantai tiga rumah ayahnya. Sebuah tempat yang selama setahun terakhir menjadi tempat perlindungan sementara dari suara pertengkaran yang tak pernah berhenti dari dalam.
Jari jemari yang kurus menyentuh liontin berbentuk bintang yang tergantung di lehernya, permukaannya yang halus terasa dingin meskipun tubuhnya kedinginan. Itu adalah hadiah terakhir ibu kandungnya sebelum meninggal tiga tahun yang lalu, dengan ucapan yang masih terngiang di telinganya: “Ini akan melindungi kamu, anakku.”
Suara dari ruang tamu menerobos dinding dengan kekuatan yang membuat dinding bergetar.
Ayahnya, suara nya serak karena meminum minuman keras, memaki ibu tirinya. “Uang gajiku hilang lagi! Kalau bukan karena kamu yang boros!”
Ibu tirinya membalas dengan suara yang tak kalah kerasnya. “Jangan menyalahkanku! Aku melihat Aria mengambil uang kemarin! Anak piatu yang tidak berharga itu selalu membuat masalah!”
Aria menutup telinga dengan kedua tangan, tapi kata-kata itu tetap meresap ke dalam hati, menusuk seperti jarum. Dia tahu dia tidak mengambil uang itu. Tetapi, ibu tirinya mencoba mencari kambing hitam untuk menyelamatkan diri dari kemarahan ayahnya.
Di sekolah, penderitaan tidak berhenti. Kelompok anak-anak kaya yang dipimpin oleh Dina selalu menunggu dia di koridor. Mereka menyebarkan rumor bahwa Aria adalah anak yang tidak diinginkan, membuang buku-bukunya ke kamar mandi yang kotor, dan menyebut dia dengan nama yang menyakitkan.
“Anak piatu haram.”
Kemarin, mereka bahkan menuangkan air panas ke tangan Aria saat dia sedang makan siang sendirian di sudut kelas. Luka masih terasa sakit, tapi dia tidak berani memberitahu ayahnya karena dia tahu dia hanya akan mendapatkan tuduhan lagi.
Jam di dinding kamar ayahnya menunjukkan pukul 23.59. Suara kembang api mulai terdengar dari kejauhan, suara kegembiraan yang tidak sesuai dengan perasaan di hati Aria. Dia melangkah perlahan ke tepi balkon, jendela kota yang terlihat dari sana terlihat seperti hamparan bintang yang jauh dan tidak dapat diraih.
Dia menutup mata, menghembus napas dalam-dalam.
“Biarkan aku mati,” bisiknya, tepat saat kembang api pertama meledak di langit, menerangi wajahnya dengan cahaya merah dan kuning yang sementara.
Saat dia akan melompat, liontin di lehernya tiba-tiba memancarkan cahaya terang yang menyengat, seolah matahari yang tiba-tiba muncul di malam hari. Tubuhnya terasa seperti tertusuk ribuan jarum, rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit kesakitan.
Tapi dia tidak jatuh, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan dia, menariknya kembali ke lantai balkon. Kekuatan itu membuat kepalanya berputar, dan akhirnya dia pingsan, terbaring dengan tubuh yang berkontraksi karena rasa sakit, sementara kembang api terus meledak di atasnya.
Keesokan harinya, Aria terbangun dengan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuh. Dia membuka mata dan melihat dirinya terbaring di lantai balkon, baju nya kotor dan berkeringat. Dia mencoba bergerak, dan setiap gerakan membuatnya merasakan sakit yang menusuk.
Untuk memastikan bahwa dia benar-benar mati, dia mengambil pensil dari kantong baju dan menusuk nadi di lengannya. Darah merah keluar dengan cepat, rasa sakit menyengat membuatnya menangis, tapi dalam hitungan detik, luka itu mulai menutup dengan sendirinya, tanpa meninggalkan bekas.
Dia berdiri dan berjalan masuk ke rumah. Dia berdiri di cermin di kamar mandi. Wajahnya pucat, mata merah karena menangis, tapi liontin di lehernya masih memancarkan cahaya samar. Dia memegangnya dengan tangan yang gemetar.
