Aku, Lina, baru berusia 19 tahun. Tubuhku masih kencang, payudara ukuran 36C yang selalu bikin cowok-cowok pada lirik, pinggul lebar, dan kulit putih mulus yang aku rawat sendiri. Tapi sejak ibu menikah lagi dengan Pak Budi empat tahun lalu, hidupku berubah. Ayah kandungku meninggal saat aku masih kecil, dan Pak Budi masuk sebagai ayah tiri. Dia orangnya pendiam, jarang bicara, tapi badannya tinggi besar, otot lengan tebal, dada bidang, dan tatapannya selalu dalam—seperti bisa membaca apa yang ada di pikiranku. Aku sering curi pandang saat dia keluar mandi, handuk melilit pinggang, air menetes di perut six-pack-nya, dan tonjolan di handuk itu… panjang, tebal, selalu bikin aku basah sendiri tanpa disentuh.Ibu sering pergi dinas ke luar kota, dan malam itu adalah malam ketiga beliau pergi selama seminggu. Rumah sepi, cuma aku dan Pak Budi. Aku lagi di kamar, rebahan di ranjang king size yang empuk, pakai tanktop ketat putih tanpa bra—putingku mengeras karena dingin AC—dan celana pendek piyama tipis yang cuma nutupin setengah paha. Aku scrolling HP, tapi pikiranku nggak bisa lepas dari bayangan Pak Budi tadi sore di garasi. Dia lagi angkat beban, kaus ketat menempel di badan berkeringat, celana olahraga hitamnya ketat sekali, kontolnya samar tercetak panjang dan tebal, bergoyang setiap angkat barbel. Aku nggak tahan lagi.Jari tengahku menyusup ke celana pendek, langsung menggosok klitorisku yang sudah bengkak dan licin. Aku gigit bibir bawah, desah pelan sambil mata terpejam.“Ahh… kontol ayah tiri… gede… tebal… masuk ke memek aku… ahh… enak sekali…”Aku masukin satu jari ke memekku, lalu dua, gerak keluar-masuk cepat. Bunyi crot-crot basah terdengar kecil di kamar sepi. Payudaraku naik-turun, puting keras menonjol di tanktop tipis, susu tipis netes sedikit karena imajinasi liar. Aku tambah kecepatan, ibu jari menggosok klitoris berulang, pinggul naik-turun sendiri seperti minta kontol sungguhan.“Pak Budi… sodok aku… dalem lagi… ahh… aku mau keluar… fuck… cepat lagi… aaaahhh!”Cairan memekku muncrat kecil-kecil ke jari, memek berkontraksi kuat, tubuh gemetar hebat. Aku lemas, napas tersengal, mata terpejam menikmati sisa denyutan. Tapi saat aku buka mata pelan-pelan…Pak Budi sudah berdiri di ambang pintu kamar. Pintu yang aku pikir terkunci ternyata cuma dirapatkan. Dia pakai kaus tanpa lengan dan celana pendek olahraga, tonjolan di depannya sudah tegang maksimal, menonjol jelas seperti mau robek kain.“Lina… kamu lagi apa?” suaranya rendah, berat, mata gelap penuh nafsu.Aku buru-buru tarik tangan dari celana, tapi terlambat. Dia masuk, tutup pintu, kunci. Matanya turun ke selangkanganku yang basah, lalu ke payudaraku yang naik-turun cepat.“Pak… aku… cuma…” aku nggak bisa lanjut, wajah panas, memek masih kedut sisa kenikmatan.Dia mendekat, duduk di pinggir ranjang. Tangannya langsung pegang paha dalamku, naik pelan ke selangkangan. Jarinya menyentuh celana pendekku yang sudah becek.