Sarah kini bekerja sebagai apoteker di sebuah klinik di pinggir kota. Kehidupan yang ia jalani sederhana, tetapi penuh dengan luka yang tak terlihat. Sebenarnya ia memiliki kemampuan unik yang dinamai “thou shalt not die” Namun, dunia tak pernah sepenuhnya memahami keajaiban ini, yang membuatnya dipaksa memasuki medan perang di usia muda, Di masa perang, ia dijuluki sebagai Malaikat maut, karena membawa penderitaan yang panjang bagi mereka yang telah putus asa. Karena itu ia selalu berusaha untuk melupakan semua yang terjadi selama perang tersebut.
Di klinik, rekan kerjanya sering bercanda memanggilnya "Malaikat maut." Mereka tak tahu makna sebenarnya dari julukan itu, hanya mengikuti cerita yang didengar dari seorang pasien tua militer beberapa tahun lalu. Satu hal yang mereka tahu tentang Sarah hanyalah fakta bahwa ia pernah memasuki medan perang, tanpa tahu hal lain.
Sarah tak pernah membantah, hanya tersenyum tipis setiap kali julukan itu dilontarkan. Yang pasti, ia telah bertekad untuk tidak lagi menggunakan kekuatannya. Trauma dari masa lalu membuatnya menghindari pasien kritis, menyerahkan mereka kepada pihak medis lain dengan alasan sederhana: “Aku hanya apoteker.”
Di suatu malam, pintu klinik digedor dengan panik. Ketika Sarah membukanya, seorang pria tergeletak di depan pintu, tubuhnya bersimbah darah.
“Bawa dia ke rumah sakit!” perintah Sarah pada rekan-rekannya. Namun, sebelum mereka sempat bertindak, pria itu membuka matanya sedikit dan berkata dengan suara lemah, “Tolong... selamatkan aku, Malaikat maut. Aku tahu kekuatanmu.” Sarah membeku. Mata pria itu penuh kesakitan, tetapi di baliknya tersirat pengetahuan yang mengerikan. Bagaimana dia tahu? Pikirnya. Selama ini, hanya orang- orang dari militer yang tahu arti sebenarnya dari julukan itu.
Sebenarnya ia menyadari bahwa waktu pria ini hampir habis dan detak jantungnya mulai melemah. Dengan tangan gemetar, Sarah berlutut di sampingnya. “Ini terakhir kalinya,” gumamnya pada diri sendiri, sebelum kekuatan thou shalt not die mengalir dari tubuhnya, mengembalikan pria itu dari ambang maut.
Kilasan Masa Lalu
Seketika itu Bayangan medan perang kembali menghantam dirinya. Dimasa lalu Ia dipaksa mengikuti medan perang sebagai dokter militer, karena Kekuatan “thou shalt not die” (Kamu tidak akan mati) miliknya, kekuatan yang memungkinkannya menyelamatkan siapa pun dari ambang kematian.
Ia teringat para prajurit yang berulang kali ia selamatkan. Mereka memanggilnya “Malaikat Penyelamat” pada awalnya, tetapi lambat laun, julukan itu berubah menjadi “Malaikat maut.” Bukan karena ia membawa maut atau kematian, melainkan karena ia memaksa para prajurit hidup dalam neraka tanpa akhir.
Ia dipaksa menggunakan kemampuannya untuk memperpanjang penderitaan para prajurit yang seharusnya telah pergi menuju kedamaian abadi. Setiap hari, Sarah menyaksikan prajurit-prajurit yang telah kehilangan harapan. Mereka tidak lagi ingin hidup, namun kemampuannya selalu memaksa mereka kembali ke medan pertempuran.
Salah satu dari mereka adalah seorang pemuda ramah yang menghadiahkan nya kalung besi penuh goresan serta yang memberi kan julukan “malaikat penyelamat” pada nya. Dia berkali-kali diselamatkan oleh Sarah, namun setiap kali ia diselamatkan, lambat laun rasa syukur pemuda tersebut berubah menjadi penderitaan dan pada akhirnya memohon: “Biarkan aku mati.”
Hingga suatu hari, pemuda itu bunuh diri di hadapannya, meninggalkan surat terakhir yang tak pernah bisa Sarah baca tanpa menangis. Dalam surat tersebut, pemuda itu tetap memanggilnya “Malaikat Penyelamat,” meskipun ia tahu bahwa ia adalah alasan penderitaan pemuda itu.
Kembali ke Masa Kini
Ketika pria itu sadar, Sarah duduk di sudut ruangan, gemetar dengan wajah basah oleh air mata. Pria itu menatapnya dengan lembut. “Terima kasih telah menyelamatkanku, Malaikat maut, ah tidak maksudku malaikat penyelamat.”