“Apa yang telah terjadi semalam?” bisiknya, melihat refleksi dirinya di cermin.
Kekuatan yang menyelamatkannya juga telah mengurungnya. Dia tidak bisa mati, tapi masih bisa merasakan sakit. Malam tahun baru yang seharusnya menjadi akhir, justru menjadi awal dari kehidupan yang tidak dia harapkan.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Beberapa hari setelah malam tahun baru, Aria masuk sekolah dengan kepala menunduk, jari jemari selalu menyentuh liontin di lehernya. Seolah itu adalah tali yang menghubungkannya dengan dunia yang baru saja menolak permintaannya untuk mati.
Kulitnya masih terasa sakit dari pukulan yang diterima dua minggu lalu di koridor, tapi luka sudah sembuh dengan sendirinya. Dia berusaha berjalan cepat melewati kelompok anak-anak kaya yang dipimpin oleh Dina, tapi mereka sudah melihatnya.
“Lihat, anak piatu haram datang lagi!” teriak Dina dengan suara yang menertawakan.
Teman-temannya menertawakan dan melempar kertas bekas ke arah Aria. Dia hanya menekuk pundak dan melanjutkan langkahnya ke kelas, hati berdebar kencang.
Pada istirahat kedua, Aria pergi ke taman sekolah untuk menghindari keributan. Dia duduk di bangku pohon beringin yang rindang, sedang menggambar di buku catatan ketika suara teriakan terdengar tak jauh darinya.
Dia mengangkat kepala dan melihat Lia—anak kaya raya yang selalu terlihat ceria, mengenakan baju sekolah yang rapi dan tas merek. Dia sedang diincar oleh kelompok Dina.
Mereka menarik rambut Lia dengan kekuatan, membuatnya menangis kesakitan.
“Kamu berani menolak ajakan pacaranku?” tanya Riko—anggota kelompok Dina, dengan nada marah. Dia membuang tas Lia ke tanah, buku-buku dan peralatan tulis tercampur aduk.
Dina menendang tas itu dengan kakinya. “Anak kaya yang sok sombong!” katanya.
Aria yang melihatnya merasa sangat ingin membantunya. Namun, ia juga menyadari kalau dia adalah bagian orang-orang yang juga di rundung.
"Aaa!" Lia berteriak keras saat Riko kembali menarik rambutnya.
Aria terdiam, lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah kelompok Dina. "Cukup diriku yang merasakan sakitnya, jangan orang lain juga." gumamnya dalam hati.
“J-jangan sakiti dia!” teriaknya dengan suara yang lebih keras dari yang dia harapkan.
Semua mata berbalik ke arah Aria. Dina menertawakan. “Oh, anak piatu haram mau jadi pahlawan?” katanya.
Dia memberikan isyarat ke teman-temannya, dan mereka mulai mendekati Aria. Riko memukul pipinya dengan tangan yang besar, membuat Aria terhuyung ke belakang. Rasa sakit menyengat, membuat matanya berair, tapi dia tidak jatuh. Dia berdiri lagi, menghadapi mereka.
“Kamu tidak akan menyerah, ya?” tanya Dina dengan suara sinis. Dia memukul perut Aria dengan kuat, membuatnya kesulitan bernapas. Teman-temannya mulai memukul dan menendang Aria dari segala arah. Pukulan ke punggung, tendangan ke kaki, pukulan ke bahu.
Setiap serangan membawa rasa sakit yang luar biasa, membuat Aria menjerit kesakitan dalam batinnya, sampai tubuhnya meringkuk pun mereka tetap tak berhenti.
Tubuhnya menahan setiap pukulan seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendukungnya. Rasa nyeri yang berdenyut tetap menjalar. Tetapi, tubuhnya menolak untuk pingsan.
"Kenapa aku harus melakukan ini?!" gumamnya. "Kenapa tidak biarkan aku mati saja?!"
Lia ingin sekali menolong tetapi anggota kelompok Dina yang lain menahan dirinya. Mata Lia berkaca-kaca, antara terharu dan tak kuasa melihat Aria yang sedang dipukuli.
