Arum selalu percaya bahwa duduk di bangku SMA adalah tentang menunggu.
Menunggu bel masuk. Menunggu jam pulang. Menunggu hidup yang katanya akan lebih masuk akal setelah lulus.
Dan tanpa sadar, ia juga menunggu keberanian.
Di bangku kayu kelas XII IPA 2 yang penuh coretan nama dan tanggal ulang tahun, Arum duduk sambil menyalin catatan Kimia. Tulisan tangannya rapi, meski pikirannya tidak benar-benar di sana.
“Rum.”
Arum menoleh.
Rio berdiri di samping bangkunya, satu tangan menyelip di saku celana abu-abu. Senyumnya setengah, seperti biasa.
“Punya pulpen hitam? Punyaku entah ke mana.”
“Kamu selalu kehilangan barang,” kata Arum sambil menyerahkan pulpennya.
Rio tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya menerima pulpen itu.
Rio memutar pulpen di jarinya, lalu mengetuk meja pelan.
Ujian terakhir UN matematika akhirnya selesai. Ada perasaan lega di dalamnya.
"Nih, pulpenmu aku balikin" ucap Rio.
"Sama kamu aja, simpan. Buat kenang-kenangan"
"Makasih" ucapnya sambil memasukkan pulpen itu kedalam saku tasnya.
“alhirnya Selesai juga.”
“Iya,” jawab Arum. “Aneh rasanya.”
Rio tersenyum kecil. “Harusnya senang, tapi malah kayak… hampa banget.”
“Kayak kehilangan rutinitas,” kata Arum.
"Hm, atau kehilangan orang-orang" balas Rio.
Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Bel pulang berbunyi nyaring. Kelas yang tadinya diam mendadak penuh suara.
“Akhirnya bebas!”
“UN kelar!”
“Besok tidur seharian!”
Rio berdiri, mengalungkan tas ke bahunya. Ia melangkah mendekat ke meja Arum.
“Kamu langsung pulang?” tanyanya.
Arum menggeleng. “Belum tentu. Kenapa?”
Rio menelan ludah. “Ikut aku ke pantai, yuk.”
Arum terkejut. “Pantai?”
"Iya"
"Kita masih pakai seragam sekolah loh, nanti ditangkap Satpol-PP baru tau."
"Mana ada Satpol-PP, kita kan udah pulang. Sesekali kita harus coba pakai seragam jalan-jalan"
“Aku jemput motor dulu,” lanjut Rio.
“Kalau kamu berubah pikiran, bilang.”
Beberapa menit kemudian, Arum berdiri di depan gerbang sekolah, masih ragu. Saat motor Rio berhenti di depannya, ia menarik napas panjang.
“Ayo,” kata Rio. “Sekali ini aja.”
Arum akhirnya naik ke boncengan motor Honda cb100 nya itu.
Sepanjang perjalanan, angin menyibak rok abu-abunya. Arum memegangi tas erat-erat.
“Kalau ketemu guru?” tanyanya.
“Kita pura-pura alumni nyasar,” jawab Rio.
Arum tertawa kecil.
Mereka sampai di sebuah pantai yang cukup sepi. Rio melepas sepatu ketsnya, membiarkan kakinya menyentuh pasir yang masih hangat. Arum mengikuti, menjinjing sepatunya, membiarkan ujung rok abu-abunya sesekali terhempas air laut.
“Indah,” kata Arum.
Rio mengangguk. “Iya.”
“Kenapa ke sini, Yo?” tanya Arum pelan.
Rio berhenti berjalan, menatap cakrawala yang luas. “Aku selalu merasa pantai itu tempat yang jujur, Rum. Laut nggak pernah pura-pura tenang kalau dia lagi badai"
“Rum,” panggil Rio.
“Hm?”
“Aku mau jujur.”
Rio membalikkan badan, menghadap Arum sepenuhnya. “Kita sudah tiga tahun bareng-bareng. Kamu tahu aku orangnya nggak pinter ngerangkai kata kayak pujangga di buku-buku yang sering kamu baca. Tapi hari ini, aku harus bilang.”
Rio menarik napas panjang. Matanya menatap Arum dengan ketulusan yang nyaris melukai.
“Aku sayang sama kamu, Rum. Lebih dari sekadar teman satu kelas yang sering kamu pinjamin catatan. Selama ini, alasan aku semangat berangkat sekolah bukan karena mau ngejar nilai, tapi karena tahu ada kamu di kelas itu.”
Dunia Arum seolah berhenti berputar. Debur ombak mendadak terdengar seperti latar musik yang melankolis.
“Aku nggak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Sungguh,” lanjut Rio cepat, suaranya sedikit bergetar.
