Aku terbangun, tetapi aku merasa aneh. Lalu aku melihat sekitar.
"Kenapa semuanya terlihat begitu besar?" kata aku dalam keadaan belum sadar.
ketika aku melihat diriku, "AAHH.. APA-APAAN INI?, kenapa aku jadi Semut, aku sangat benci terhadap semut!" aku berteriak dalam keadaan gelisah.
"Baiklah, kuharap ini semua hanyalah mimpi." Aku bilang dengan keadaan pasrah.
Aku melihat jam dinding, dan itu menunjukkan pukul 6.30 pagi. Seharusnya aku langsung bersiap-siap untuk sekolah, tapi... aku tidak bisa dengan keadaan seperti ini, sekarang aku hanya berdiam diri diatas bantalku sebagai semut, aku berniat untuk pergi ke lantai dengan kaki-kaki kecilku. Secara mengejutkan, Ibuku membanting pintu kamarku dan berteriak sangat keras.
"WOYYY... KAI PEMALAS, BANGUNNN, BUKANNYA BERSIAP-SIAP, MALAH MASIH TIDUR, ASTAGA!" Tiba-tiba Ibu langsung menarik dan membanting pintu, Beruntung bantal dan gulingku tertutup dengan selimut, sehingga Ibu tidak menyadari aku telah berubah seperti ini.
Aku pun mulai berjalan menuju Pinggir kasurku, setelah sampai diujung kasur, aku tidak sengaja terjatuh ke lantai. Beruntung karena aku tidak mengalami cedera apapun, mungkin wajar saja karena sekarang aku terjebak di tubuh semut ini. Aku pun berkeliling ke sekitar kamarku berharap aku menemukan sesuatu.
Ini adalah hal yang paling aneh Menurutku. Aku merasa seperti… aku mendapatkan kenyataan pahit ini, semua hal ini seperti dunia nyata, bahkan aku pun bisa menggerakkan perutku dan antenaku. Aku juga tiba-tiba mendengar suara-suara samar dari antenaku, seperti radio kualitas rendah. Lalu aku juga bisa menjepit sesuatu dengan rahangku dan aku pun bisa berjalan ditembok dengan kaki lengket ataupun cakarku ini. Ternyata, tidak kusangka semut memang memiliki struktur tubuh yang sangat unik.
Setelah berkeliling disekitar kamarku, Aku Melihat seperti lubang kecil di pojok bawah kamar yang tertutup oleh lemariku. Aku tidak menyadari selama ini ada lubang, lalu aku melihat jam lagi dan itu menunjukkan Pukul 6.42 pagi. Tapi aku tidak bisa melakukan apa - apa lagi, jadi aku langsung menuju lubang itu yang telah memikat perhatianku.
Ketika aku sudah dekat dengan lubang itu, tiba-tiba aku mencium bau aneh yang sangat jarang kukenali. Bukanlah bau busuk, lebih seperti bau kimia yang suka ada di apotik, Lalu aku masuk ke lubang itu yang sangat dalam dan sempit.
Sekarang aku berada didalam lubang itu, ketika aku keluar dari lubang itu, aku terkesan. Aku melihat didalamnya terdapat lampu-lampu kecil yang menggantung dan persediaan gula batu yang banyak, pantas saja gula batu di dapur selalu menghilang. Aku melihat di pojokan, Terdapat ruangan kotak yang lumayan besar, secara mengejutkan ada semut yang lain keluar dari ruangan itu, dan dia seperti memegang gunting yang cukup besar.
"permisi... Aku ingin bertanya ten...!!" perkataanku terpotong karena aku terkejut melihat dia secara cepat mengarah kan guntingnya diantara kedua sisi bagian pinggangku, "AHH TUNGGU TUNGGU, Aku kesini datang dengan baik tanpa niat jahat apapun!" aku gemetar dan takut.
"Apa maksudmu dengan kata 'baik', sang pendosa?" Dia berkata dengan suara jahat lalu mengambil guntingnya secara perlahan sehingga ketegangan ku makin berkurang.
"Saya mustofa, selamat datang di wilayah kami, Kai sang pendosa." dia berkata dengan lantang.