Saat itu Pak Budi sedang berjalan melewati taman sekolah. Salah satu anggota kelompok Dina yang menyadarinya memberitahu Dina dan teman-temannya yang lain. Mereka berhenti memukuli Aria dan segera pergi berlari meninggalkan Aria yang sudah terbaring di tanah.
Lia mendekati Aria dengan mata berkaca-kaca. Dia melihat luka-luka yang mulai muncul di tubuh Aria tapi segera menutup dengan sendirinya.
“Terima kasih,” katanya dengan suara serak. “Kamu terluka parah, tapi kenapa tidak berhenti dan pergi saja? Kenapa luka-lukamu sembuh dengan cepat?”
Aria hanya menggeleng, tidak berani memberitahu rahasia liontin. Dia merasa takut bahwa Lia akan melihat dirinya sebagai makhluk aneh. Tapi Lia tidak memaksa dia untuk berbicara. Dia membantu Aria membersihkan luka-luka yang masih terlihat dan mengajaknya makan siang di kantin sekolah.
Mulai dari hari itu, Lia selalu bersama Aria. Pada hari berikutnya, Lia datang dengan dua bungkus makanan siang. “Aku membawakannya untukmu,” ucapnya dengan senyum.
Mereka makan di bangku pohon beringin, berbicara tentang buku yang mereka baca. Lia bercerita tentang novel fiksi ilmiah yang dia sukai, dan Aria bercerita tentang lukisan yang dia buat. Lambat laun, senyum mulai muncul di wajah Aria. Suatu hal yang jarang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Beberapa hari kemudian, Lia mengajak Aria ke perpustakaan sekolah. Mereka duduk di sudut yang sunyi, dan Lia menunjukkan buku tentang seni rupa.
“Kamu menggambar dengan baik, Aria,” ucapnya. “Kamu harus bergabung dengan klub seni.”
Aria ragu. Dia tidak pernah berani bergabung dengan klub apa pun karena takut diperlakukan dengan buruk. Tapi Lia memegang tangannya dengan lembut. “Aku akan bersamamu.”
Pada hari berikutnya, Lia membawa Aria ke ruang klub seni. Anggota klub menyambut mereka dengan senyum hangat. Mereka melihat lukisan Aria dan memuji keahliannya. Aria merasa senang. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa dia memiliki tempat di dunia.
Saat pulang sekolah, Lia menunggu Aria di gerbang sekolah. “Ayo kita pulang bersama, Aria,” ucapnya dengan suara lembut.
Aria tersenyum, merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sejak ibu kandungnya meninggal. Liontin di lehernya memancarkan cahaya samar, seolah menyetujui pertemuan ini.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Beberapa minggu setelah pertemuan di taman sekolah, Lia mulai memperhatikan sesuatu yang aneh pada Aria. Setiap kali mereka berjalan melewati koridor, Aria akan menunduk dan berjalan cepat, seolah takut ditemui oleh seseorang.
Kadang-kadang, Lia melihat luka-luka kecil di tangan atau lengan Aria. Luka yang seolah muncul dari tidak tahu mana, dan hilang dalam hitungan hari.
Suatu hari, saat mereka makan siang di bangku pohon beringin, Lia melihat Aria memegang liontin di lehernya dengan tangan yang gemetar.
“Kamu ingin bercerita tentang itu?” tanya Lia dengan suara lembut, menunjuk ke liontin. Aria menggeleng cepat, mata terlihat takut.
“Tidak apa-apa,” ucap Aria dengan suara pelan. “Hanya hadiah dari ibu.” Lia tidak memaksa dia, tapi dia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari cerita yang Aria katakan.
Hari-hari berlalu, Lia mulai memperhatikan perilaku kelompok Dina dan teman-temannya. Mereka selalu melihat Aria dengan mata sinis, dan terkadang menyebarkan suara bisu ketika Aria lewat.
Suatu hari, Aria lupa membawa buku matematika ke kelas. Dia pergi ke loker untuk mengambilnya, dan ketika sampai di depan loker, dia melihat kelompok Dina dan teman-temannya menunggu dirinya.
“Anak piatu haram,” ujar Dina dengan suara nada mengejek. “Kamu berani melindungi Lia hari itu? Kamu lupa siapa kamu?”