“Kamu lagi bayangin apa, Lina? Kontol ayah tirimu?” bisiknya, suara serak penuh nafsu.Aku menggeleng lemah, tapi tubuhku malah membuka paha lebih lebar. “Pak… ini salah… ibu…”“Ibu nggak ada. Dan memek kamu sudah basah banget dari tadi,” katanya sambil tarik celana pendekku ke bawah. Memekku terbuka lebar: bibir merah membengkak, klitoris bengkak mengkilap, cairan bening menetes ke seprai.Dia lepas kausnya sendiri, lalu celana pendek. Kontolnya loncat keluar—panjang sekitar 19 cm, tebal seperti pergelangan tanganku, urat-urat menonjol, kepalanya merah besar basah precum. Lebih besar dari yang aku bayangin selama ini.“Pak… kontolnya gede banget…” gumamku tanpa sadar, mata nggak bisa lepas.Dia pegang kontolnya, gesekkan kepalanya di bibir memekku pelan, naik-turun menggodai. “Kamu tergoda ya? Dari dulu sering ngintip ayah tiri kamu pas mandi? Sekarang mau coba beneran?”Aku mengangguk kecil, nggak bisa bohong lagi. “Iya Pak… aku pengen ngerasain… masukin pelan ya…”Dia dorong pelan. Kepala masuk, aku jerit kecil. “Aaaahhh… gede… pelan Pak… ohhh… masuk lagi… setengah… ya… gitu… dalem lagi… fuck… penuh banget… kontol ayah tiri nabrak ujung memekku…”Saat masuk habis, dia diam sejenak. Memekku mencengkeram erat kontolnya, denyutan dalam terasa jelas. Aku merasakan setiap urat yang bergesek dinding dalam.“Gerak pelan ya, Lina… tarik keluar hampir semua… lalu sodok dalem lagi…” katanya, mulai gerak.Dia tarik keluar pelan sampai cuma kepala yang tinggal, lalu dorong masuk kuat tapi terkontrol sampai buku pinggulnya nabrak pantatku. Bunyi plok… plok… pelan tapi dalam terdengar setiap dorongan.“Enak ya? Kontol ayah tiri kamu ngisi memek anak tirinya… basah banget… ketat… ayah suka…” desahnya, tangan meremas payudaraku, jempol memilin puting hingga susu tipis netes.“Iya Pak… enak… lebih dalam… ahh… dorong lagi… aku suka diginiin… kontol Pak nabrak rahimku… ohhh… payudaraku… remas lebih kuat… susuku netes… ahh…”Dia percepat sedikit, tangan meremas payudaraku lebih kuat, jempol memilin puting hingga susu muncrat kecil-kecil ke perutnya. Aku orgasme pertama datang cepat.“Aaaahhh… Pak… aku keluar… memekku kedut… aaaahhh!”Memekku berkontraksi kuat memijat kontolnya, cairan memek muncrat ke paha kami. Dia tahan, nggak keluar dulu.“Ganti posisi, Lina. Dari belakang… ayah pengen liat pantat kamu pas digenjot.”Aku berbalik, angkat pantat tinggi, lutut di ranjang. Dia masukin lagi dari belakang, langsung habis dalam satu dorongan.“Aaaahhh… dalem banget posisi ini… Pak… sodok lagi… keras… aku suka diginiin kasar…”Dia pegang pinggulku, dorong kuat tapi terkontrol. Bunyi plok-plok keras terdengar, pantatku bergoyang setiap benturan, payudaraku bergantung dan bergoyang liar.“Kamu nakal banget, Lina… memek anak tiri digenjot ayah tiri… basah seperti pelacur… ayah pengen keluar di dalem… isi rahim kamu…”“Keluar di dalem Pak… isi memek aku… semprotkan sperma ayah tiri… ahh… aku lagi mau keluar lagi… dorong dalem terus… aaaahhh!”Aku orgasme kedua, memek muncrat deras, tubuh gemetar hebat. Dia dorong dalam sekali lagi, lalu meledak. Sperma panas menyemprot kuat di dalamku, denyutan panjang, hangat memenuhi rahimku.“Ohhh… banyak banget… Pak… penuh… enak sekali… rasanya hangat di dalam…”Kami ambruk bareng di ranjang. Dia peluk aku dari belakang, kontol masih di dalam, pelan-pelan melunak.“Lina… ini rahasia kita ya? Ibu nggak boleh tahu.”Aku tersenyum lelah, memejamkan mata. “Iya Pak… rahasia kita… tapi besok malam lagi ya? Aku masih tergoda kontol ayah tiri…”Tamat