“Berhenti memanggilku seperti itu!” Sarah berteriak. “Kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang kusembuhkan? Mereka ingin mati, tapi aku memaksa mereka hidup dalam penderitaan! Aku sumber neraka mereka!”
Pria itu menunduk, lalu berkata pelan, “Aku tahu.”
Sarah menatapnya dengan kaget. Pria itu melanjutkan, “Akulah adik dari prajurit yang kau selamatkan berkali-kali. Yang memberikan julukan itu untukmu-Malaikat penyelamat dan Malaikat maut, dia bunuh diri karenamu dan Aku membencimu pada awalnya. Tapi aku juga tahu kebenarannya., semasa perang Dia selalu menulis surat untukku, ia selalu membahas dirimu di surat itu, ia menulis bahwa tanpamu aku tak akan pernah mendapat surat itu bahkan pada surat pertama , tanpamu aku tak akan punya kebahagiaan dan kenangan terakhir dengannya.”
Sarah memotong, “Dia menderita dan bunuh diri karenaku aku lah malaikat mautnya!”
Pria itu mengangguk. “Dia memang menderita. Tapi dia juga bertahan lebih lama karena dirimu, cukup lama untuk menulis pesan-pesan penuh cinta padaku. Pesan itu membuatku bertahan setelah dia pergi. Itulah warisanmu sebagai Malaikat Penyelamat. Dan surat terakhirnya? ia memintaku mencari seorang wanita dengan kalung besi penuh goresan dan julukan malaikat maut, Dia ingin berterima kasih atas segalanya., aku mengerti bahwa kakakku pasti tidak berpamitan dengan baik padamu”
Air mata Sarah mengalir deras. “Bagaimana Dia bisa percaya bahwa aku akan tetap memakai kalung ini?” tanyanya sambil menggenggam kalung yang sudah tua itu.
Pria itu tersenyum. “aku juga bingung, itu hampir tidak dapat dipercaya, tetapi aku yakin di balik semuanya, kakakku tahu kau tak akan pernah benar- benar ingin berhenti menyelamatkan orang, meski di akhir hidup nya dia mulai memandang mu sebagai malaikat maut, kuyakin dihatinya yang terdalam Kau masihlah Malaikat Penyelamat bagi nya.”
Senyum tipis mengiringi tangis Sarah. “betapa bodohnya aku ini, tentu saja aku akan terus memakai kalung ini karena semua goresan kecil yang memenuhi permukaannya adalah jumlah berapa kali ia telah kuselamatkan, ia memberikannya dengan bahagia padaku, berkat kalung ini aku selalu bersyukur dengan kemampuan yang kumiliki.”
Pria itu tersenyum sambil menjatuhkan air mata “kau harus tahu bahwa Kekuatanmu adalah anugerah, Sarah. Aku tahu kau takut, tapi aku yang sudah kau selamatkan adalah bukti bahwa kekuatanmu bisa membawa kehidupan, bukan hanya penderitaan. Karena kau adalah malaikat penyelamat bagi mereka yang membutuhkan.”
Sarah tertawa bahagia setelah mengusap air matanya “sikapmu ini benar benar sama persis dengan yang ia cerita kan, akhirnya Aku mengingatnya lagi, padahal dia selalu membicarakanmu tiap kali kami bercerita tapi aku malah membuang dan melupakan semua ingatan itu bersama dengan masa laluku, sekarang aku mengingat semuanya!, aku bersyukur!, aku sungguh berterima kasih padamu Juan dan juga kakakmu Arya yang telah membagi kebahagiaan bersamaku.”
Sambil mendengar Sarah, Juan tertawa sambil tersenyum lebar. “apa apaan itu kau mengetahui namaku ya?!, dan tentu saja, Dengan senang hati!”
Epilog:
Keesokan harinya, Juan yang telah diselamatkan Sarah bertemu dengan seorang pria tua, mantan anggota militer bernama Tankin. “Akhirnya aku menemukannya lagi, Kakek Tankin!” seru Juan.
“Jadi, apa kau sudah menyampaikan permintaan kakakmu itu pada Sarah?” Balas kakek tankin
“Tentu saja,” jawab Juan . “Aku bahkan membuat diriku sekarat didepan klinik nya agar dia tak bisa menghindar.”
Tankin tertawa kecil. “dasar, Kau ini memang mirip kakakmu, selalu saja melakukan hal-hal gila.”
Juan tersenyum, “Baiklah, kuakui itu tindakan yang nekat. Tapi apa maksudmu dengan hal gila dari kakakku?”