Riko mengambil buku dari tangan Aria dan membuangnya ke lantai, lalu menginjaknya dengan kakinya. “Ini hukuman untukmu!”
Mereka mulai memukul Aria, menendang perut, memukul bahu dan kepalanya. Rasa sakit menyengat membuat Aria menjerit kesakitan, tapi dia tidak bisa berteriak keras karena takut menarik perhatian guru yang tidak akan mempercayainya.
Mereka terus menyerangnya sampai suara lonceng istirahat berbunyi, lalu lari meninggalkan tempat itu. Aria terbaring di lantai, luka-luka lebamnya mulai menutup dengan sendirinya. Namun, tubuhnya masih bisa merasakan sakit.
Ketika Lia datang ke loker mencari Aria, dia melihat Aria terbaring di lantai dengan baju robek.
“Aria!” teriak Lia dengan suara khawatir. Dia membantu Aria berdiri. Lia tidak melihat luka-luka di tubuh Aria tetapi melihat Aria yang terbaring di lantai sudah menjelaskan semuanya.
“Mereka lagi?” tanya Lia, nada bicaranya sedikit meninggi. Aria hanya mengangguk, meringis karena rasa sakit, masih mencoba menahan tangisnya.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Pada malam hari, Lia datang ke rumah Aria dengan tas penuh dengan dokumen. Dia telah mengumpulkan bukti tentang perundungan yang dialami Aria selama ini. Sebuah pesan ancaman di ponsel Aria yang dia simpan, kesaksian teman-teman yang melihat perundungan, dan foto-foto luka-luka yang Aria ambil sebelum sembuh.
“Kita harus melaporkan ini ke kepala sekolah,” ucap Lia dengan suara tegas. “Kamu tidak boleh terus menerima perlakuan ini.”
Aria awalnya ragu. Dia takut bahwa kepala sekolah tidak akan mempercayainya, dan bahwa kelompok Dina akan membalasnya dengan lebih kejam. Tapi Lia memegang tangannya dengan lembut. “Aku akan bersamamu. Kamu gak sendirian lagi.”
Pada hari berikutnya, Lia dan Aria pergi ke kantor kepala sekolah. Kepala sekolah, Bu Sri, adalah wanita yang ketat tapi adil. Dia mendengar cerita Aria dengan perhatian penuh, dan melihat bukti yang Lia kumpulkan.
“Aku akan melakukan penyelidikan segera,” ucapnya. “Kamu tidak perlu takut lagi, Aria.”
Bu Sri memanggil kelompok Dina dan teman-temannya ke kantor. Dia menanyakan tentang perundungan yang dialami Aria, dan mereka awalnya menolak semua tuduhan. Tapi ketika Bu Sri menunjukkan pesan ancaman dan kesaksian teman-teman, mereka akhirnya mengakui kejahatan mereka.
“Kami hanya bercanda, bu,” ujar Dina dengan suara pelan. “Kami tidak sengaja.”
Bu Sri tetap memberi mereka sanksi berat apapun alasannya. Mereka dikeluarkan dari sekolah selama tiga bulan dan harus mengikuti program pembinaan tentang anti-perundungan. Selain itu, mereka harus meminta maaf kepada Aria di depan seluruh siswa di upacara pagi.
Pada hari berikutnya, saat upacara pagi, kelompok Dina dan teman-temannya berdiri di depan panggung. Mereka menunduk dan meminta maaf kepada Aria dengan suara pelan.
“Kami minta maaf atas perlakuan kami terhadapmu, Aria,” ujar Dina. “Kami tidak akan pernah melakukan hal yang sama lagi.”
Aria berdiri di antara kerumunan siswa, merasa hatinya berdebar kencang. Dia melihat Lia yang berdiri di sampingnya dengan senyum hangat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, dia merasa bebas.
Tidak perlu lagi takut berjalan di koridor sekolah, tidak perlu lagi bersembunyi di kamar mandi saat istirahat, tidak perlu lagi takut melihat kelompok Dina dan teman-temannya.
