Aku, Andi, 26 tahun, sudah dua tahun kerja sebagai staf marketing di perusahaan kecil milik Pak Hadi. Bosku orangnya baik hati, gampang diajak ngobrol, tapi anak perempuannya, Nadia, 21 tahun, itu beda cerita. Nadia kuliah semester akhir, sering nongkrong di kantor dengan alasan “bantu ayah”. Badannya aduhai: kulit putih mulus, rambut panjang hitam bergelombang, payudara besar (mungkin 36D) yang selalu terlihat menonjol di balik baju ketat, pinggul lebar, dan pantat bulat yang bikin rok mini-nya seolah-olah mau robek setiap dia jalan. Nadia punya dua sahabat dekat: Vina dan Salsa, sama-sama 21 tahun. Vina lebih langsing, dada besar, suka pakai crop top yang memperlihatkan perut rata, sementara Salsa lebih berisi dengan pantat montok yang selalu jadi perhatian kalau dia pakai legging atau rok pendek.Awalnya biasa saja. Ketiganya sering godain aku kalau lagi sendirian di pantry atau ruang meeting. Nadia suka sengaja berdiri dekat, dada menyenggol lenganku saat “minta tolong” ambil gelas, atau Salsa “kebetulan” jatuhin pena lalu membungkuk di depanku, pantatnya terlihat jelas. Vina lebih agresif, sering bisik-bisik, “Mas Andi, kalau lagi capek, mampir ke apartemen kita ya, kita bisa bantu pijit.” Aku selalu cuek, takut dipecat kalau kepergok bos. Tapi dalam hati, kontolku sering tegang setiap mereka lewat.Malam Jumat itu, kantor sepi karena hampir semua karyawan sudah pulang duluan. Pak Hadi minta aku lembur bantu selesaiin proposal besar untuk klien Jepang. Nadia datang bawa pizza, minuman, dan camilan, bilang “bantu Mas Andi biar cepet pulang”. Vina dan Salsa ikut, katanya lagi nunggu Nadia pulang bareng karena takut pulang sendirian malam-malam. Aku nggak curiga, karena mereka sering begitu.Jam 10 malam, proposal sudah hampir selesai. Aku lagi nyimpen file di ruang arsip belakang—ruangan kecil tanpa jendela, tanpa kamera, pintu bisa dikunci dari dalam. Tiba-tiba pintu ditutup pelan, dan ketiganya masuk: Nadia di depan, Vina di belakang, Salsa nutup pintu sambil kunci dari dalam.“Mas Andi… kerja bagus malam ini,” kata Nadia sambil tersenyum manis, tapi matanya penuh nafsu. Dia pakai crop top putih ketat tanpa bra, putingnya samar tercetak jelas, dan rok mini hitam yang cuma nutupin setengah paha. Vina pakai tanktop longgar yang memperlihatkan sisi payudara, Salsa pakai legging ketat yang membentuk pantatnya bulat sempurna.“Kalau udah selesai, kita main yuk, Mas,” lanjut Vina sambil mendekat dari belakang, tangannya langsung pegang pinggangku dari belakang.Salsa maju ke depan, tangannya pegang dada aku dari atas kemeja. “Kita tahu Mas Andi sering ngelirik kita. Kontol Mas pasti udah keras tiap kali kita lewat. Jangan bohong, Mas.”Aku kaget, coba mundur. “Ini gila… kalian anak bos… aku bisa dipecat!”Nadia tertawa kecil, tangannya langsung meraba selangkanganku dari depan. “Ayahku lagi di luar kota malam ini. Dan kalau Mas lapor, Mas yang dipecat duluan. Lebih baik nikmatin aja. Kita janji rahasia, Mas. Kita bertiga udah lama pengen nyobain kontol Mas.”Vina sudah buka kancing kemejaku dari belakang, tangannya meraba dada telanjangku, jari memilin putingku pelan. Salsa tarik celanaku ke bawah, boxer ikut turun. Kontolku sudah tegang maksimal, loncat keluar, kepalanya basah precum.