Pagi itu. Tiada angin tiada hujan, Ayah membawaku menuju rumah seorang juragan dikota.
"Ini dia putriku Yumna! Bagaimana? Apakah anda berminat tuan?" Aku sungguh kebingungan dengan apa yang terjadi.
Juragan itu tersenyum lalu mengangguk, "hutangmu lunas, silahkan pergi! Setelah menikahkan kami."
Bagai tertimpa batu besar, nafasku serasa sesak. Bagaimana mungkin ayah menjadikanku pelunasan hutang pada juragan yang telah memiliki lima Istri. Dan bahkan aku masih sekolah.
Padahal selama ini aku banting tulang untuk melunasi semua hutangnya.
Kukira ayah sudah taubat dan tidak meminjam uang lagi.
Ayah mengangguk semangat, bahkan bibirnya tersenyum merekah. "Baik tuan, kapan hari baik itu akan dilaksanakan?"
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata, bibirku kelu, tubuhku membeku.
"Sekarang juga, kita pergi ke KUA!" Aku langsung diseret memasuki mobil, diambang kesadaran aku duduk di kursi depan penghulu. Entah berapa lama aku duduk sampai kesadaranku direnggut.
Nafasku tercekat, udara tiba-tiba memaksa masuk tanpa komando, membuat mataku dipaksa terbuka, sejurus kemudian aku terbelalak.
Bagaimana tidak, saat kesadaran menghampiri, benda kenyal menempel pada bibirku, terasa tebal juga hangat. Membuatku terhanyut dan malah meresapinya! Untunglah otaku bekerja kembali, dengan spontan aku mendorong pria itu menjauh.
Jantungku masih berdegup kencang, kuharap dia tidak mendengar.
"Akhirnya sadar juga." Dia berdiri lalu menjauh, aku melihat semua gerak-geriknya.
Mengambil segelas air putih, lalu menyodorkan padaku. "Minum!"
Aku mengambil galas itu, lalu minum dengan patuh, seperti kerbau di cucuk hidungnya.
"Apa yang terjadi, kenapa aku bisa disini denganmu? Bukankah tadi aku-"
"Menikah!"
Aku mengangguk membenarkan.
Seharusnya aku berada dirumah juragan itu, bukan disebuah apartemen mewah bersama Rafansyah seniorku dikampus. Dosa serasa membelenggu relung jiwaku.
"maksudku, kamu menikah denganku, bukan dengan pamanku!"
Hening beberapa saat. Aku masih mencerna apa yang barusan ia katakan.
Aku tidak sadar ia kembali mendekat, lalu mengambil gelas dari tanganku, lalu mencuri ciuman di bibirku. membuatku kembali sadar, namun hasrat seperti membelenggu, mengalahkan semua kesadaran yang kumiliki dan terhanyut dalam pagutan mesra yang dia berikan, tangannya merayap kebalik tengkuk. Meski kaku, aku berusaha mengikuti gerakannya.
Ia kembali menjauh, meninggalkan jejak selipa yang membentang. "manis." katanya sambil mengusap bibirku, lalu terkekeh.
"Sudah makan?" Aku menggeleng dengan jujur, karna sedari pagi memang perutku belum terisi.
Rafa menarik tanganku dengan lembut. Jangan tanya bagaimana hatiku sekarang! Bisa bergandengan tangan dengan seorang Rafansyah, adalah mimpi setiap wanita!
Dia pria yang digilai banyak wanita di kampus, dan kekasihnya sangat cantik.
Tunggu dulu, Rafa memiliki kekasih. Lalu untuk apa dia menikahi ku? Apa dia sedang bercanda, ataukah aku yang sedang bermimpi?
Demi tersadar, aku mencubit lenganku sekuat tenaga. "Ssst."
"Kenapa?" Rafa terlihat panik. lalu mendudukkan ku dimeja pantry. Membuatku terkejut.
"Ada yang sakit?" Rafa memeriksaku dengan seksama. Aku hanya menggeleng. Aku ingin bertanya, namun ragu.
Dari raut wajahnya ia masih tidak percaya, namun Rafa mengusap rambutku, sebelum menuju kebalik kompor.
Aku hanya menyaksikan, semua gerakannya yang cekatan, memotong sayuran beserta daging diatas talenan. Lalu memasaknya dan ia hidangkan.
Siapa yang menyangka, jika Rafa pandai memasak, kekasihnya pasti selalu terpesona seperti aku sekarang.
Kami makan dengan khidmat, menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulutku. Sesekali aku curi-curi pandang.
Hari berganti, tidak ada yang terjadi tadi malam, hanya pelukan erat yang aku dapatkan. Itupun terasa tidak nyata. Tapi hatiku berharap.
Mobil melaju membelah jalan.
"Bisa turunkan aku didepan halte? dekat kampus saja!" aku menunjuk halte didepan sana. Namun Rafa tidak menghentikan laju kendaraannya.
"Rafa kenapa ..."
"Akhirnya Namaku keluar dari bibirmu." Ia terkekeh, sebelum memarkirkan mobilnya. Lalu melepas sabuk pengamanku. Jarak kami terlalu dekat sampai aku harus menahan nafas.
Setelah menjauh, aku bisa bernafas lega. Aku mengambil ransel dari kursi belakang, lalu berpamitan untuk masuk kampus duluan. Namun apa yang terjadi?