Setelah upacara pagi, Lia mengajak Aria ke klub seni. Anggota klub menyambut mereka dengan senyum hangat, dan mereka mengajak Aria untuk bergabung dalam pameran seni sekolah yang akan diadakan bulan depan.
“Kamu harus menampilkan lukisanmu, Aria,” ucap Lia.
Aria merasa senang dan percaya diri untuk pertama kalinya. Dia mulai melukis dengan lebih semangat, menggambar tentang alam, tentang teman-temannya, dan tentang harapan untuk masa depan.
Liontin di lehernya memancarkan cahaya samar, seolah senang melihat perubahan yang terjadi pada Aria.
Beberapa hari kemudian, saat mereka berjalan pulang sekolah, Lia melihat Aria tersenyum lebar.
“Kamu terlihat berbeda hari ini, Aria,” ucap Lia dengan bibir yang ikut t. “Kamu terlihat lebih ceria dan percaya diri.” Aria tersenyum hangat.
“Semua karena kamu,” ucapnya. “Tanpa kamu, aku tidak akan berani melaporkan perundungan itu. Tanpa kamu, aku mungkin... Masih jadi korban perundungan sekarang.”
Lia memegang tangannya dengan lembut. “Kamu tidak akan pernah sendirian lagi, Aria. Aku akan membantu kamu kapanpun kamu membutuhkan, ” ucapnya.
Aria merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sejak ibu kandungnya meninggal. Dia tahu bahwa hidupnya telah berubah, dan bahwa dia memiliki masa depan yang cerah di depan mata.
Saat matahari terbenam di kejauhan, menyinari langit dengan warna oranye dan merah, Aria memegang liontin di lehernya dan berterima kasih kepada ibu kandungnya yang selalu melindungi dia.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Beberapa minggu setelah perundungan berakhir, kebahagiaan Aria di sekolah tidak mampu menutupi kegelapan yang masih menghantui dirinya di rumah ayahnya.
Setiap malam, suara pertengkaran antara ayahnya dan ibu tirinya semakin parah, seperti guntur yang tidak pernah berhenti mengguncang dinding rumah. Malam itu, Aria baru saja masuk kamar setelah menyelesaikan tugas sekolah ketika suara kemarahan menerobos dari ruang tamu.
“Apa lagi yang kamu boroskan hari ini?” suara ayahnya serak karena minuman keras, menggelegar melalui dinding. “Uang untuk makanku habis karena kamu membeli tas baru!”
Ibu tirinya membalas dengan penuh kemarahan, “Jangan menyalahkanku! Anakmu itu selalu mengambil uang dari dompetmu! Dia adalah penyebab semua masalah di rumah ini!”
Aria menutup telinga dengan kedua tangan, tubuhnya kedinginan bukan karena dingin, tapi karena ketakutan. Dia tahu dia tidak mengambil uang. Ibu tirinya hanya mencari alasan untuk menyalahkannya lagi.
Dia berusaha menekuni lukisan di meja, kuasnya meluncur di atas kanvas yang menggambarkan langit malam dengan bintang-bintang terang. Tapi suara pertengkaran semakin keras, sampai akhirnya pintu kamar Aria terbuka dengan keras.
Ayahnya berdiri di depannya, wajahnya memerah karena kemarahan, mata merah dan penuh dendam.
“Kamu mengambil uangku lagi, bukan?” tanyanya dengan suara berat dan menakutkan. Aria menggeleng dengan cepat, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tidak, Ayah. Aku tidak—” sebelum dia selesai berbicara, telak tangan ayahnya menyambar pipinya dengan kekuatan yang membuatnya terhuyung ke belakang, menabrak dinding. Rasa sakit menyengat membuatnya menjerit kesakitan, dan lukisan yang dia buat terjatuh dari meja, kanvasnya robek di sudut.
“Ingat tempatmu, anak piatu!” ujar ayahnya dengan suara kejam sebelum keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras.
Sebelum pintu tertutup, Aria melihat ibu tirinya hanya berdiri di depan pintu, menatap Aria dengan senyum sinis sebelum pergi meninggalkan dia sendirian. Aria terbaring di lantai, tangan memegang pipi yang memar, rasa sakit menyebar ke seluruh tubuh.