"kamu tau namaku?, dan kenapa kamu memanggilku Sang Pendosa?" Aku bertanya dengan gelisah.
"Anda bertanya?, serius?, cih... menyedihkan." Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"HEI BODOH, ANDA TELAH MEMBUNUH RATUSAN BAHKAN RIBUAN DARI KELUARGA KAMI, BAHKAN SISA DARI KOLONI KAMI HANYA 3 SAJA DARI SEMUA YANG KAU BUNUH!" dia berteriak sangat keras Padaku.
Aku langsung terdiam selama 20 detik dan menyesali perbuatanku.
"Kenapa kau diam bodoh, jawab pernyataanku!" Dia sangat marah dan kesal.
"Baiklah... aku mengakui, Maafkan aku karena aku telah membenci kalian dan membunuh dengan rasa kesal kepada orang tuaku yang sangat keras dan kasar padaku, jadi aku melampiaskannya dengan membunuh kalian, maafkan aku karena telah menginjak, memukul, dan menyirami kalian, aku janji aku tidak akan membunuh kalian lagi dan aku akan selalu menghormati kalian." Aku bermohon maaf dengan sangat sungguh - sungguh.
"Kau tau, permohonan maafmu, tidak mengembalikan apapun. Tapi... kulihat kau telah sungguh-sungguh dalam penyesalanmu ini." Dia langsung diam sebentar untuk berpikir.
"Baiklah, sebagai gantinya, kau harus menjadi semut pekerja untuk sementara waktu, kami kekurangan 5 gula batu lagi, jadi aku ingin kau mengambilnya sendiri." dia langsung menganggukkan kepalanya.
Aku lansung bahagia dan menerima tawaran itu, "Baiklah, ku terima itu, terima kasih tuanku." Aku langsung menunduk mendandakan aku menghormati dia.
"Maaf tuan, aku mau bertanya, kenapa aku bisa menjadi semut, tuan?!" aku bertanya dengan rasa penasaran.
"Itu merupakan ulah saudaraku, dia membuat cairan yang bisa menguban bentuk mahluk apapun menjadi semut. Entahlah dia pakai bahan apapun itu, tapi dia memang semut yang sangat genius" Dia langsung tertawa dan merasa bangga.
"Baiklah, tidak usah dipikirkan, sekarang kamu bagian dari keluarga kami, kerjakan saja apa yang kuperintahkan sebelumnya, nanti kami akan mengubahmu menjadi manusia lagi pada waktu yang tepat!"Dia langsung memegang bahuku seperti meyakinkanku.
"Baik tuan, terima kasih telah mempercayaiku." Aku hormat dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Aku pun telah keluar dari lubang itu, dan aku melihat jam dinding, sekarang menunjukkan pukul 7.00 pagi. ketika aku akan pergi ke dapur, tiba - tiba saja Ibuku mendobrak pintu sangat keras sekali.
"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA, BANGUNNN!" Ibu berteriak sangat keras dan tangannya memegang sabuk kulit.
Ketika Ibu membuka selimut dari kasurku, Ibu melihat diriku sudah menghilang.
"WAH WAH WAH... SEPERTINYA SI BODOH DIAM - DIAM KELUAR RUMAH, AKU HARUS MEMUKULNYA SEKASAR MUNGKIN SETELAH DIA PULANG, LIHAT SAJA NANTI."
Suasana semakin panas, Ibu menendang barang barangku dan akan keluar dari ruanganku. Tiba - tiba saja Ibu melihat kebawah dan melihat diriku sebagai semut, "BU, INI KAI, TOLONGIN AKU BU!" Aku berteriak, tapi percuma saja, Ibu tidak akan mendengar dan menyadari bahwa semut ini adalah aku.
"AHH SEMUT!!!" Ibu langsung menginjak - injakku tanpa henti. Setelah selesai, Ibu langsung pergi dan meninggalkan diriku tidak berdaya dan sekarat.
"Maafkan aku ibu, ayah, dan semua orang yang kukenal. Selamat tinggal, dunia."
Sedikit perlahan, aku sudah tidak ada detak jantung lagi, dan aku mati dalam keadaan seperti ini.
TAMAT.