“Aku cuma ingin kamu tahu. Aku takut kalau aku nggak bilang sekarang, aku nggak akan punya kesempatan lagi. Mungkin setelah kita lulus nanti, kita akan sibuk dengan kuliah masing-masing, di kota yang berbeda, dan kita tidak akan bertemu lagi. Aku nggak mau hidup dalam penyesalan karena memendam ini sendirian.”
Arum terdiam cukup lama. Ada kehangatan yang menjalar di dadanya, tapi juga ada ketakutan yang belum ia mengerti. Ia menatap Rio, melihat laki-laki yang selalu ada untuknya, yang selalu memberikan cokelat diam-diam saat Arum sedang sedih.
“Yo…” Arum berbisik. “Beri aku waktu, ya? Aku janji akan jawab semuanya di hari kelulusan nanti.
Rio tersenyum lebar. Bukan senyum kecewa, melainkan senyum lega. “Oke. Aku pegang janji kamu, ya? Hari kelulusan. Apapun jawabannya, aku bakal terima.”
Sore itu mereka habiskan dengan bercanda, seolah-olah masa depan adalah sesuatu yang sangat jauh dan pasti indah. Rio mengantar Arum pulang sampai depan gerbang rumahnya.
“Hati-hati ya, Yo. Jangan ngebut,” pesan Arum sebelum turun dari motor.
“Siap, Tuan Putri. Sampai ketemu di pengumuman lulus nanti!” Rio melambaikan tangan, lalu memacu motornya pergi. Arum menatap punggung itu sampai hilang di tikungan jalan, tanpa tahu bahwa itu adalah lambaian terakhir yang ia lihat.
Malam itu, Arum duduk di meja belajarnya. Ia memegang sebuah kartu ucapan kecil yang rencananya akan ia berikan pada Rio di hari kelulusan nanti. Di dalamnya tertulis: “Aku juga punya perasaan yang sama, Yo. Mari kita mulai perjalanan baru setelah ini.”
Arum tersenyum sendiri membayangkannya. Sampai tiba-tiba, ponselnya bergetar tanpa henti.
Grup WhatsApp kelas "XII-IPA 2" meledak dengan notifikasi. Arum membukanya dengan perasaan tidak enak.
Bimo: Guys, ada kabar duka. Barusan dapet info, Rio kecelakaan di jalan lingkar.
Siska: Serius Bim? Jangan bercanda!
Bimo: Tadi ada temen kakaknya yang kabarin. Motornya ditabrak lari. Rio... Rio nggak bisa diselamatkan di tempat.
Ponsel di tangan Arum terjatuh ke lantai. Bunyi braakk itu seolah menandakan dunianya yang juga ikut hancur. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mendadak dingin.
"Nggak mungkin. Rio tadi baru aja anter aku pulang," bisiknya pada kegelapan kamar.
Ia mencoba menelepon nomor Rio. Berulang kali. Hanya nada sambung yang tidak terjawab, hingga akhirnya operator mengatakan nomor tersebut tidak aktif. Arum menangis sejadi-jadinya malam itu. Kenyataan menghantamnya lebih keras dari ombak manapun di dunia.
******
Hari kelulusan tiba. Semua siswa bersorak, mencoret-coret seragam dengan pilox, berpelukan penuh tawa. Namun Arum berdiri di pojok lapangan dengan seragam yang masih bersih. Di tangannya, ia menggenggam surat yang tidak akan pernah sampai ke alamatnya.
Ia melihat ke bangku kosong di kelasnya. Di sana, teman-temannya meletakkan setangkai bunga mawar putih.
Rio benar. Mereka tidak akan bertemu lagi. Bukan karena jarak kota yang berbeda, bukan karena kesibukan kuliah, tapi karena semesta telah menarik garis tegas yang tak bisa dilalui oleh manusia.
Arum teringat kata-kata Rio di pantai: "Aku cuma ingin kamu tahu. Aku takut kalau aku nggak bilang sekarang, aku nggak akan punya kesempatan lagi."
Kini ia mengerti. Rio tidak sedang meramal masa depan, ia hanya sedang menuntaskan rindu sebelum waktunya habis. Sementara Arum? Ia harus belajar hidup dengan sebuah jawaban yang terlambat disampaikan.
"Beberapa hal dalam hidup memang diciptakan hanya untuk menjadi kenangan. Kita seringkali menunda mengatakan sayang, padahal kita tidak pernah tahu kapan waktu akan mencuri seseorang dari pelukan kita. Mencintaimu adalah bagian terindah dalam masa sekolahku, dan kehilanganmu adalah pelajaran tersulit yang harus kupelajari selamanya."
Arum menatap langit biru di atas sekolah mereka. "Aku juga sayang kamu, Yo. Jawaban itu... sekarang aku simpan di dalam doa."
Karena pada akhirnya......
Kita tidak bisa memilih seberapa lama seseorang tinggal, tapi kita bisa memilih bagaimana mencintai mereka selagi masih ada, dan bagaimana melanjutkan hidup saat mereka telah pergi.