Liontin di lehernya memancarkan cahaya samar, seolah mencoba menenangkannya. Dalam hitungan menit, luka di pipinya mulai menghilang dengan sendirinya, tapi rasa sakit di hatinya tidak pernah hilang.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Pada hari berikutnya, Aria datang ke sekolah dengan wajah yang masih pucat. Lia melihatnya dan segera mendekati dia dengan mata berkaca-kaca.
“Apa yang terjadi?” tanya Lia dengan suara khawatir. Aria hanya menggeleng, tidak berani memberitahu tentang kekerasan yang dia alami di rumah. Tapi Lia tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Dia memegang tangan Aria. “Kamu tidak boleh terus tinggal di situ, Aria,” ucapnya dengan suara lembut.
Malam itu, Aria tidak bisa tidur. Suara pertengkaran kembali terdengar, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Dia memutuskan untuk berlari. Dia mengambil tas kecil yang diisi dengan beberapa baju, buku catatan, dan lukisan yang dia buat, serta liontin yang selalu tergantung di lehernya.
Dia membuka jendela kamar dan melompat ke tanah yang lembab, lalu berlari secepat mungkin meninggalkan rumah ayahnya, tidak pernah memalingkan kepala.
Hujan mulai turun, membasahi tubuhnya dan membuat jalanan licin. Aria berlari melalui jalan-jalan yang sunyi, tangisannya terbungkam suara hujan, sampai akhirnya dia sampai di depan rumah bibinya—adik ibu kandungnya yang tinggal di pinggiran kota.
Rumah itu kecil tapi nyaman, dengan taman bunga yang indah di depan pintu. Aria mengetuk pintu dengan tangan yang gemetar, suara ketukan tercampur dengan suara hujan.
Beberapa saat kemudian, bibi membuka pintu. Dia adalah wanita dengan wajah hangat dan rambut putih yang sedikit, mata yang selalu penuh cinta.
Ketika dia melihat Aria dengan baju basah, wajah yang pucat, dan tas kecil di tangan, matanya sembab.
“Aria....” katanya dengan nada khawatir, menarik Aria ke dalam rumah dan menutup pintu dari hujan. Dia membawa Aria ke ruang tamu dan membuatkan teh hangat untuknya.
“Ceritakan padaku. Apa yang terjadi, nak? ” ucapnya dengan suara menenangkan.
Aria mulai bercerita tentang semua yang dia alami.Pertengkaran antara ayahnya dan ibu tirinya, kekerasan yang dia terima, perundungan di sekolah sebelum Lia datang. Dia menangis sambil bercerita, dan bibi hanya menahan dia dalam pelukan, tangan menyisir rambutnya dengan lembut.
“Kamu tidak akan tinggal di situ lagi,” ujar bibi dengan suara tegas dan penuh cinta. “Kamu tinggal di sini denganku. Di sini, kau akan aman.”
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Pada hari berikutnya, bibi mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk mengambil hak asuh Aria. Dia berbicara dengan ayahnya dan ibu tirinya, menegaskan bahwa Aria akan tinggal dengan dia dan bahwa mereka tidak akan pernah lagi menyakiti dirinya.
Ayahnya hanya mengiyakan tanpa perasaan, sedangkan ibu tirinya antara senang dan kesal dengan kepergian Aria. Bibi membawa Aria ke rumahnya yang kecil tapi penuh cinta, dengan kamar yang dihiasi dengan bunga-bunga kertas dan meja untuk melukis.
“Ini kamar kamu,” ucapnya dengan senyum tulus. “Kamu bisa melukis sesuka mu di sini.”
Aria terharu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Di rumah bibi, tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tuduhan, tidak ada lagi kekerasan. Hanya kehangatan, cinta, dan keamanan.
Bibi selalu menyiapkan makanan kesukaannya dan mendengar cerita tentang sekolah dan teman-temannya. Dia juga mendukung hobinya dalam seni, membeli kanvas dan kuas baru untuknya.
Beberapa hari kemudian, Lia datang mengunjungi Aria di rumah bibinya. Dia melihat kamar Aria yang penuh dengan lukisan dan bunga-bunga, dan tersenyum lebar. “Ini tempat yang bagus untukmu, Aria,” ucapnya.
