Di sebuah kota kecil yang selalu berbau kopi dan hujan, musim gugur datang seperti rahasia yang dibisikkan pelan-pelan. Daun-daun maple jatuh berwarna tembaga, menari di udara sebelum menyentuh trotoar, seolah mengingatkan bahwa segala yang indah memang diciptakan untuk berubah. namun tak pernah benar-benar pergi.
Di sanalah Aira bekerja, di sebuah kedai buku tua yang rak-raknya penuh cerita cinta yang belum pernah usai. Setiap sore, ia duduk di dekat jendela besar, menuliskan kutipan-kutipan kecil di kartu pos, lalu menyelipkannya di antara halaman buku yang dibeli pelanggan. “Untuk siapa pun yang menemukan ini,” tulisnya, “semoga hatimu selalu hangat.”
Ia pun tersenyum setiap melihat goresan kata kecil itu.
Suatu hari, ketika hujan turun seperti tirai tipis, seorang pria bernama Senja masuk ke kedai itu. Mantelnya sedikit basah, rambutnya beraroma angin dan dedaunan. Ia tidak mencari buku tertentu . Ia hanya ingin bersembunyi dari dingin udara luar sana. Namun saat matanya bertemu dengan mata Aira, sesuatu yang lembut dan tak terucap jatuh di antara mereka, seperti daun pertama di awal musim gugur.
“Aku percaya buku bisa memilih pembacanya,” kata Aira sambil tersenyum, menyerahkan sebuah novel tua dengan sampul cokelat. Senja menerimanya, dan di halaman pertama ia menemukan kartu pos kecil bertuliskan tangan Aira. Ia membacanya perlahan, lalu menatap Aira seolah menemukan kalimat yang selama ini hilang dari hidupnya.
Hari-hari berikutnya, Senja sering datang. Mereka berbincang tentang puisi, tentang hujan, tentang bagaimana daun gugur tak pernah takut jatuh karena percaya akan menemukan tanah yang tepat. Setiap tawa mereka terdengar seperti lonceng kecil yang bergetar hangat di udara dingin.
Suatu senja, di bawah langit jingga, Senja berkata, “Mungkin aku datang ke sini bukan karena buku… tapi karena kamu.” Aira terdiam, lalu tersenyum, matanya berkilau seperti cahaya matahari yang menembus dedaunan.
Musim gugur terus berjalan, daun-daun semakin menipis di pohon, namun di antara Aira dan Senja, sesuatu justru tumbuh sebuah cinta yang sederhana, hangat, dan setia, seperti secangkir kopi di hari hujan.
Dan seperti musim gugur yang selalu mengajarkan bahwa keindahan bisa ditemukan dalam perpisahan dan perubahan, cinta mereka pun berjanji: meski waktu berlalu dan daun berguguran, hati mereka akan selalu menemukan jalan untuk kembali satu sama lain. 🍁