Tankin menghela napas panjang sebelum menjelaskan. “sebenarnya masih ada lanjutan cerita tentang kakakmu itu, Aku adalah seniornya sekaligus salah satu prajurit yang selamat karena dia. Memang benar dia menderita, tetapi ada alasan besar di balik keputusannya mengakhiri hidupnya. Itu untuk memberi sinyal tersirat pada atasan militer bahwa para prajurit sudah putus asa. Ia tahu kematiannya dengan cara bunuh diri itu akan memaksa mereka menarik pasukan dari peperangan dan menyelamatkan kami semua, termasuk Sarah.”
Tankin melanjutkan, “Sebelum bunuh diri, dia memintaku menyebarkan julukan ‘Malaikat Maut’ untuk Sarah kepada para prajurit, yang membuat Sarah berada di bawah tekanan yang membuat emosi Sarah tak stabil, begitu juga dengan kemampuannya. , ini dilakukan agar atasan sadar bahwa kekuatan Sarah tak lagi bisa mereka manfaatkan. Dan Itu berhasil. Setelah kematiannya, mereka menarik semua pasukan karena dua alasan utama yaitu untuk mencegah para prajurit melakukan bunuh diri dan kemampuan Sarah yang tak dapat dimanfaatkan, sesuai dengan rencananya. Kakakmu mengorbankan dirinya demi kami dan juga demi membebaskan Sarah dari perbudakan militer.”
Juan terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. “aku tak pernah tahu hal ini, pikiranku selalu mengira ia telah menyerah namun hatiku selalu menolaknya dan tak ingin ia pergi dengan cara itu, tapi sekarang aku mengetahuinya , Ia selalu punya rencana dan selalu saja ingin menyelamatkan orang lain bahkan dengan nyawanya sendiri”.
Tankin tersenyum tipis. “Ia tahu itu sulit diterima, tapi ia mempercayaimu untuk menyampaikan terima kasih kepada Sarah. Dia merasa tak pantas melakukannya sendiri karena menyadari julukan itu merusak mental Sarah.”
Juan yang menyeka air matanya lalu bertanya, “Tapi kenapa dia tetap menyuruhku mencarinya dengan julukan Malaikat Maut, bukan Malaikat Penyelamat? Dan yang terpenting kenapa baru memberitahu semuanya sekarang?”
“Karena itulah nama yang akan diingat banyak orang,” jawab Tankin. “Hanya prajurit yang pernah dia selamatkan tahu arti sebenarnya di balik julukan itu. Dan surat terakhirnya untukku juga memintaku menyebarkan cerita itu di mana pun Sarah berada. Itu sebabnya, ketika aku melihatnya di klinik, aku mulai menyebar kisah itu kepada siapa saja, berharap seseorang sepertimu akan menemukannya, tapi takdir malah membuatmu menemukanku terlebih dahulu dan aku memberitahukanmu lokasi kliniknya. Untuk pertanyaan mu yang kedua jujur saja Aku juga tak tahu tapi, mungkin Dia ingin membuat Sarah berdamai dengan masa lalunya alih alih melupakan nya. Lagipula dengan sikapmu yang optimis dan nekat itu, ia yakin kau dapat merubah persepsinya terhadap julukan malaikat maut itu.”
Juan mengangguk, sambil tersenyum. “Aku mengerti. Tapi aku sedikit terkejut ternyata kakek juga mendapatkan surat terakhirnya , yang pasti Kakakku selalu punya alasan yang baik dibalik semuanya”
Sambil tertawa kecil kakek Tankin berbisik “Dasar kau telah memberikan kami ber tiga isi pesan yang berbeda beda sesuai dengan rencana mu, kau terlalu sulit untuk kupahami, Arya.!”
Di tempat lain, teman-teman klinik Sarah berkumpul, membicarakan insiden malam sebelumnya. Salah satu dari mereka berkata, “Pasien itu mengingatkanku pada cerita seorang tentara tua yang pernah dirawat di sini. Dia bilang, ‘Jika kalian bertemu Malaikat Maut di klinik ini, kalian pasti selamat.’”
Sarah mendengar percakapan itu dan Ia baru sadar bahwa tentara tua yang menyebarkan julukan itu adalah salah satu prajurit yang pernah ia rawat di medan perang.
Ia memandang kalung penuh goresan itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku selalu mencoba melupakan perang itu,” bisiknya dalam hati. “Aku melupakan semua nama, wajah, bahkan alasan kenapa aku terus memakai kalung ini. Tapi tanpa sadar, aku juga melupakan kenangan baik yang menyertainya. Kini, aku ingat semuanya.”
Dengan senyuman kecil, ia melanjutkan, “Aku tak akan lagi menganggap kekuatan ini sebagai kutukan. Aku akan mencoba menerimanya sebagai anugerah.”
Bagi Sarah , hari itu menjadi awal baru. Ia tak lagi hidup untuk melupakan masa lalu, tetapi untuk berdamai dengannya dan melangkah maju.