Mereka duduk di taman belakang rumah, makan kue yang dibuat oleh bibi, dan berbicara tentang masa depan. Lia mengajak Aria untuk bergabung dalam pameran seni sekolah yang akan diadakan bulan depan, dan Aria dengan senang hati menyetujuinya.
Saat matahari terbenam, Aria memegang liontin di lehernya. Dia merasakan kehadiran ibu kandungnya, seolah ibu itu sedang menatapnya dengan senyum. Liontin memancarkan cahaya samar, seolah menyetujui keputusan dia untuk berlari dan mencari tempat yang aman.
Dia tidak lagi merasa sendirian, dan kini dia merasa memiliki harapan untuk masa depan.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Empat bulan telah berlalu sejak Aria pindah tinggal ke rumah bibi. Malam itu, bulan purnama terbit tinggi di langit Yogyakarta, menyinari taman belakang rumah yang dipenuhi dengan bunga mawar merah dan melati putih, bunga kesukaan ibu kandungnya.
Aria duduk di bangku kayu yang sudah lapuk, tangan tergantung lembut di sisi badan, jari jemari sesekali menyentuh liontin berbentuk bintang di lehernya. Permukaan liontin yang biasanya dingin kini terasa hangat, seolah menyimpan panas dari semua perjuangan yang dia lewati.
Lia ada di sampingnya, membawa dua gelas susu jahe yang dibuat oleh bibi Aria. “Kamu terlihat tenang hari ini,” ujar Lia, memberikan salah satu gelas kepada Aria.
Aria tersenyum, menengadah ke langit yang dipenuhi bintang-bintang.
“Ya,” katanya dengan suara pelan. “Aku merasa seperti akhirnya mendapatkan kesempatan baru.”
Selama beberapa bulan terakhir, hidup Aria benar-benar berubah. Di sekolah, dia menjadi anggota aktif klub seni, dan lukisannya akan ditampilkan dalam pameran tahunan sekolah minggu depan.
Dia telah mendapatkan teman-teman baru di klub. Anak-anak yang menyukai seni seperti dirinya, yang tidak melihat dia sebagai “anak piatu haram” tapi sebagai seorang seniman berbakat.
Lia selalu ada di sampingnya, baik saat mereka berlatih melukis di ruang klub maupun saat mereka makan siang di bangku pohon beringin yang dulu menjadi tempat persembunyian Aria.
“Kamu sudah berubah banyak, Aria,” ujar Lia, menatap langit bersama Aria.
“Dulu kamu selalu sedih dan tertutup, selalu menunduk saat berjalan di koridor. Tapi sekarang lihatlah, kamu menjadi pribadi yang ceria, percaya diri. Kamu berani berbicara dengan orang lain dan menunjukkan karyamu.”
Aria tersenyum lagi, memegang gelas susu jahe dengan kedua tangan. “Semua karena kamu dan bibi.”
“Tanpa kamu, aku tidak akan berani melaporkan perundungan itu. Tanpa bibi, aku masih akan terjebak di rumah ayahnya dengan suara pertengkaran yang tak berhenti. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bisa hidup seperti ini. Hidup dengan harapan.”
Pada saat itu, liontin di leher Aria tiba-tiba memancarkan cahaya terang sekali, lebih terang dari bulan purnama di langit. Cahaya itu menyebar ke seluruh taman, menerangi bunga-bunga dan pepohonan dengan cahaya keemasan yang lembut.
Aria terkejut, Dia melihat ke arah Lia yang terdiam seolah waktu sedang berhenti. Aria memegang liontin dengan tangan yang gemetar, tubuhnya tiba-tiba terangkat ke atas. Tubuhnya melayang seperti tak ada gravitasi, kilauan cahaya mengelilingi dirinya. Angin yang terasa hangat seolah sedang memeluknya, sama persis dengan pelukan ibunya.
Suara bisikan lembut, seperti angin yang berbisik di dedaunan, terdengar di telinganya. Suara yang dia kenal dengan baik, suara ibu kandungnya.