Rafansyah, dia menarik dan menyatukan bibir kami, pagutan lembut namun menuntut membuatku terhanyut cukup lama.
Dia menjauh, memberiku ruang untuk bernafas, namun ia kembali menyatukan bibir kami. Hanya lumayan sekilas, namun sangat nikmat.
"kelasku agak siang, jadi kamu masuk duluan!" Aku mengangguk dengan keras, lalu berbalik membuka pintu. Namun lagi-lagi Rafa menahan ku.
Aku berbalik dan mengangkat alis, bertanya 'kenapa?' ia tidak berkata, namun mengambil tisu dan menempelkannya pada bibirku. Malu. Itu yang tengah kurasakan sekarang.
Aku buru-buru berlari memasuki aula kampus, tidak perduli jika ada yang melihatku turun dari mobil Rafa.
Kelas pertama berakhir. Aku dan temanku menuju kantin untuk makan siang.
Namun, mataku menangkap sosok Rafansyah yang tengah berpelukan dengan seorang wanita, siapa lagi jika bukan kekasihnya.
Hatiku sakit. kenapa? Padahal baru kemarin kami bersama. Apakah aku sudah mencintainya? ataukah lebih dari itu, aku sudah memiliki perasaan jauh sebelumnya?
"Yumna, kamu kenapa?" temanku mengguncang lengan, membuatku kembali tersadar.
"Gak papa. Yu lanjut ke kantin." Aku tidak mau egois dan meminta Rafa menjauhi wanita yang dia cintai. Aku hanya orang baru, yang menyelinap diantara keduanya. Aku harus sadar akan hal itu.
Hari sudah sore. Karna kelasku berakhir lebih cepat, aku memutuskan pulang lebih dulu, meninggalkan Rafa yang tengah bermain gitar di taman kampus bersama kekasih dan kawan-kawannya.
Hari sudah malam. Tapi, kenapa Rafa belum juga pulang, apa di menghabiskan waktu dengan kekasihnya? Sudahlah, itu bukan urusanku. Lebih baik aku istirahat saja.
Untungnya, dia memberiku akses keluar masuk apartemen, jadi tidak harus menunggu.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rafansyah dipenuhi keringat. Apa yang sudah ia lakukan? Olahraga?
"Syukurlah kamu udah pulang. Kenapa gak bilang dulu?" ia mengambil handuk sambil mendekat kearah ku. Aku pun duduk kembali dari berbaring.
Jujur saja, aku sangat gugup, apalagi dengan penampilan Rafa yang seperti ini, sangat-sangat...
"Kenapa?" Aku gelagapan untuk menjawab.
"Ak-aku hanya, tidak ingin mengganggu waktumu dengan kekasihmu." Kenapa Rafa malah semakin mendekat.
Rafa duduk disisi ranjang, "Kekasih?" Aku mengangguk sambil memalingkan wajah, karna terlalu dekat, bahkan hembusan nafas kami saling beradu.
Rafa mengapit daguku dengan lembut, "Tatap mataku! Siapa yang bilang aku punya kekasih?"
Tolong! jantungku seperti ingin melompat. "Se-semua orang tau, kalo bunga itu pacar kam..." Nafasku tercekat. Rafa tiba-tiba menyatukan bibir kami sekilas. Hanya kecupan sekilas.
"Dia bukan kekasih! Hanya teman!" wajahnya tiba-tiba merah. Apakah dia marah? Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba dia berdiri, lalu masuk kamar mandi.
Hanya menghabiskan waktu Tujuh menit, kamarmandi kembali terbuka, menebarkan wangi sabun dan sampo. Rafa hanya melilitkan handuk kecil di pinggangnya, air masih membasahi tubuhnya yang terbentuk dengan sempurna.
Aku membeku tidak bisa berkata-kata, karna ia kembali duduk disampingku. "Perlu kamu ketahui!" Rafa menempelkan telapak tanganku di dadanya. "Hanya kamu pemilik hatiku. Tidak ada yang lain!"
Rafa kembali menyatukan bibir kami. Berawal dari lembut, lambat-laun semakin menuntut. Tubuhku terasa panas. Kami saling meraba, dituntun Rafa tentunya.
Rafa mencium kening, pipi, hidung, leher kebawah, semakin bawah, sampai pada dua puncak tubuhku. Nafasku semakin berat namun tak tertahankan. Perasaan apa ini, ini kali pertama bagiku.
Rasanya asing, namun membuatku ketagihan.
Sampai semua itu terjadi. Aku hanya bisa pasrah, dan menikmati setiap sentuhan yang Rafa berikan.
Rafansyah hanya berkata dalam hati "Yumna. Kamu satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku, meski kamu tidak tau. Aku sudah mencintaimu saat pertemuan pertama di SMA. Aku sangat pengecut, karna tidak berani mendekatimu. Namun disaat kesempatan itu datang, aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku mencintaimu Yumna!"
"Ahh! Aku mencintaimu!" di ujung pelepasan itu, akhirnya Rafa berhasil mengatakannya. Meski Yumna sudah terlelap, Rafa masih menatapnya, meneliti setiap inci wajah yang selama ini ia ukir dalam hatinya.
Rafa memeluk Yumna dengan erat. "meski kamu dalam pelukanku, mengapa rasa rindu ini masih menggebu."
Terimakasih sudah mampir🥰🙏🏻🙏🏻
Boleh kasih mangga nya kak😁
Boleh komen juga♥️♥️