“Wah, kontol Mas gede juga,” kata Nadia sambil pegang dan kocok pelan. “Tebal, panjang… pasti enak kalau masuk ke memek kita.”Mereka dorong aku ke meja arsip, dudukkan di pinggir. Nadia naik duluan, angkat roknya—tanpa celana dalam. Memeknya sudah basah mengkilap, rapi dicukur, klitoris kecil menonjol merah muda.“Mas… masukin kontol Mas ke memek Nadia dulu,” bisiknya sambil arahkan kontolku ke lubangnya.Dia turun pelan, kontolku masuk habis. Hangat, ketat, licin banget.“Aaaahhh… gede… enak… kontol Mas nabrak ujung memek Nadia… ahh… gerak, Mas…”Aku pegang pinggul Nadia, dorong ke atas dari bawah. Nadia naik-turun cepat, payudaranya bergoyang liar di crop top, puting mengeras menonjol keras.Vina dan Salsa nggak tinggal diam. Vina naik ke meja, duduk di depan wajahku, angkat roknya—memeknya juga tanpa celana dalam, sudah becek. “Isap memek Vina, Mas… sambil digenjot Nadia.”Aku hisap klitoris Vina, lidah muter-muter di bibir memeknya yang manis, jari masukin ke dalamnya. Salsa di samping, remas payudaraku, putingku dipilin, sambil kocok kontolku yang keluar-masuk memek Nadia.“Mbak Nadia… memek Mbak ketat… ahh… enak banget…” desahku, lidah masih di memek Vina.Nadia percepat naik-turun, payudaranya bergoyang liar. “Mas… aku mau keluar… dorong kuat… ahh… aku keluar… aaaahhh!”Memek Nadia berkontraksi kuat memijat kontolku, cairan muncrat ke paha kami. Dia orgasme, tubuh gemetar hebat.Gantian Vina. Dia dorong aku telentang di meja, naik ke atas dalam posisi cowgirl. Kontolku masuk ke memeknya yang lebih sempit dan panas.“Aaaahhh… gede… kontol Mas nabrak rahim Vina… ahh… genjot aku, Mas…”Salsa duduk di wajahku, memeknya dihisap lidahku. Nadia di samping, remas payudaraku dan hisap putingku bergantian.Vina gerak naik-turun cepat, payudaranya bergoyang liar. “Aku… mau keluar… Mas… dorong dalem… aaaahhh!”Vina orgasme, memeknya kedut kuat memijat kontolku. Aku hampir keluar, tapi mereka tahan.Salsa gantian. Dia minta dari belakang. Aku berdiri, dia membungkuk di meja, pantat montok terangkat tinggi. Aku masukin dari belakang, langsung habis dalam satu dorongan.“Aaaahhh… dalem banget… kontol Mas tebal… sodok lagi… keras… aku suka diginiin kasar…”Aku genjot kuat, bunyi plok-plok keras terdengar di ruangan kecil. Nadia dan Vina di samping, remas payudaraku dan hisap putingku bergantian.“Salsa… memekmu enak banget… basah… ketat… ahh… aku mau keluar…”“Keluar di dalem, Mas… isi memek Salsa… semprotkan semua… ahh… aku juga keluar… aaaahhh!”Aku dorong dalam sekali lagi, meledak. Sperma panas menyemprot kuat di dalam memek Salsa, denyutan panjang, hangat memenuhi. Salsa orgasme bareng, memeknya kedut memijat kontolku, cairan muncrat ke paha kami.Kami ambruk di lantai ruang arsip. Tubuh mereka basah keringat, memek mereka masih menetes sperma campur cairan mereka sendiri. Aku terengah-engah, kontol masih setengah keras.Nadia tersenyum manis, jari menyentuh bibirku. “Mas Andi… ini rahasia kita ya? Besok lembur lagi, kita lanjut. Kita bertiga belum puas. Besok kita bawa mainan juga, biar Mas tambah seneng.”Aku cuma bisa mengangguk lemah, napas tersengal. Malam itu aku benar-benar dikerjain anak bos dan dua temannya.Tamat