"Aria... " panggilnya dengan suara khasnya yang lembut dan menenangkan.
“Aku selalu ada untukmu, anakku. Aku memberimu liontin ini untuk melindungimu saat kamu lemah, untuk membuat kamu tidak pergi sebelum waktunya. Sekarang kamu sudah kuat. Anak ibu sangat hebat..."
Air mata Aria tak mampu terbendung. Dia meneteskan air matanya. Merasakan sentuhan lembut yang seolah menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dadanya terasa sesak, bibirnya terus berusaha terbuka mencoba mengatakan segala hal yang selama ini ia ingin katakan.
"Ibu... Aria rindu ibu," Suara Aria serak karena tangisan yang tersedu. "Aria sayang ibu."
Aria memeluk butiran pasir cahaya di hadapannya. Sekumpulan debu cahaya yang saling menyatu membentuk siluet Ibu Aria.
"Ibu juga rindu Aria. Ibu sayang Aria," ucapnya. Suara yang terdengar begitu nyata di sebelah telinganya. Belaian lembut di kepala Aria membuatnya enggan melepaskan pelukan itu.
Namun, perlahan siluet Ibu Aria mulai terurai. Terlepas dari dekapan Aria dan terbang ke atas langit. Tangan Aria terulur, berusaha meraih siluet ibunya yang perlahan memudar.
"Ibu... IBU!!"
"Kamu telah menemukan teman yang baik, keluarga yang mencintaimu, dan tujuan dalam hidup. Tugasku selesai.”
Siluetnya berubah menjadi debu cahaya, menyatu dengan langit malam yang di penuhi kilauan bintang.
Aria menangis tersedu-sedu, tapi air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Dia merasakan bahwa kekuatan liontin itu perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh perasaan kebebasan yang dia tidak rasakan sejak ibu meninggal.
Dia bisa mati sekarang, tapi dia tidak mau lagi. Dia memiliki terlalu banyak hal untuk dijalani—pameran seni, teman-teman, bibi yang mencintainya.
Tubuhnya turun kembali ke permukaan tanah, telapak kakinya bisa merasakan dingin rumput yang ia pijak. Liontin berhenti bersinar dan menjadi biasa saja, permukaannya kembali dingin seperti awal.
Aria memegangnya dan mendekapnya erat di dada. “Terima kasih, Ibu,” bisiknya. “Aku akan hidup dengan baik. Aku akan membuatmu bangga.”
"Aria? Kamu sedang apa berdiri di sana?" terdengar Lia memanggilnya. semua kembali semula
Lia mendekati Aria, memeluknya dengan lembut. “Apa yang terjadi?” tanya Lia.
Aria menjawab sambil menangis tersenyum. “Ibu bilang dia merindukanku dan menyayangiku.” Lia tersenyum, memeluknya lebih erat.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Beberapa hari kemudian, pada hari pameran seni sekolah, Aria menampilkan lukisannya yang berjudul “Liontin Bintang.” Lukisan itu menggambarkan malam tahun baru yang dia coba bunuh diri, dengan cahaya liontin yang menerangi langit gelap.
Banyak siswa dan guru memuji lukisannya, mengatakan bahwa itu penuh dengan makna dan perasaan. Bibi dan Lia ada di sana, berdiri di samping Aria dengan senyum bangga.
Setelah pameran selesai, Aria dan teman-temannya pergi ke taman sekolah untuk merayakan. Mereka makan kue, minum jus, dan bercerita tentang masa depan.
Aria menatap langit yang mulai gelap, memegang liontin di lehernya. Dia tahu bahwa ibu kandungnya selalu melindungi dia, dan sekarang dia sudah siap untuk hidup dengan penuh semangat, untuk menghadapi setiap hari dengan keberanian dan harapan.
Dia tidak lagi memikirkan kata-kata “biarkan aku mati” sekarang, dia hanya memikirkan kata-kata “biarkan aku hidup.”
**✿❀ Tamat ❀✿**
#GC Rumah Menulis
#Kesempatan Baru
Ide cerpen ini terinspirasi dari lagu Flux Vortex- Still Got Time ヾ(^-^)ノ